"Ini, Nyonya bubur dan obatnya. Saya permisi dulu," ucap Nunik santun kepada Mei. Mei meraih nampan tersebut sembari tersenyum mengangguk kecil. "Terima kasih, Nik." Mei meletakkan nampan itu di atas nakas. Ia lalu membujuk sang menantu untuk makan. "Sayang, mau cobain bubur ayam tidak?" Kiana menggeleng lemah. "Kiana belum laper, Ma." "Sayang, makan dikit yuk? Biar perut kamu terisi. Dikit aja, biar kamu bisa minum obat dan gak pusing lagi," bujuk Mei. "Tapi, Ma." "Ki, Mama mohon. Kamu makan ya?" ucap Mei dengan puppy eyes-nya. Kiana yang tak tega pun terpaksa menganggukkan kepala. "Iya, Ma." Mei meraih semangkuk bubur ayam yang terlihat masih mengepul, ia menyendok bubur ayam itu lalu meniup-niupnya sesaat sebelum ia menyuapkan bubur ayam tersebut kepada sang menantu. Mei menyu

