Keesokan hari.
Anggota keluarga Wijaya sedang duduk bersama di meja makan seperti biasa. Mereka berempat takkan menyia-nyiakan waktu selagi bisa duduk di meja yang sama.
Sembari melahap sarapan pagi buatan Fransiska, Brian melontarkan kalimat ijin pada sang ayah.
“Pa, kemarin sore Andrew dan William mengabariku jika Mauren sudah sadar. Namun, dokter tak mengijinkan kami untuk menjenguk Mauren. Mereka berkata akan melakukan observasi selama satu kali dua puluh empat jam. Maka dari itu..”
Belum sempat Brian melanjutkan ucapan, Jonathan spontan tahu perihal apa yang hendak Brian lontarkan.
“Maafkan Papa, nak. Papa memang CEO di perusahaan. Namun, Papa tak ingin memberi perlakuan berbeda pada para pegawai. Lagi pula, bukankah sedari dulu kau juga tak ingin diperlakukan berbeda?”
Hhh!
Brian menghembus napas dengan kasar.
“Sayang, lagi pula Mauren tersadar kemarin sore. Dan, satu kali dua puluh empat jam observasi, tandanya Mauren baru boleh dijenguk nanti sore, bukan?” Fransiska menambahkan.
“Benar, Brian. Maka dari itu, dari pada kau ijin cuti mendadak seperti ini. Lebih baik, kau mengambil jam pulang cepat saja di kantor. Pegawai baru, memang dilarang cuti selama satu tahun. Tapi, tak ada larangan untuk mengambil jam pulang cepat. Jadi, kau bisa menggunakan ketentuan yang berlaku itu,” Jonathan menjelaskan.
Brian tak ada pilihan. Bagaimana pun, pria harus bertanggung jawab pada apa yang sudah ia putuskan. Dan, menjadi seorang Manajer Perusahaan adalah posisi yang sudah Brian pilih sedari dulu. Alangkah baik, jika pria itu dapat mengemban amanah pada jabatan tersebut dengan penuh.
“Baiklah, Pa,” Brian menurut.
Lucia mengerucutkan bibir. Itulah alasan setiap anak seorang CEO, enggan melanjutkan jabatan di perusahaan. Peraturan yang ketat tentu berlaku bagi siapa saja. Tergantung oknum itu sendiri, mau menurut pada peraturan atau justru menyelewengkan jabatan. Dan, Brian? Ah! Dia adalah pria yang berkomitmen penuh.
Maafkan aku, Mauren. Semua ini aku lakukan untukmu. Aku berjanji akan segera menjadi pria mapan. Dan, di saat itu aku akan datang untuk melamarmu. Brian membatin. Lalu, kembali melayangkan sendok berisi nasi dan lauk ke dalam mulut.
******
Pukul setengah delapan pagi.
“Lucia, apa kau tak ke rumah sakit pada jam besuk pagi ini?” Brian bertanya. Sesaat sebelum masuk ke dalam mobil sang ayah.
“Tidak, Kak. Aku akan menemani Mama saja di rumah. Nanti sewaktu Kak Brian pulang, biar Lucia menjemput Kakak. Sekalian kita berangkat ke rumah sakit bersama,” Lucia memutuskan.
Brian meratakan bibir.
“Baiklah,” pria itu menyahut pasrah setelahnya.
Deru kendaraan terdengar. Lucia dan Fransiska beranjak masuk ke dalam rumah.
******
Sementara itu, di kediaman Haryasa.
William sedang bersiap dengan pakaian terbaik. Pria itu berdandan rapi nan tampan. Bebauan parfum beraroma maskulin menempel rapat pada beberapa titik nadi tubuh William.
Pria itu membuka pintu kamar, sesaat usai memastikan tak ada tanda-tanda Maxim Haryasa berada di rumah. Tentu, seluruh pekerja kantor akan berangkat pada pukul setengah delapan. Apalagi, mereka adalah seorang CEO perusahaan.
Sepertinya, Papa sudah pergi. William bergumam. Melangkah percaya diri.
Namun, tiba-tiba langkah seorang pria dewasa terdengar. Pria itu berdehem dengan nada suara yang berat.
Hhm!
