Lucia, Brian dan William meninggalkan Mauren dan Andrew di dalam ruang perawatan. Di sela William memberi penjelasan perihal kondisi Mauren, Andrew harus menemani Mauren di dalam kamar. Mengalihkan perhatian Mauren pada dua orang muda-mudi; yakni Brian dan Lucia, yang baru saja menyapa pasien wanita tersebut dengan ramah.
Di luar kamar perawatan.
Gurat kesal tercetak di wajah Brian. Ia tak menyangka dengan pernyataan yang William lontarkan.
“Jadi, maksudmu Mauren menganggapku sebagai masa lalu? Sehingga ia tak dapat mengenaliku dan Lucia seperti itu?” Brian memekikkan suara. Bertanya dengan raut wajah kecewa.
“Aku tak tahu betul, Brian. Jika kuperhatikan memang seperti itu. Saat aku dan Andrew menjumpai Mauren, ia mengingat betul sosok kami. Mungkin karena kami berdua selalu berada di sampingnya belakangan tahun ini. Sedangkan, kau sudah beberapa tahun berada di luar negeri. Bahkan, Lucia yang baru terbang ke luar negeri dua tahun yang lalu saja, Mauren tak mengingatnya. Apa lagi, kau? Yang sudah pergi selama empat tahun, Brian,” William menjelaskan.
“Hentikan omong kosongmu, Will!” Brian mengeram kesal. Hendak beranjak dari posisi terduduk di kursi roda.
“Kak, tenanglah,” Lucia menyergah.
“Kau pasti mengarang cerita. Bukankah aku sudah berkata, jika kita berdua akan bersaing secara sehat?” Brian kembali berucap. Tak peduli dengan sang adik yang berusaha menenangkan.
William menggeleng tak percaya, “Kau pikir aku pria macam apa, hah? Bagaimana bisa aku mengarang cerita seperti itu? Aku tak mungkin memanfaatkan kondisi yang Mauren derita,” William menyanggah.
Cih!
Brian berdecik. Lalu berkata, “Apa kau lupa, jika selama aku berada di Inggris kau telah melakukan hal yang sama? Setidaknya, kau sudah berpengalaman untuk menjauhkan aku dan Mauren.”
William mengangkat sudut bibir, “Ini situasi yang berbeda, Brian. Jika kau tak percaya, kau bisa bertanya pada Andrew. Atau, kau tanyakan saja pada dokter penanggung jawab Mauren.”
Seketika, Brian terdiam. Ia memang tak melihat gurat kebohongan di wajah William. Meski, sang sahabat pernah berbuat curang, tapi kali itu William terlihat bersungguh-sungguh.
Haish!
Brian mengeram. Melampiaskan kekesalan dengan menghempas kasar puncak kepala. Lalu, memijat pelipis yang terasa pening.
Lucia menyentuh bahu sang kakak. Berkata menenangkan, “Kak, tenanglah. Suatu hari nanti Kak Mauren pasti akan kembali mengingat kita. Kakak jangan khawatir. Yang terpenting, Kak Mauren sudah sadar. Sekarang, kita hanya perlu melakukan apa yang dokter sarankan; untuk menunjang kesembuhan total Kak Mauren.”
“Berkata memang mudah, Lucia. Tapi, tak semudah itu aku menerima dan menjalaninya,” Brian menyahut. Kembali meratapi diri dengan segenap penyesalan.
“Tapi, kau pasti bisa, Kak,” Lucia berujar. Menatap nanar wajah sang kakak yang tampan nan rupawan.
Hening sesaat.
Setelahnya, Brian kembali bertanya, “Lalu, kapan Mauren akan mengingat kembali setengah memorinya itu? Dan, apa yang harus kita lakukan sekarang, Will? Dokter berkata apa untuk pemulihan ingatan Mauren?”
William menggeleng ragu.
“Apa maksud tanggapan ambigumu itu, Will?”
William menyentuh kursi roda Brian. Menggenggam erat pegangan besi yang sedang diduduki oleh sang sahabat.
“Dokter pun tak dapat memastikan kapan Mauren akan kembali mengingat memorinya dengan penuh, Brian. Kita hanya perlu berada di samping Mauren. Kau hanya perlu melakukan hal-hal yang biasa kau lakukan. Kau hanya perlu memutar memori itu perlahan. Aku yakin, kau pasti bisa melakukannya, Brian.”
Hhh!
Helaan berat terdengar dari indera seorang Brian Stevan Wijaya. Ini semua memang salahku. Tak salah, jika Mauren enggan mengingat siapa diriku. Batin pria itu kemudian.
Tiba-tiba,
Sret!
Daun pintu kamar perawatan bergeser. Andrew menampakkan diri dari dalam ruang.
“Will, Mauren mencarimu,” pria itu berkata.
Nyali Brian seketika menciut. Hati pria itu mencelos. Tak tahan saat mendapati sang pujaan justru mencari pria lain.
“Maafkan aku, Brian,” William berucap. Berpamitan untuk kembali masuk ke dalam kamar perawatan.
