05
Biantara mendengarkan penuturan Benigno yang datang ke rumahnya, bersama Johnny, Kakak kelas Benigno saat kuliah kedokteran dulu.
Johnny merupakan direktur utama salah satu rumah sakit swasta di kawasan Lebak Bulus, tempat di mana Falea, istri Benigno, pernah bekerja sebagai perawat selama 5 tahun.
Kendatipun spesialisasi Johnny adalah manajemen rumah sakit, tetapi dia sangat concern tentang masalah saraf, seperti yang dialami Biantara saat itu.
Pekikan para bocah yang tengah bermain di jalan depan rumah, mengejutkan semua orang tua di ruang tamu. Falea berdiri dan mendekati pintu, kemudian dia meneriaki putri sulungnya, agar menjaga adik-adiknya.
"Mereka main sama siapa? Kayak rame banget," cakap Benigno sembari memandangi istrinya yang kembali duduk di tempat semula.
"Anaknya Mas Arya, Mas Anto, dan Bang Zainal," terang Falea.
"Trio gangster," seloroh Benigno.
"Alfian kayaknya nggak ikut main," terang Falea.
"Mungkin sudah tidur," jelas Benigno.
"Tahu-tahu, tengah malam dia bangun dan ngajak main. Kayak cerita Mbak Dahayu waktu itu," ungkap Falea.
"Alfian sangat beruntung, Mbak Dahayu sayang banget ke dia," sela Arista.
"Kata Mbak Ayu, justru dia yang beruntung mendapatkan Alfian yang lucu dan sangat cerdas," jelas Falea. "Apalagi dari lahir, Alfian cuma tahu jika Mbak Ayu itulah ibunya," lanjutnya.
"Ya, aku paham. Walaupun Ibu sambung, tapi memang Mbak Dahayu yang ngurus Alfian dari masih bayi merah."
"Kayak aku dulu. Meskipun ngurus Eugene dari umurnya beberapa bulan, rasa sayangku beda banget ke dia. Kayak anak sendiri."
Arista manggut-manggut. "Dan Eugene pun sayang banget ke Kakak. Bahkan, kalau aku perhatikan, dia lebih nurut ke Kakak daripada ke mutter-nya."
"Itu yang kadang bikin Kak Jewel cemburu. Katanya, Eugene nggak peduli kalau dia dan Mas Trevor pelesiran. Tapi kalau aku dan Mas Ben yang pergi, Eugene heboh pengen ikut. Lebaran pun dia ikut kami mudik ke Mempawah."
Bunyi beberapa motor yang berhenti di depan rumah, menjadikan perbincangan itu berhenti. Warshif keluar untuk membukakan pagar lebih lebar. Kemudian dia mengambil tas besar yang diberikan atasannya.
Wirya muncul di depan pintu sambil mengucapkan salam. Disusul Hendri, Brayden, Luthfan, Zainal, Zulfi, Damsaz dan Lainufar.
Tidak berselang lama, Yushar, Rafaizan, Ghazaar, Nurryyan, dan Galuh datang. Ruang tamu yang cukup luas itu, seketika penuh orang.
Diah bergegas menyajikan kue-kue ke depan. Dibantu Warshif, keduanya bekerjasama membuatkan minuman buat semua tamu.
"Sudah bisa dimulai pembicaraan seriusnya?" tanya Wirya.
"Boleh, Bang. Aku siap mendengarkan," jawab Biantara.
"Ini tentang proyek yang kamu ikuti, Bian. Nidhana kewalahan pegang semuanya. Walaupun sudah dibantu teman-teman lain, dia tetap kerepotan," cakap Wirya.
"Ada saran dari Pak Tio, agar salah satu proyek itu diserahkan ke direktur lain ataupun manajer. Jadi, menurutmu, siapa di antara bawahanmu yang sanggup mengelolanya?" tanya Wirya.
"Ehm, aku sudah membicarakan tentang ini pada Papa, Nidhana dan Rania. Kami sepakat untuk menugaskan manajer operasional, yaitu Taslim," terang Biantara.
"Oke. Besok, minta dia ke kantorku."
"Kantor yang mana? Perusahaan Abang, kan, banyak."
Wirya membuka jadwal di notes ponselnya. "Besok aku di kantor GUNZ."
"Lantai 4, betul?"
"Ya." Wirya mengamati pria yang usianya lebih muda 7 tahun darinya. "Apa ingatanmu sudah mulai kembali?" desaknya.
"Sedikit. Urusan kerjaan, aku bisa ingat setelah membaca berkasnya."
"Berarti bisa masuk kerja?"
"Hu um. Senin aku ngantor."
"Enggak istirahat dulu?" celetuk Yushar.
"Bosan aku rebahan terus. Kemaren-kemaren, aku sudah memeriksa laporan, supaya bisa cepat ingat," ungkap Biantara.
"Memang harus dilatih mengingatnya, tapi jangan buru-buru. Santai saja," timpal Johnny.
