"Udah semua, kan?" tanya Tiara.
Sebelum turun dari mobil, Alenta memeriksa isi tasnya. "Hmm, udah semua kayaknya."
Tiara mendorong pintu mobil lalu keluar lebih dulu. "Ya udah, kita langsung masuk aja. Nggak enak sama yang lain kalau kelamaan nunggu."
Rivano bergerak cepat membukakan pintu untuk Alenta, padahal Alenta tidak mewajibkan agar lelaki itu selalu membukakan pintu mobil setiap ia akan keluar.
Jadwal Alenta sungguh padat. Selain sedang mempersiapkan sebuah single terbaru, ya, lagu yang dibuat oleh Dami kemarin. Alenta juga tengah disibukkan jadwal syuting sebuah film. Ini akan menjadi debut pertamanya.
Jangan tanya bagaimana Tiara berhasil membujuk si artis. Mulanya Alenta menolak dengan alasan ingin fokus menyanyi saja. Membayangkan harus berada di tempat lokasi yang pindah ke sana ke sini. Belum lagi cuaca yang sedang tidak terlalu bagus. Dan, yang paling membuat Alenta berpikir berulang kali adalah menghafal dialog! Astaga, Alenta beberapa kali lupa lirik lagu saja harus mengulang. Apalagi kalau itu dialog! Tapi entah kenapa, karena bujuk rayu dan mulut manis Tiara, Alenta jadi mengiakan. Ia pikir, ia mau mencoba sesuatu yang baru selain bernyanyi. Lagi pula... Alenta ingin lebih menyibukkan diri agar lupa.
Ya, melupakan rasa sakitnya setelah kehilangan Fano.
Rivano mengamati kedua perempuan di depannya. Tiara dan Alenta berjalan beriringan. Tiara sibuk memeriksa sesuatu di ponselnya sesekali memberitahu Alenta ke mana, di mana, dan jam berapa perempuan itu harus pergi syuting.
"Karena ini pertama kali lo akting, wajar kalau gugup sih." Mereka sampai di depan lift. Tiara mencondongkan badannya ketika satu jarinya hendak menggapai tombol lift. "Lagi pula peran lo masih peran kecil, kok, Len. Nggak yang harus nguras otak sama tenaga."
Alenta manggut-manggut mendengar cerocosan Tiara. Manajernya bisa bilang begitu karena tidak ikut berakting. Tiara hanya akan menemani dan menunggunya hingga syuting usai. Sisanya, ya, Alenta sendiri yang berusaha. Kalau pun ada salah dalam pengucapan atau sebagainya selama syuting, ya tetap Alenta yang akan dimarahi sutradara!
Ting!
Suara denting lift berbunyi nyaring. Pintu lift terbuka sedikit semi sedikit. Tiara menarik tangan Alenta masuk ke dalam. Di sana hanya ada mereka bertiga. Alenta, Tiara dan Rivano yang memilih diam sejak tadi.
"Tunggu!" seru seseorang dari kejauhan.
Perempuan bertubuh langsing bergaun merah menyala itu melambaikan tangan. Alenta yang melihat ada orang yang butuh pertolongan untuk membuka pintu lift, ia segera menekan tombol, menunggu sampai perempuan itu bisa masuk ke dalam lift.
"Thank you," ujar si perempuan.
Di dalam lift jadi ada empat orang sekarang. Diam-diam Tiara melirik ke perempuan di depannya. Ya, perempuan yang barusan masuk ke lift memilih berdiri di depannya. Tiara memerhatikan dari tempatnya berdiri, menggaruk rambut belakangnya sesekali mengingat siapa sosok di depannya. Wajahnya cantik dan tidak asing.
"Oh—" Tiara membungkam mulutnya cepat sebelum berteriak histeris.
Rivano menyadari kehebohan di sampingnya. Walau Tiara tidak sempat mengeluarkan suara jeritan, tetapi Rivano tahu jika Tiara hampir saja membuat isi lift roboh karena suaranya yang melengking itu.
"Lo salah satu lawan main gue, ya?"
