THE CONTEND

1180 Kata
Brian mengabari Lucia. Sang adik perempuan bergegas menjemput Brian ke Perusahaan Wijaya. Sore itu, Lucia berangkat bersama Fransiska. Kabar bahagia itu segera disambut riuh oleh keluarga besar Wijaya. Fransiska dan Lucia tak henti menampakkan senyum sumringah di wajah. Bahkan, Fransiska berulang kali meminta sopir pribadi itu melajukan mobil MPV-nya dengan cepat. “Pak, buruan,” Fransiska meminta. Sementara itu, Lucia memandang sang ibu dengan tatapan heran. “Ma, Mama mengalahkan perhatian Tante Jessy saja.” Fransiska mengerutkan dahi, “Apa maksudmu, Lucia? Kau cemburu pada Mauren? Ah, tenang saja, Mama selalu menjadikanmu putri nomor satu, jadi kau tak perlu khawatir seperti itu,” Fransiska menyahut. Memeluk tubuh sang putri yang sedang terduduk di sampingnya. Lucia mendecap bibir. “Lucia, bukan anak kecil lagi, yang mudah cemburu seperti itu. Lucia berkata sungguh-sungguh. Mama itu mengalahkan perhatian Tante Jessy. Sewaktu Lucia ke rumah sakit tadi pagi, Om Martin dan Tante Jessy datang. Namun, mereka bergegas pergi. Bahkan, sebelum melihat wajah Kak Mauren. Bayangkan, Ma? Mana ada orang tua seperti mereka? Mama saja yang bukan orang tua Kak Mauren, meluangkan waktu arisan Mama untuk menjumpainya. Sedangkan, Tante Jessy? Dia berkata, jika dia dan Om Martin harus segera kembali ke Amerika.” Fransiska sontak terdiam. Bukan karena ocehan panjang Lucia, melainkan ia tercengang. Martin dan Jessy belum berubah. Dua orang dewasa tersebut masih acuh tak acuh pada putri semata wayang mereka. Hal itu, membuat hati Fransiska sakit. Ia bahkan terbesit untuk mengadopsi Mauren. Namun, itu tak mungkin. Alih-alih mengadopsi Mauren, alangkah lebih baik jika Fransiska menjadikan Mauren sebagai menantu perempuan. Mengingat, putra sulungnya -Brian itu amat mencintai sosok Mauren. “Ma? Mama kok diam saja?” Lucia memecah lamunan Fransiska. Ibu muda tersebut spontan menghapus bulir air mata yang hendak tumpah ruah. “Tidak, sayang. Mama hanya merasa kasihan pada Mauren. Tapi, sudahlah. Yang terpenting Mauren sekarang sudah sadar.” Lucia mengangguk. Ia paham betul, jika sang ibu juga amat mencintai sosok wanita, yang baru saja tersadar dari koma. ****** Tak terasa, mobil MPV Fransiska telah sampai pada sebuah halaman lobi perusahaan. Di salah satu sudut, pria tampan terlihat menunggu dengan gusar. “Pak, saya minta tolong ya. Bapak bantu Brian naik ke mobil,” Fransiska memberi amanah pada sopir. Sopir itu segera memberhentikan mobil tepat di depan Brian. Lalu, turun dari dalam mobil. Membantu majikan muda keluarga Wijaya. “Kak, Kak Mauren benar-benar sudah sadar?” Lucia bertanya. Sesaat usai mendapati sosok sang kakak di dalam mobil yang sama. “Benar, Lucia. Tadi, Andrew mengabariku.” “Ah, syukurlah. Ternyata, bunga Krisan yang Kak Mauren tanam itu benar-benar memanjangkan umurnya,” Lucia bernapas lega. Brian menoyor kecil puncak kepala Lucia, “Maka dari itu, kau jangan bersimpul yang tidak-tidak!” Lucia terkekeh. Sementara itu, Fransiska hanya menggeleng. Sesaat usai menyaksikan interaksi diantara putra dan putrinya. ****** Sesampainya di rumah sakit. Lucia bergegas mendorong kursi roda Brian. Mereka bertiga segera menuju ke ruang perawatan ICU. Menjumpai sang pasien yang dikabarkan sudah membuka mata. “Will, Drew? Mengapa kalian berada di luar?” Brian menyapa. Menatap heran pada dua orang sahabat, yang sedang berdiri di depan ruang tunggu. Brian menatap jam pada pergelangan tangan. Waktu itu bertepatan dengan jam besuk kedua di ruang ICU. “Kami sengaja menunggumu, Brian,” Andrew menyahut. “Benar. Dokter baru saja berkata, jika kita tak bisa menjumpai Mauren terlebih dahulu. Mereka akan melakukan observasi selama satu kali dua puluh empat jam,” William menambahkan. Gurat kecewa muncul di wajah tiga orang yang baru saja tiba. Meski begitu, mereka tetap senang. Setidaknya, kabar baik akan segera terdengar. “Kalau begitu, sebaiknya kalian berdua pulang. Terutama, kau Will,” Brian menasehati. Sewaktu berada di perjalanan, Lucia bercerita, perihal William yang senantiasa menunggu Mauren menjalani operasi kedua. Hal itu, membuat Brian cemburu. Meski, mereka berdua sudah bersepakat untuk sportif, namun Brian merasa situasi yang ia alami saat itu sedang tak adil. William bebas mengunjungi Mauren kapan saja. Sedangkan, Brian? Ah, pria itu harus bekerja selama tujuh jam di perusahaan. Apa lagi, kondisi tungkai kanan yang terbalut gips, membuat Brian tak leluasa melajukan mobil ke rumah sakit. Hal itu membuat Brian kalah satu poin dari William. “Aku baik-baik saja, Brian. Aku akan menunggu hingga Dokter memperbolehkan untuk menjenguk Mauren,” William menyahut. Tak muncul gurat ragu sedikit pun di wajah. Andrew menggeleng berulang. Sepertinya, akan ada persaingan ketat sekarang. Batin pria itu kemudian. Menatap sedih pada dua orang sahabat, yang sedang memperebutkan satu orang wanita. ****** Satu jam berlalu. Fransiska dan Lucia sudah pulang lebih dulu. Sedangkan, ketiga pria itu bersih kukuh berada di rumah sakit. Jika Brian dan William melakukan hal yang sama demi satu tujuan. Maka, Andrew melakukan hal itu, hanya untuk menjadi penengah. Jikalau saja, dua orang sahabat prianya akan beradu otot tiba-tiba. “Brian, kau mau ke mana?” Andrew mengeluarkan suara. Menatap tajam ke arah Brian, yang baru saja beranjak dari posisi semula. “Aku akan pergi ke poli ortopedi. Aku akan meminta Dokter di sana, untuk melepaskan gipsku ini,” Brian menyahut. Nada pria itu dingin; bak es di kutub. Andrew bergegas berlari. Menengok ke arah William. Memberi isyarat, agar pria itu turut serta dengannya untuk mengejar Brian. Issh! William berdesis. Menoleh sekilas ke ruang perawatan ICU. Lalu, melanjutkan langkah. Menghampiri Andrew dan Brian yang hendak mencapai pintu lift. “Kalian mau ke mana?” Brian bertanya. Sesaat usai menapakkan kursi roda di dalam ruang besi berbentuk persegi. “Tentu saja, kami akan mengantarmu,” Andrew menyahut. Sementara itu, William terdiam. Hanya memberi anggukan yang tertahan. Sungguh, William tak ingin pergi meninggalkan ruang tunggu ICU walau sebentar. Namun, bagaimana pun Brian bisa saja membutuhkan bantuan mereka. Jadi, William berpasrah saat Andrew meminta ia untuk turut serta. Ting! Lift berdenting. Ketiga pria itu keluar bersamaan dari dalam lift. Andrew melajukan kursi roda Brian. Sedangkan William menuju meja pendaftaran untuk mendapat nomor antrian. “Seharusnya, kalian tak perlu mengantarku. Aku tak ingin merepotkan kalian,” Brian berkata. Hhh! Andrew menghela napas panjang, “Kau tak ingin kami menjadi repot atau kau tak ingin melihat wajah William?” Andrew berceletuk kemudian. Brian tercengang. Pria serampangan itu, sejatinya adalah pria paling peka diantara mereka bertiga. “Aku hanya merasa cemburu pada William, Drew. Sudah empat tahun ini, dia berada di sisi Mauren. Sedangkan, aku tidak. Aku hanya takut, jika perasaan Mauren akan berpindah pada William,” pria di atas kursi roda itu baru saja melemparkan curhat colongan. Andrew benar-benar merasa bingung. Ia tak tahu harus membela siapa diantara Brian dan William. “Sudahlah, bro. Kau itu terlalu berpikiran jauh. Bukankah kau dan Mauren adalah pasangan bucin yang tak terpisahkan semasa SMA? Lalu, mengapa kau khawatir pada William sekarang?” Andrew menyahut. Sesuai fakta. Berharap agar jawaban itu dapat menenangkan Brian. “Justru karena itu, Drew. Aku merasa hanya menjadi bagian dari masa lalu Mauren. Sedangkan, William adalah masa kini Mauren. Dan..” “Sudahlah! Perihal masa depan, kau hanya perlu menjalaninya dengan baik mulai sekarang, Brian. Kau jangan berpikiran yang tidak-tidak pada hal yang belum tentu terjadi seperti itu,” Andrew segera memotong ucapan Brian. “Lagi pula,” “Cinta tahu ke mana ia harus pulang,” Andrew melanjutkan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN