"Lo bisa nyanyi apa nggak, sih?"
Pertanyaan itu keluar dari mulut Dami. Keduanya berdiri saling berhadapan dengan tangan yang bersedekap. Alenta menarik napas berusaha tenang menghadapi Dami yang... menyebalkan.
Siapa yang tidak sebal? Selama proses rekaman berlangsung, Dami terus mengkritik suaranya, cara bernyanyinya. Kurang ini, tidak pas di bagian itu, katanya di ujung terdengar fals. Dan alhasil, Alenta harus mengulang terus dan terus hingga hampir menyerah.
"Gue udah nyanyi sesuai lagu yang lo tulis. Tapi emamh dasarnya lo benci sama gue, ya nggak akan ada benernya gue di mata lo."
Seperdetik, Dami merapatkan bibir dengan kelima jari yang dikepalkan. Alenta mengatakannya ceplas-ceplos namun tetap tampak tenang. Tidak mengotot atau melotot seperti kebanyakan orang yang marah.
Alenta dan Dami ngobrol berdua di sebuah lorong yang sepi. Mereka masih berada di tempat studio rekaman. Tiara pergi mengangkat telepon. Dan tidak jauh dari tempat mereka bicara, Rivano menunggu Alenta. Selama Dami tidak melakukan tindak kekerasan, Rivano tidak ingin ikut campur kalau pada akhirnya hanya membuat Alenta kesal lagi padanya.
Akhir-akhir ini Alenta bersikap sedikit lebih baik. Walau perempuan itu tidak pernah mengajaknya bicara selain hal penting, paling tidak, Alenta sudah tidak pernah menatapnya sinis lagi.
"Gue benci sama lo?" Dami membalikkan pertanyaan pada Alenta.
"Iya." Alenta menjawab penuh yakin.
Dami tertawa mendengkus. Sebelah tangannya terarah ke udara kemudian berhenti ke kepalanya. "Atas dasar apa lo bilang gue benci sama lo? Gue minta lo ngulang selama rekaman karena suara lo emang nggak enak didenger! Lo mau ngerusak lagu gue, hah?!"
"Woah," dengkus Alenta, meletakkan sebelah tangannya ke pinggang.
Suasana berubah lebih tegang. Dami masih bertanya atas dasar apa Alenta mengklaim bahwa lelaki itu tidak menyukainya? Bahkan membenci Alenta? Jika Alenta mengurutkan semua sikap buruk Dami kepadanya, apa Dami mau mengakui? Atau nantinya akan mengelak lagi?
Berapa kali Dami mengganggu Alenta, sih? Dimulai dari menyuruh Alenta masak ini-itu. Sudah begitu, Dami mencibir masakannya. Katanya, keasinan, rasanya hambar, lalu diminta masak lagi menu yang sama, tapi berakhir diusir dari apartemen lelaki itu!
Terakhir. Bahkan ini baru kejadian kemarin. Dami tahu-tahu menelpon dan memintanya pergi ke apartemen. Alenta sampai harus lari ke sana kemari selepas syuting. Ketika sampai di sana, Dami ditemukan mabuk berat dalam keadaan semua perabotannya berantakan di lantai.
Itu semua belum seberapa. Belum dihitung setiap kali Dami membentak, bahkan mengatainya sebagai pembawa sial.
"Jujur sama gue," ujar Alenta menjilat bawah bibirnya. "Lo sengaja ngasih lagu ini ke gue, karena berniat ngerjain gue, kan?"
Alenta bisa membaca isi kepala Dami, eh?
Ya. Jika Dami boleh mengakatan jujur, Dami sengaja memberikan lagu buatannya untuk membuat Alenta mengalami kesulitan. Contohnya seperti tadi. Baru proses rekaman sudah dibuat naik darah! Ada saja salah Alenta di mata Dami. Atau, Alenta mengambil napas bisa jadi membuat kesalahan fatal, ya?
"Bener dugaan gue, kan?" tanya Alenta menunjuk Dami.
Dami menepis tangan Alenta. Raut wajah yang sebelumnya tampak puas sudah membuat perempuan itu kesal, kini, berubah memberengut sebal.
Rivano dengan sigap menghampiri Alenta. Ia hendak mendekati Dami, namun Alenta menahan langkah Rivano kemudian menggelengkan kepala sebagai isyarat untuk berhenti.
"Sampai hari ini gue nggak tahu gue salah apa sama lo." Alenta bersedekap lagi. "Kalau pun ada salah gue ke lo, sebesar apa sih? Kenapa lo ganggu hidup gue sebegitunya?"
"Nggak usah ngaco," sela Dami, tenang.
"Gue nggak ngaco," balas Alenta. "Gue berasumsi begini karena lihat dari sikap lo ke gue."
