Harusnya tadi Artha diam saja di tenda, nggak perlu deh dia mengajukan diri untuk cari kayu, andai ujungnya ... selama perjalanan itu Artha berjalan dengan Areta, berdua saja. Artha tahu kalau dalam Islam itu perempuan sama laki-laki baiknya tidak ada di satu tempat yang sama apabila belum mahram dan tak ada sosok lain selain mereka berdua, alias di tempat sepi, selayak jalan setapak yang Artha pijaki bersama Areta. Terlalu sepi. Hanya ada desir angin dari pohon yang menemani. Artha juga tahu kalau berduaan dengan perempuan itu yang ketiganya adalah setann, tapi Artha baru ingat sekarang jika yang berduaan dengannya saat ini justru Areta lah setannya. Manusia rasa ibliss penggoda. Ah, kejam tidak ya Artha menganggap Reta demikian? Yang Artha lirik orangnya. Reta memegang ujung kaos Art

