03. Sup Buah Pir Untukmu

997 Kata
Pekerjaan di kantor hari itu terasa seperti siksaan yang tak berujung bagi Ardi. Di depan layar komputer, tumpukan laporan spreadshee dan email dari klien tampak seperti barisan semut yang tak bermakna. Pikirannya tidak berada di ruangan ber-AC itu, melainkan ertinggal di dapur rumah mertuanya. Pada jejak napas panas dan kelembutan daster satin merah marun yang tadi pagi ia dekap. Pesan singkat dari Mama Lian di w******p terus terbayang. Sup pir untuk stamina. Ardi bukan pria bodoh; ia tahu bahwa dalam budaya Tionghoa, makanan sering kali menjadi simbol perhatian yang lebih dalam, bahkan kode untuk sesuatu yang lebih intim. Kata stamina yang diketikkan mertuanya itu seolah menjadi gema yang terus berputar di kepalanya, memicu adrenalin yang membuatnya tak bisa duduk tenang. Pukul lima sore tepat, Ardi segera merapikan mejanya. Ia tidak menunggu semenit pun untuk beranjak. Dalam perjalanan pulang, ia mampir ke sebuah supermarket premium. Di depan rak buah, Ardi memilih buah pir dengan sangat teliti. Ia mencari yang paling segar, yang kulitnya paling mulus—seperti kulit Mama Lian yang selalu tampak terawat meski usianya sudah separuh abad. Sambil menimbang buah itu di tangannya, Ardi tersenyum sendiri. Ia merasa seperti seorang remaja yang sedang membelikan hadiah untuk kekasih gelapnya, bukan seorang menantu yang membelikan pesanan mertua. Saat Ardi sampai di rumah, suasana tampak sunyi. Mobil Tere belum terlihat di garasi, yang berarti istrinya itu kemungkinan besar masih terjebak lembur atau kemacetan jalanan. Ardi menarik napas panjang, menetralkan debar jantungnya sebelum melangkah masuk. "Ma? Ardi pulang," serunya sambil melangkah menuju dapur. Mama Lian sedang berada di sana, berdiri di dekat meja island. Sore ini, ia sudah mengganti dasternya dengan pakaian rumah yang tak kalah menggoda—sebuah setelan kulot bahan kaos tipis berwarna nude yang sangat pas di badan. Atasannya adalah kaos tanpa lengan yang memperlihatkan bahunya yang putih dan bersih. Karena bahannya yang tipis, Ardi bisa melihat dengan jelas bagaimana tubuh mertuanya itu masih begitu padat, tanpa gelambir lemak yang biasanya menghantui wanita seusianya. "Oh, sudah pulang, Di? Cepat sekali," ucap Mama Lian sambil berbalik. Senyumnya sore ini terasa lebih hangat, lebih... mengundang. "Iya, Ma. Tadi pekerjaan cepat selesai," bohong Ardi. Ia menyerahkan kantong plastik berisi buah pir itu ke atas meja. "Ini pirnya, Ma. Aku pilihkan yang paling bagus." Mama Lian mendekat, membuka plastik itu dan memeriksa isinya. "Pintar kamu memilihnya. Ini pir madu, airnya banyak. Bagus untuk paru-paru... dan stamina," ucapnya, menekankan kata terakhir sambil melirik Ardi lewat sudut matanya yang sipit. Ardi mendekat, berdiri tepat di samping Mama Lian hingga lengan mereka bersentuhan. Aroma tubuh Mama Lian kini sudah berganti menjadi wangi bedak bayi yang lembut, dicampur dengan aroma alami kulitnya yang selalu membuat Ardi pening karena gairah. "Kenapa Mama tiba-tiba ingin buatkan aku sup pir?" tanya Ardi dengan suara rendah, nyaris berbisik di samping telinga mertuanya. Mama Lian mulai mengupas buah pir itu dengan pisau kecil. Gerakannya sangat tenang dan elegan. "Mama lihat belakangan ini kamu sering lembur. Wajahmu tampak capek. Mama nggak mau menantu kesayangan Mama ini jatuh sakit." Ia berhenti mengupas sebentar, lalu menoleh ke arah Ardi dengan