William spontan menoleh ke sumber suara. Benar saja, sesaat usai menapak di lantai bawah, pemuda itu mendapati sosok sang ayah di sisi belakang ia hendak melangkah.
“Kata Bik Sum, kau semalaman pulang dengan berbau alkohol. Apa kau pergi minum-minum?” Maxim bertanya. Sorot tajam pria dewasa itu menyelidik pada sang putra.
Huh!
William mendengus, “Ini semua gara-gara Papa mengijinkan Priscilla mengajakku ke luar. Memang, Papa kira siapa yang mengajakku ke bar? Tentu saja, putri dari kolega Papa itu yang mengajakku duluan.”
“Omong kosong!” Maxim berdecak.
“Pasti, kau yang mengajaknya. Mana mungkin seorang wanita mengajak pria ke bar lebih dulu? Lagi pula, Priscilla itu berasal dari keluarga terpandang,” Maxim menyanggah.
“Pa? Bukankah Papa tahu kehidupan di negeri seberang seperti apa? Sudah pasti bebas, bukan? Dan, itulah yang Priscilla lakukan selama berkuliah di sana. Jadi, wajar saja kalau ia terbawa pergaulannya hingga ke mari,” William tak henti menyahut. Tak mau menjadi kambing hitam yang selalu disalahkan.
Maxim terdiam. Pria dewasa itu tak dapat berkata-kata. Lalu, beralih pergi.
Kepergian Maxim membuat William bertanya-tanya. Tumben sekali Papa berangkat terlambat seperti hari ini? Entahlah. William mengedikkan bahu. Melanjutkan langkah menuju ruang makan.
“Pagi, Den,” Bik Sum menyapa. Pelayan di rumah itu sibuk mengambilkan makanan untuk tuan muda di rumah.
“Bik, saya kan sudah bilang, Bibik tidak perlu menyiapkan sarapan saya di atas piring. Saya bisa mengambilnya sendiri. Lagi pula, sekarang saya kan sudah dewasa. Berapa kali saya berkata demikian? Tapi, Bibik masih saja memperlakukan saya seperti William kecil,” William memprotes. Menggeleng kepala berulang.
Sementara itu, Bik Sum hanya melempar senyum. Sejatinya, pelayan yang sudah bekerja puluhan tahun di kediaman Haryasa itu, sudah menyayangi William bak cucunya sendiri. Bagaimana tidak, semenjak ditinggalkan oleh sang ibunda, William tak pernah mendapati kasih sayang dari seorang wanita yang lebih tua. Dan, Bik Sum adalah satu-satunya pelayan, yang berhasil merawat William dengan baik selama itu.
Beberapa saat kemudian,
“Bik, saya berangkat dulu ya,” William berpamitan. Beranjak dari duduk. Meraih kunci mobil, ponsel dan jaket yang semula ia letakkan.
“Baik, Den. Aden hati-hati di jalan,” Bik Sum mengingatkan.
William mengangguk, sembari berjalan menjauh dari ruang makan.
******
Deru kendaraan terdengar. William membahu jalanan ibu kota di waktu cukup pagi. Yakni, satu jam sebelum jam besuk Mauren pagi itu dimulai.
William tahu, jika menurut hitungan jam, satu kali dua puluh empat jam tandanya Mauren baru boleh dijenguk sewaktu sore. Namun, atas dasar perasaan, William tak mengindahkan logika. Baginya, berada di samping Mauren adalah hal yang utama.
Drrt drrt!
Ponsel William bergetar. Dasbor pada mobil sontak memunculkan nama Andrew di dalam layar.
Klik!
William menekan tombol penjawab panggilan. Suara sang penelepon spontan terdengar.
“Will, kau sedang berada di mana? Apa kau tak datang ke studio lagi hari ini? Apa harus aku terus yang mengurus studio bandmu ini?” Andrew mencerca William dari seberang.
“Tentu saja, Drew. Kau kan tahu sendiri, jika hari ini aku harus ke rumah sakit,” William menyahut santai.
Issh!
“Sejak Mauren terbaring koma dua minggu yang lalu, kan juga mengatakan hal itu. Jika, kau begini terus, bisa-bisa aku akan mengambil alih studiomu,” Andrew mengancam. Pria itu kesal.
Sudah dua minggu lamanya, William tak datang ke studio untuk mengurus para penyewa. Selama itu pula, Andrew-lah yang senantiasa menggantikan William di sana.
“Ck, ambil saja jika kau mau,” lagi-lagi William menyahut santai. Mengakhiri panggilan. Lalu, kembali melajukan mobil dengan kecepatan tinggi.
******
Sesampainya di rumah sakit.
William melangkah cepat ke ruang perawatan ICU. Beruntung, kehadiran pria itu segera disambut ramah oleh seorang perawat.
Perawat itu mengarahkan William menuju administrasi. Wali pasien harus membubuhkan tanda tangan pada form pemindahan ruang untuk pasien.
“Jadi, hari ini Mauren akan dipindahkan ke ruang perawatan umum, Sus?” William bertanya. Nada pria itu terdengar antusias.
“Benar. Jadi, untuk wali pasien diharap tanda tangan dan membayar deep payment untuk kamar perawatan pasien. Silahkan,” perawat itu menyodorkan sebuah form pada William.
Namun, seketika William menciut. Nama Brian Stevan Wijaya berada di dalam daftar wali pasien. Bahkan, Brian adalah orang pertama yang membubuhkan tanda tangan di dalam rekapan kertas tersebut.
“Ada apa, Tuan? Mengapa anda tidak segera memberi tanda tangan?” perawat itu menegur. Sesaat usai melihat William terdiam.
“Sus, bolehkah saya bertanya?”
Perawat itu mengangguk.
“Jika ada dua wali untuk pasien, apa diperbolehkan?”
Perawat itu mengerutkan dahi. Mengecek nama yang tertera di sana, “Jadi, anda bukan Bapak Brian Stevan Wijaya?”
“Bu-bukan, Sus,” William menyahut. Alis pria itu bertaut.
Perawat tersebut mengangguk. Lalu, mempersilahkan William untuk mengisi nama ia di dalam kolom yang ada. William bersyukur. Ia tak perlu menunggu Brian tiba. Bagaimana pun, usai dua pria itu bersepakat bersaing secara sehat, tandanya mereka boleh melakukan apa saja. Yang terpenting, semua hal itu adalah hal baik yang dapat menunjang kesembuhan Mauren.
Usai membubuhkan tanda tangan, William menunggu proses pemindahan pasien. Mauren terlihat baik-baik saja sewaktu ia dibawa oleh beberapa perawat. Namun, William takkan menyapa Mauren saat wanita itu melintas di hadapannya. William akan menunggu Mauren hingga sampai di kamar perawatan umum yang sudah ia pesan.
Tak lama kemudian,
William menapaki kamar perawatan VIP. Kamar itu bertuliskan nama pasien yang menghuni. Yakni, nama Mauren Alisea Manopo.
Setelah perawat pergi dari dalam ruangan, barulah William diperbolehkan masuk untuk menjenguk.
“Terima kasih, Sus,” William berucap. Segera melangkah masuk ke dalam ruang perawatan berukuran besar nan nyaman.
Tangan William mengepal. Bukan tanda sedang marah. Melainkan, ia sedang menyembunyikan rasa gugup di dalam d**a.
Pria itu melangkah perlahan. Menatap lekat wajah Mauren yang sedang melihat pada satu arah.
Lalu,
“Mauren?” William menyapa. Terduduk di sebuah kursi yang ada di samping ranjang perawatan.
Mauren menoleh. Saat itu, hard collar sudah lepas. Membuat pasien bebas mengalihkan pandangan pada sumber suara.
“Will?” Mauren berujar.
William sontak menggengam tangan Mauren, “Mauren kau ingat padaku?” pria itu berucap.
Mauren tersenyum. Lalu, mengangguk mengiyakan.
William kira, Mauren akan menjadi salah satu pasien yang kehilangan ingatan; pasca mengalami kecelakaan dan cidera di kepala. Nyatanya, Mauren mengingat sosok William Rengga Haryasa.
“Syukurlah,” William menurunkan posisi bahu yang semula mengembang karena ketakutan.
Lagi-lagi Mauren tersenyum. Kali itu, ia berkata, “Tentu saja, Will. Tentu, aku harus mengingatmu.”
Mauren membalas genggaman tangan William. Manik mata wanita itu menyorot lawan bicara dengan seribu isyarat menenangkan.