"Betul. Kalau dipaksa mengingat, justru bikin sakit kepala," terang Benigno.
"Pantesan. Kepalaku pasti berdentam kalau maksa mengingat sesuatu," ungkap Biantara.
"Tapi, urusan kita harus segera diingat, Bian," seloroh Hendri.
"Yang mana, Kang?" tanya Biantara.
"Kamu bilang mau nanam saham di perusahaan baruku," terang Hendri.
"Ehm, aku nggak ngeh. Perusahaan baru apa namanya?"
"Zul, terangin," pinta Hendri.
"Kok, aku?" tanya Zulfi.
"Ini, kan, perusahaan yang sepupumu jadi direkturnya," papar Hendri.
"Bentar, banyak banget ini perusahaan baru. Aku mesti ngecek satu-satu." Zulfi menepuk paha kiri sahabatnya. "Ayah Zid, pinjam ponselmu. Aku mau lihat datanya," pintanya.
"Jangan buka file rahasia, Abah Luna," cakap Wirya sembari memberikan ponselnya.
"Yoih. Nanti pada heboh lihat foto cewek-cewek toples," imbuh Zulfi.
"Wir, ternyata kamu suka selingkuh mata," goda Benigno.
"Mas Ben, Abang iparku ini pemain profesional. Dari zaman kuliah, pacarnya banyak," terang Hendri, yang merupakan suami Irshava, Adik bungsu Wirya. Hendri juga teman kuliah direktur utama GUNZ tersebut.
"Aku setuju dengan Hendri. Dulu, Wirya ngetop banget. Aku, kalah," seloroh Zainal. Dia adalah Kakak kelas Wirya dan Hendri.
"Bang Zai, tolong, ya. Jangan lempar upil sembunyi tisu. Abang yang playboy. Aku cowok setia," sanggah Wirya.
"Setianya Wirya cuma 6 bulan. Setelah itu dia berkelana," kelakar Brayden Raffles, direktur Tadashi Grup cabang Indonesia.
"Bentar. Tadi Bang Zul bilang, foto cewek toples. Beneran?" desak Lainufar.
Zulfi menggeser jemarinya ke bagian galeri. Kemudian dia memperlihatkan album foto berjudul Cewek Toples.
"Ehh! Ternyata para bocah!" seru Yushar yang ikut melihat gambar-gambar itu.
"Ya. Aku sengaja buat album khusus buat anak-anak. Dari mereka bayi, sampai gede, nanti," ungkap Wirya. "Saat mereka nikah, itu bisa dipakai buat video," cakapnya.
"Luar biasa memang Wirya ini. Hal kayak gitu pun dia pikirkan," cetus Johnny.
"Itu buat kenang-kenangan, Mas. Sekaligus melatih ingatanku," beber Wirya.
"Nah, Bian. Itu bisa ditiru," usul Galuh.
Biantara manggut-manggut. Kemudian dia mengalihkan pandangan pada Arista yang telah berpindah ke ruang tengah. "Nanti kucoba bikin. Dimulai dari awal perkenalanku dan Rista," tukasnya.
"Ada foto dan videonya?" tanya Damsaz.
"Ya. Di galeri laptopku, dan di hape Rista. Hapeku, kan, baru. Data yang di hape lama, belum diback-up semua. Jadinya hilang, karena hapenya rusak kelelep air," jelas Biantara.
Malam bergerak kian larut. Semua tamu telah pulang dan suasana hening melingkupi kediaman Biantara. Para penghuni rumah telah memasuki kamar masing-masing untuk beristirahat.
Arista menunaikan salat hajat dengan khusyuk. Kemudian dia berdoa panjang dan lama, sembari terisak-isak. Arista ingin ingatan Biantara kembali. Rindu yang mencuat dalam hatinya akan sosok pria romantis tersebut, menjadikan Arista sangat kehilangan pribadi Biantara yang dulu.
Kendatipun tidak pandai merayu, tetapi Biantara akan menyuarakan cintanya melalui nyanyian dan permainan gitarnya yang apik.
Arista terdiam dan berhenti berdoa, kala mendengar bunyi gitar dan nyanyian seseorang. Dia bangkit berdiri dan berpindah ke dekat jendela yang menghadap ke taman belakang rumahnya.
Arista memerhatikan lelaki berkaus putih yang tengah duduk di kursi teras. Perempuan berdaster biru, memegangi dadanya, saat mendengar lantunan lagu kesukaannya, yang tengah dinyanyikan Biantara dengan merdu.
Arista memejamkan mata, saat kilasan kenangan masa lalu kembali melintas. Dia dan Biantara akan duduk berjam-jam sambil memainkan alat musik masing-masing.
Setitik bulir bening luruh dari sudut mata Arista. Dia begitu merindukan tatapan penuh cinta suaminya, yang belakangan tidak pernah dilihatnya dari mata Biantara.