tatapan yang sulit diartikan. "Lagi pula, bukankah tadi pagi kamu bilang aku cantik? Aku hanya ingin berterima kasih." Tangan Ardi perlahan bergerak, mendarat di pinggang Mama Lian yang tertutup kaos tipis itu. Ia bisa merasakan kehangatan kulit di baliknya. Mama Lian tidak sedikit menyandarkan tubuhnya ke arah Ardi, membiarkan Ardi mengambil kendali. "Hanya berterima kasih? Atau ada maksud lain, Sayang?" Ardi semakin berani. Ia menciumi aroma dari leher Mama Lian. "Maksudnya apa, Ardi? Jangan berpikiran macam-macam," sahut Mama Lian, meskipun napasnya mulai terdengar sedikit memburu. "Cepat ganti bajumu. Mama akan siapkan sup ini. Kamu butuh energi untuk... malam ini." "Malam ini?" Ardi mengernyitkan dahi. "Tadi Tere telepon Mama. Katanya dia ingin kita makan malam di luar, tapi sepertinya dia akan pulang malam sekali. " Mama Lian menjelaskan sambil terus memotong buah pir menjadi bagian-bagian kecil. "Jadi, sepertinya hanya akan ada kita berdua di meja makan nanti." Informasi itu seperti siraman bensin ke api yang sudah menyala di hati Ardi. Makan malam berdua saja dengan Mama Lian, dengan sajian sup stamina yang dibuat khusus untuknya, adalah skenario yang melampaui fantasi terliarnya selama ini. Ardi tidak tahan lagi. Ia membalikkan tubuh Mama Lian hingga mereka berhadapan. Pisau di tangan Mama Lian diletakkan begitu saja di atas talenan. Ardi menatap lurus ke dalam mata wanita yang sudah lama menjadi objek fantasinya itu. "Ma, aku nggak tahu apa yang Mama rencanakan. Tapi aku benar-benar nggak bisa berhenti memikirkan Mama," Ardi mengaku dengan jujur. Tangannya kini merangkup wajah Mama Lian, ibu jarinya mengusap bibir mertuanya yang merah alami. Mama Lian terdiam, menatap Ardi dengan campuran antara rasa bersalah dan gairah yang tak tertahankan. Sebagai seorang janda yang sudah lama memendam kebutuhannya, kehadiran Ardi yang begitu agresif dan memuja tubuhnya adalah sesuatu yang sangat memabukkan. "Ardi, kita harus hati-hati. Tere mungkin bisa pulang kapan saja," bisik Mama Lian, namun tangannya justru melingkar di leher Ardi, menarik kepala menantunya itu agar lebih dekat. "Dia masih lama, Ma. Berikan aku sedikit saja... sebagai pembuka," mohon Ardi. Mama Lian hanya memejamkan mata, sebuah isyarat izin yang paling jelas. Ardi tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia langsung menyambar bibir Mama Lian, menciumnya dengan liar dan obsesi yang selama ini terpendam. Rasa bibir Mama Lian yang manis dan kenyal membuat Ardi semakin kehilangan kendali. Ia merasakan Mama Lian membalas ciumannya dengan sama intensnya, tangan wanita itu meremas rambut di belakang kepala Ardi. Di dapur yang remang karena cahaya sore yang mulai memudar, kedua insan yang terikat hubungan terlarang itu saling bertukar peluh. Bagi Ardi, ini bukan lagi sekadar nafsu, ini adalah penaklukan atas obsesi yang selama ini menyiksanya. Sementara bagi Mama Lian, Ardi adalah pelarian dari kesepian panjang yang selama ini menyelimuti hidupnya di rumah besar itu. Napasnya mereka kian memburu. Ardi semakin berani, tangannya meremas lembut b****g Mama Lian, membuatnya semakin mendesah kenikmatan. Mama Lian membalas dengan mengelus-elus tangannya pada tonjolan yang keras diantara s**********n Ardi. "Ma..." Ucap Ardi dengan napas tersengal. "Sangat besar, Aku suka." Balas Mama Lian dengan senyuman yang penuh nafsu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN