22 Kehadiran Biantara malam itu, mengejutkan Rifda dan keluarganya. Mereka tambah kaget, karena pria itu menerangkan tentang keinginannya untuk menenangkan diri di Bandung. Kendatipun ragu-ragu, tetapi akhirnya Ayah Rifda mengizinkan Biantara untuk menginap di salah satu kamar indekos miliknya, yang berada di bangunan sebelah kanan. Rifda mengantarkan Biantara ke kamar terbesar di lantai satu, karena hanya kamar itu yang kosong. Rifda bergegas memasang seprai dan sarung bantal baru, sedangkan Biantara berdiri di depan jendela yang gordennya terbuka separuh. "Mas, kalau AC-nya kurang dingin, kasih tahu. Besok aku panggil teknisi," ujar Rifda sembari berdiri. Biantara tidak menyahut dan tetap diam. Tatapannya mengarah ke langit malam yang dipenuhi bintang dan terlihat indah, berban