Pertanyaan si perempuan sontak menarik perhatian Alenta. Walau dilanda kebingungan, Alenta menengok dan menatap beberapa detik. Tiara menjawil lengan Alenta kemudian berbisik memberitahu, "Dia Nirmala Lencana. Lawan main lo di film."
Seperdetik, Alenta menyunggingkan senyum tipis. "Ah, iya."
Nirmala memiringkan badan. Saat itu kedua mata mereka saling bertemu. Entah kenapa, tahu-tahu Nirmala tersenyum. Bukan jenis senyum menyapa ramah. Melainkan senyum merendahkan.
"Oh, lo orangnya." Nirmala bergumam sinis. Setelahnya, perempuan itu meluruskan badan lagi.
Ada yang aneh dari sapaaan Nirmala tadi. Oh, apa bisa disebut sebagai sapaan kalau tatapannya saja sangat sinis? Tiara saja yang tidak sadar. Tapi, Alenta dan Rivano sudah menyadari lebih dari awal. Bahkan sebelum Nirmala bergabung bersama mereka di dalam lift.
***
Natla terbengong-bengong membaca isi berita pada sebuah media online. Media online tersebut menyebutkan kalau ada hubungan spesial antara Alenta dan Dami. Natla tidak berhenti mendecakkan lidah. Itu tidak mungkin. Pasti media online itu sedang mengada-ada! Mana mungkin dari Fano lalu jatuh ke pelukan seorang Dami?!
"Ngadi-ngadi ini wartawannya," gerutu Natla sambil menyibak rambut. "Gue yakin Alenta mata hatinya belum buta. Apaan, Dami? Woah!"
Kegelisahan yang dirasakan Natla sama persis yang dirasakan oleh sosok Fano. Arwah lelaki itu pergi ke sana kemari bak setrikaan. Meskipun sekarang kedua kakinya tidak bisa menapak ke tanah, tapi tubuhnya bisa melayang hingga ke langit-langit rumah.
Ada rasa menyesal di hati Fano. Kenapa ia harus meminta bantuan Dami saat itu ya? Kalau tahu akan menyusahkan Alenta, ia tidak akan mendatangi Dami lantas meminta bantuan padahal lelaki angkuh itu sudah menolak habis-habisan.
Dari mana berita itu asalnya sih? Dilihat dari sudut mana pun, Alenta dan Dami mana mungkin berpacaran. Mereka tidak pernah akur selama bertemu. Ada saja kata-kata Dami yang menyakiti perasaan Alenta. Atau, cuma karena foto yang beredar seperti beberapa hari yang lalu? Tapi, kan.... saat itu Alenta dan Dami tidak hanya berdua. Ada Raka, Adam serta Adam.
"LAAA!"
Teriakkan melengking lalu disusul suara ketukan pintu dari luar mengejutkan Natla. Perempuan itu menengok ke arah asal suara lantas menyahut, "Masuk aja kenapa, sih! Pake ketuk pintu segala."
Benar saja, pintu kamar segera dibuka. Sosok Rindu masuk ke dalam sembari menenteng ponsel di tangan. Bisa dipastikan, Rindu ingin membicarakan soal gosip yang menyeret nama Alenta dan Dami.
"Gue udah tahu." Natla mengangkat punggung lalu duduk dengan tegap. "Tuh, hampir aja HP-nya gue banting. Sembarangan banget wartawannya!"
Berbeda dari Natla yang tampak menggebu-gebu. Rindu terlihat ragu ingin mengatakan sesuatu. Kalau ia bilang sesuai apa yang ada di kepala, Natla kira-kira marah tidak, ya? Tahu sendiri seberapa sebalnya Natla kepada Dami hingga kini. Padahal permusuhan mereka terjadi saat SMA.
"Jangan-jangan si Dami yang bikin berita beginian!" Natla mencerocos, menunjuk layar ponsel yang masih menyala. "Gue nggak percaya ya, Rin, sama sekali nggak! Lo tahu sendiri sayang banget sama Fano. Ya... walau mereka nggak jadian. Tapi gue yakin. Alenta nggak bakal segampang itu move on!"
"Ya... mana tahu, La," gumam Rindu membuang pandangannya ke arah lain.
"HEH?!" Natla dan arwah Fano kompak memekik.
"SEMBARANGAN!" Mereka kompakan lagi.
Rindu mengangkat kedua kakinya ke atas ranjang Natla. Ia dengan hati-hati menyerukan apa yang sedang dipikirkannya. "Beberapa kali Dami nolongin Alenta. Bahkan sampai dijahit kepalanya-lah, masuk ruang operasi-lah. Masa lo nggak kepikiran ada sesuatu sama mereka?"
Kedua mata Natla menyipit, menatap Rindu dengan tatapan tajam. "Jadi, lo mikir Dami sama Alenta saling suka, gitu? Cuma karena Dami nolongin Alenta lebih dari sekali?"
Rindu mengangguk sangat yakin.
"Kita semua tahu Dami kayak gimana kan." Rindu menarik kedua kakinya dan melipatnya. "Dami, gitu, lho. Nggak mungkin segampang itu mau repot nolongin orang lain. Apalagi yang bisa membahayakan nyawanya."
Sesaat, Natla mulai mengingat apa saja yang dilakukan Dami untuk Alenta. Walau baru dua kali menolong. Tapi... kok, yang dibilang Rindu ada benarnya ya.
"Ah! Bisa aja Dami yang naksir, tapi Alenta nggak!" seru Natla masih kekeuh.
Rindu diam sejenak, dua detik setelahnya menambahkan asumsinya. "Anggap aja begitu. Cuma, kalau cowok suka ke seorang cewek, pasti berusaha deketin dong? Misal, kayak lo sama Pak Raja, tuh."
"Kenapa jadi bawa-bawa Pak Raja?!"
Rindu meringis. "Gue cuma ngasih contoh doang, La." Natla mengurucutkan bibir. "Bisa jadi, Dami doang yang awalnya nggak suka, tapi karena dia terus usaha, Alenta jadi luluh. Ya, kan?"
Fano jadi teringat kejadian beberapa hari yang lalu. Sewaktu Alenta datang mencari jepitan rambut pemberiannya saat masa sekolah dulu.
Entah Fano yang cemburu, atau memang Dami saja yang keterlaluan. Dami hanya perlu memberikan jepitannya saja lalu Alenta akan pergi. Tapi itu tidak dilakukan Dami. Justru yang dilakukan Dami malah membuat keduanya saling lari ke sana kemari berebutan jepit rambut. Fano jadi kesal. Walau jepit itu dari dirinya, hanya saja... melihat Dami dan Alenta sedekat itu, Fano jadi menyesal membuat kedua orang itu saling mengenal.
"Menurut lo gimana, La?" tanya Rindu.
"Apanya yang menurut gue?" Natla balas bertanya.
"Itu...," gumam Rindu. "Soal Alenta sama Dami. Kalau mereka beneran pacaran, gimana?"
Natla serba salah. Ia dan Alenta memang berteman baik. Bahkan sejak SMA dulu. Ia dan yang lain sedih melihat Alenta jadi murung setelah kehilangan Fano. Harapannya untuk Alenta, agar bisa merelakan kepergian Fano. Tidak baik terus menerus sedih. Ia juga berharap semoga Alenta mendapat pengganti Fano.
Tapi... kalau lelaki itu Dami? Ah, tidak, Natla tidak bisa melarang Alenta dekat dengan siapa, mau pacaran dengan siapa, itu hak Alenta. Cuma, kenapa harus Dami, sih? Memang tidak ada lelaki yang lebih baik?
"Siapa tahu Dami berubah lebih baik kalau sama Alenta," ujar Rindu seolah membujuk Natla. "Gue harap sih. Siapa pun cowok pilihan Alenta, kita semua tetap dukung. Daripada Alenta terus sedih. Emang lo mau Alenta gitu mulu?"
"Nggak, lah." Natla menurunkan guling di atas pangkuannya.
"Ya udah, kita dukung aja. Selama Alenta bahagia, kenapa nggak, kan?" Rindu menyunggingkan senyum.
Masalahnya, Fano rela apa tidak kalau Alenta berpindah ke pelukan lelaki lain? Bisa jadi tidak. Tapi, apa bisa Fano menolak kalau takdir Alenta adalah Dami?