“Kak, bersabarlah,” Lucia menimpali. Mengusap lengan Brian. Lagi-lagi mengisyaratkan agar sang kakak dapat tenang.
Di dalam kamar perawatan.
“Will, tak bisakah kau mengajakku jalan-jalan keluar kamar? Pria ini sedari tadi menolak membawaku keluar,” Mauren mengadu. Mengarahkan dagu ke arah Andrew, yang baru saja menolak permintaan sederhana wanita itu.
Alih-alih segera menjawab, William justru meraih ganggang telepon yang ada di samping ranjang perawatan. Menekan tombol panggilan keluar.
Klik!
Tak lama kemudian, panggilan telepon disahut oleh seorang perawat yang berjaga di nurse station.
“Halo, Sus. Saya wali pasien atas nama Mauren Alisea Manopo di kamar VIP 9110. Saya ingin bertanya, apa boleh kami mengajak pasien berjalan-jalan keluar kamar?” William bertanya. Sesekali melirik ke arah Mauren yang sedang memandang ia dengan penuh harap.
Sementara itu, Andrew menggertakkan gigi. Ia tahu, Brian dan Lucia masih berada di luar kamar perawatan. Entah, apa yang Brian rasakan usai tahu, jika William melakukan segala cara agar dapat membuat Mauren bahagia. Salah satunya, menuruti permintaan sederhana untuk sekedar berjalan-jalan keluar kamar.
“Baiklah, Sus. Terima kasih atas informasinya,” William mengakhiri pembicaraan di telepon.
Lalu, pria itu menatap lekat manik mata Mauren. Ia berkata, “Mauren, perawat bilang, kau belum boleh berjalan-jalan. Lihatlah, beberapa bagian tubuhmu itu masih dalam proses pemulihan. Apa kau mau, beberapa tulangmu yang patah takkan kembali sempurna?” William menyipitkan mata. Mencoba merayu seorang wanita yang menaruh harap padanya.
Pada akhirnya, “Baiklah,” Mauren menyahut pasrah. Memanyunkan bibir sebagai tanda ia takkan memaksa William atau pun Andrew menuruti keinginan untuk pergi keluar kamar tersebut.
Melihat Mauren bersedih, William tak kehabisan akal. Ia menyalakan layar televisi berukuran lebar di dalam kamar. Menekan channel pada sebuah stasiun televisi yang menayangkan drama korea.
Klik!
Sebuah drama korea berjudul Dodosolsollalasol menjadi titik tujuan William. Namun, tiba-tiba pasien wanita tersebut berdecak sebal dengan channel pilihan pria itu.
“Mengapa kau memilih tayangan itu, Will?” Mauren mengerutkan dahi.
William dan Andrew tak kalah memberenggutkan garis di wajah. Menatap heran pada seorang wanita di atas ranjang.
“Memang mengapa, Mauren? Bukankah kau memang menyukai drama korea?” Andrew bertanya. Mewakili ucapan William yang tertahan.
Mauren mengangguk.
Lalu, wanita itu berkata, “Aku bukan tak menyukainya. Hanya saja, dua minggu yang lalu aku sudah tuntas menonton drama itu. Jadi, sudah pasti channel itu adalah tayangan ulang,” Mauren bergumam. Bibir wanita itu masih merengut tak karuan.
“Aku bosan sekali berada di dalam kamar, Will, Drew,” Mauren menambahkan. Menatap dua pria di sana secara bergantian.
Hhh!
Helaan napas gemas terdengar. William merekahkan senyum. Kau itu masih tak berubah Mauren. Kau sangat mudah bosan. William membatin. Mengingat sosok wanita yang sudah lama ia kenal.
“Jika kau bosan, aku akan menyuruh Andrew berjoget di depanmu. Kau pasti akan merasa senang saat itu, bukan?” William berucap. Kemudian menatap lekat sang sahabat.
“Enak saja kau! Tidak, aku tak mau melakukannya,” Andrew menyanggah.
Mauren terkekeh. Lalu berkata, “Melihat kalian bertengkar seperti itu saja, ternyata sudah membuat rasa bosanku hilang.”
Pada akhirnya, mereka bertiga tertawa bersamaan.
Sementara itu, pada sebuah ambang pintu yang sedikit terbuka, sosok Brian tak henti menyaksikan interaksi yang berjalan intens; diantara sang kekasih dan dua orang sahabat pria.
Sungguh, Brian senang. Ia menjadi tahu, jika selama empat tahun berada di Inggris, Mauren sama sekali tak kesepian; karena memiliki William dan Andrew di sampingnya. Hanya saja, rasa cemburu tak dapat Brian pungkiri. Melihat sang pujaan yang teramat ia cintai, lebih dekat dengan pria lain, Brian tak mungkin tak iri hati. Namun, lagi-lagi Brian tak bisa berbuat banyak. Saat itu, ia hanyalah sebagian kecil dari masa lalu Mauren, yang terpaksa hilang dari dalam ingatan.
Aku sungguh menyesal, Mauren. Batin Brian. Bergerak menutup daun pintu berwarna cokelat di sana. Beralih mengajak sang adik untuk kembali pulang ke rumah.