Alenta memberi jeda selama lima detik penuh. Menunggu respons Dami setelah ini. Dami tidak membela diri, tidak marah seperti biasanya. Apa? Dami memang benar membencinya. Jika iya, apa salah Alenta? Mereka baru dipertemukan pada acara musik waktu lalu. Ya, di hari yang sama saat Alenta hampir ditusuk orang asing. Atau, mereka pernah bertemu sebelumnya? Hm... tidak. Ia dan Dami pernah bersekolah di tempat yang sama. Namun saat Alenta masuk ke sekolah itu, Dami sudah keluar karena alasan yang tidak pernah diketahui siapa pun. Otomatis ia dan Dami tidak pernah mengenal satu sama lain. Bahkan, Alenta baru tahu kalau Dami pernah sekolah di sekolahannya dulu.
"Len!" seru Tiara, muncul di tengah ketegangan.
Suara yang keluar dari ujung heels Tiara terdengar nyaring. Alenta pura-pura tidak terjadi apa-apa antara Dami. Seolah beberapa menit lalu mereka tidak berdebat dan saling melempar pertanyaan sengit.
"Udah selesai angkat telepon? Dari siapa?" tanya Alenta basa-basi.
Benda persegi itu dimasukkan ke dalam tas yang tersampir di bahu kanan Tiara. "Dari nyokap."
"Oh," gumam Alenta.
Tiara mengangkat dagu, menyadari bahwa Dami ada di dekat Alenta. "Kalian ngapain di sini? Ngobrolin apa?"
Karena lelaki itu Dami, Tiara berhak khawatir. Selain Alenta itu artisnya. Orang yang harus ia jaga, tentunya. Tiara menyarankan agar jangan ada yang dekat-dekat dengan orang seperti Dami. Wajahnya saja yang tampan, kelakuannya mirip seperti setan!
"Ayo kita balik," ajak Tiara, melengos setelah menatap Dami. "Lo ada jadwal syuting sejam lagi."
"Oh, oke." Alenta mengangguk, menurut.
Kini, tatapan Tiara berpindah ke Dami, menanyai lelaki itu malas. "Lo udah nggak ada keperluan sama Alenta, kan? Kita mau buru-buru pergi."
"Hm," gumam Dami tanpa ekspresi.
Kedua perempuan itu pergi meninggalkan tempat rekaman. Perbedatan di antara Alenta dan Dami berhenti begitu saja karena kemunculan Tiara yang mendadak. Alenta melirik Rivano di belakang secara sepintas. Tatapan matanya seolah mengatakan, "Jangan bilang apa-apa sama Tiara." Beruntung Rivano cepat memahami maksud tatapan Alenta.
"Dami ngomong apa sama lo tadi?" tanya Tiara di sela langkah mereka keluar tempat rekaman.
"Hm," gumam Alenta agak terkejut. "Nggak ada. Dia cuma ngasih arahan kalau ada rekaman lagu lagi."
"Bener?" Tiara menengok. Tatapannya tampak curiga.
"Iya. Lo tanya aja sama Vano," ujar Alenta menengok ke belakang.
Tiara ikut menengok. "Oke. Kalau Vano diem aja. Gue percaya sama dia."
Mulut Rivano rasanya gatal ingin memberitahu Tiara yang sebenarnya terjadi. Dami tidak akan sebaik itu memberi arahan. Apalagi orangnya adalah Alenta. Coba pikir lagi, kapan Dami pernah bersikap baik pada Alenta? Tentu saja tidak pernah. Itu cuma alasan Alenta saja untuk melindungi Dami.
Rivano memerhatikan Alenta dari kaca spion atas yang menggantung. Alenta duduk di kursi belakang sambil menyandarkan kepalanya. Sepertinya, Alenta kelelahan karena proses rekaman tadi. Walau Rivano hanya menunggu di depan pintu, tetapi ia mendengar seluruh perdebatan antara Alenta dan Dami tadi.
Jadi, hubungan macam apa yang kedua orang itu jalani?
***
Tentang siapa pembuat lagu baru Alenta, kini sudah diketahui. Sebelumnya banyak menduga bahwa orangnya adalah Anjas, Vokalis Star Band yang mendapat julukan si jenius dalam bermusik. Semula sangat dirahasiakan. Hanya menyisakan satu petunjuk. Bahwa si pembuat lagu adalah seorang vokalis band terkenal. Dan ya, baik Missing You dan Star Band, keduanya memiliki nama yang sama besarnya di dunia permusikan.
Setelah tahu kalau orang itu adalah Dami, teman mereka, Raka dan Adam langsung menyerbu Dami dengan banyaknya panggilan telepon sampai meneror Dami lewat chat grup.
Seperti Jailakung, Raka datang ke apartemen Dami tanpa diundang, tidak juga dijemput. Raka datang ke apartemen Dami bersama dua anggota Missing You, Adam dan Abra.
"Gue lagi nggak terima tamu," ujar Dami hendak menutup pintu.
Raka menahan pintu menggunakan sebelah kakinya. Ia menjegal pintunya, sementara Adam susah payah mendorong dari depan. Abra yang di belakang cuma menonton kedua rekannya memaksa masuk ke dalam padahal si tuan rumah tidak mengizinkan.
"Lo jangan diem aja, TUKIMIN!" seru Raka menolehkan kepalanya.
"Dua lawan satu," balas Abra menunjuk ke pintu. "Kalau gue ikutan maksa masuk dengan dorong-dorong pintu saat Bang Dami sendiri, gue berasa bukan laki."
Adam langsung menarik tangannya. Kata-kata Abra berhasil meracuni otak si bontot. "Lepas aja, Bang Raka! Secara nggak langsung, Bang Abra bilang kita bukan cowok kalau ngelawan Bang Dami yang sendirian!"
Raka hampir mengumpat. "b**o banget lo, anjir," makinya, masih menjegal pintu. "Cuma akal-akalan si Abrakadabra doang itu!"
Biar Dami cuma sendiri, tapi tenaganya cukup kuat menahan dorongan pintu dari dua orang—Raka dan Adam. Dami menahan pintu dengak gerak tenang, sementara Raka dan Adam bak orang susah buang air besar.
"Ngalah kenapa sih, lo, Dam! Kita ke sini bukan buat mau ngerampok isi apartemen lo," seru Raka sambil marah-marah.
Dami menatap Raka sebentar. Lalu.... bruk!
"Sialan! Dami, bangke!" umpat Raka.
Yang dilakukan Dami justru melepas pintu kala Raka masih berusaha mendorong pintu agar bisa masuk. Otomatis Raka tidak sengaja terdorong ke dalam ketika Dami melepaskan pintu. Alhasil Raka jatuh tengkurap di lantai apartemen yang dingin.
"HAHAHA, ANJIR," tawa Adam membludak keras.
Definisi teman yang sesungguhnya. Ditertawakan dulu, baru dibantu berdiri. Itu pun Abra yang membantu Raka, baru Adam ikut bergerak membantu Raka berdiri dari lantai.
Raka misuh-misuh sendiri. Lebih tepatnya mengutuk Dami juga Adam. Sudah tahu Raka jatuh karena ulah Dami, mana ada Dami meminta maaf padanya. Yang ada cuma menatapnya datar, lantas pergi ke dalam lalu duduk di sofa memainkan ponsel di tangan.
"Ck." Abra mendecakkan lidah. Heran saja ada orang seperti Dami.
"Tanggungjawab lo, anjing!" tunjuk Raka pada Dami.
Dami merogoh saku celananya dengan satu tangan. Ia mengeluarkan dompet lalu melempar ke Raka. "Ambil aja sendiri."
Raka menangkap dompet Dami dengan tepat. Adam bertepuk tangan, ia merasa takjub pada Dami. Woah, orang kaya memang beda, ya?
"Kalau uang, gue juga punya ya, setan!" maki Raka. Tapi pada akhirnya ia mengambil salah satu kartu Dami.
Abra menepuk bahu Adam, seolah mengingatkan tidak perlu heran dengan tingkah absurd Raka yang kadang-kadang tidak bisa mereka tebak. Mulutnya mencibir, tapi masih saja diterima.
"Lumayan, gue bisa makan gratis, bisa buat biaya sekolah adek kembar gue," ucap Raka mencium kartu milik Dami.
"Oalah," desah Adam mulai lelah. "Gue jadi adek lo, buru-buru coret KK di rumah, Bang. Atau cari jasa tukar tambah anggota keluarga aja," gerutunya.
"Sembarangan!" seru Raka menepuk pipi Adam menggunakan kartu Dami. "Lo nggak tahu aja seberapa bangganya mereka punya Abang kayak gue!"
"Udah, Dam," ujar Abra menepuk bahu Adam sekali lagi. "Ada baiknya lo ngalah sama orang kurang waras. Lumayan, lo dapet pahala."
"Sialan, lo, ABRAKADABRA!" balas Raka tidak terima.
Adam tahu-tahu nyeletuk, "Nama lo banyak amat, Bang. Tadi dipanggil Tukimin. Sekarang Abrakadabra."
"Woah," desah Abra mengambil tempat duduk di samping Dami. "Bang, gue gabung duduk sama lo aja. Udah nggak tahan bergaul sama mahluk kayak mereka."
Dami menatap Abra sepintas. "Gue lebih suka sendiri."
Raka terbahak. Ia meletakkan sebelah tangannya ke bahu Adam. "KITA KETAWAIN JANGAN, DAM?! HAHAHA!"
"YOK, TERTAWALAH SEBELUM TERTAWA DILARANG NEGARA!" sambung Adam.
"DIEM LO, BANGKE!" Abra sebal, ia melempar sepatunya ke dua anggota Missing You yang dikenal kurang waras.