PROOF

1551 Kata
William baru saja tiba di rumah sakit. Pria itu melangkah lebar. Menujukan tungkai pada lift yang ada di lobi. Segera masuk ke dalam ruang berbentuk persegi. Ting! Lift berdenting. William memutar tubuh ke arah kanan. Berjalan pada koridor lantai sembilan. Membidik kamar bernomor 9110 di sana. Sret, Pintu kamar berwarna cokelat bergeser. Netra William segera mendapati sosok wanita yang sedang duduk bersandar pada punggung ranjang. “Mauren?” William menyapa. Hhm, Mauren tak menyahut. Wanita itu hanya berdehem singkat. Bahkan, tak melirik sedikit pun pada sosok yang baru saja menghampiri ia. “Mengapa kau ketus sekali?” William bertanya. Sesaat usai berjalan mendekat ke arah ranjang. “Tidak, aku bersikap biasa saja.” Issh, “Kau itu!” William menyentuh wajah Mauren. Mengarahkan wajah berbentuk oval dengan kulit putih mulus itu tanpa permisi. Membuat netra muda-mudi itu beradu tatap pada jarak yang cukup dekat. “Kau pasti kesal karena kemarin aku tiba-tiba menghilang?” William menerka. Melepas tangan yang semula menyentuh dua sumbulan kenyal di wajah. Beralih duduk di kursi yang ada. Mauren menghembus napas panjang. “Aku tak kesal karena kau menghilang. Tapi, aku kesal padamu dan juga Papamu. Kalian berdua itu tak pernah kompak. Kau pasti tak ijin saat ingin menungguku. Dan, Papamu pasti tak mau tahu. Ia hanya bersikap egois padamu.” “Pasti Andrew yang bercerita, jika Papa memaksaku pulang, bukan?” William bertanya. Mauren mencebik. Bibir wanita itu berucap sembari manyun, “Tentu saja. Jika bukan dari dia, lantas kutahu dari mana? Memang, aku ini cenayang?” William terkekeh kemudian. Mauren bak sumber kekuatan ajaib. Wanita itu selalu mampu mengembalikan mood orang lain; hanya dengan merekahkan tawa sang lawan bicara. “Sudahlah, aku tak lagi ingin bercanda. Ngomong-ngomong, sedari kemarin aku ingin bertanya padamu, apa ponselku benar-benar rusak pasca kecelakaan itu?” Mauren mengubah topik pembicaraan. William mengalihkan pandangan. Sebenarnya, ponsel Mauren tak benar-benar rusak. Memori pada ponsel itu dapat dipulihkan. Namun, ucapan Brian yang meminta untuk memulai semua dari awal; seolah tak terjadi apa pun diantara Brian dan Mauren, membuat William harus berbohong. Sehingga, pria itu tak bisa memberi info; perihal memori ponsel yang dapat dipulihkan. “Iya, kau benar. Ponselmu rusak. Tapi, kau tenang saja. Aku akan memesankan ponsel baru untukmu,” William menyahut. Sedikit berkilah. Mauren mengangguk. Lalu, seorang perawat masuk ke dalam ruang. Berjalan bersama seorang dokter penanggung jawab. “Selamat pagi,” sosok berjubah putih menyapa pasien wanita. “Selamat pagi, Dokter.” “Bagaimana kondisinya? Apa semua baik-baik saja? Apa ada keluhan baru?” Dokter itu bertanya. Menatap lekat sang pasien sembari melakukan pemeriksaan. “Sebenarnya, sedari kemarin saya sudah mengeluh, Dok. Tapi, pria di samping saya ini tak peduli dengan keluhan saya,” Mauren menyahut. Gurat di wajah tampak serius. Sang dokter menarik kembali stetoskop yang ia gunakan. Lalu, menatap bergantian pada muda-mudi di dalam ruang. William sedang tersenyum masam. Ia tak paham dengan arah pembicaraan Mauren. “Memang, apa yang Anda keluhkan?” Dokter itu bertanya. Seorang perawat bersiap menulis rekam medis; mencatat keluhan baru yang hendak dilontarkan oleh pasien. “Saya mengeluh bosan berada di dalam kamar, Dok. Tapi, pria ini tak peduli pada keluhan saya,” Mauren menyahut santai. Menatap sekilas ke arah William. Sang dokter dan perawat spontan tercengang. Lalu, dokter tersebut tersenyum. Mengisyaratkan pandang pada seorang perawat untuk mengecek luka yang sedang dibalut oleh perban. Usai memastikan luka tersebut membaik, dokter mengarahkan agar sang pasien melakukan rontgen ulang. Setelah berbincang singkat, kunjungan dokter tersebut pun usai. Menyisahkan bayangan di dalam ruang. Tiba-tiba, William mengusap kasar puncak kepala Mauren. Lalu berdecak sebal, “Kau ini, membuatku khawatir saja. Aku kira kau benar-benar memiliki keluhan baru.” Mauren terkikik, “Maka dari itu, jika kau tak ingin kukerjai, kau harus menuruti kemauanku mulai dari sekarang. Apa gunanya kau berada di sini, jika tak bisa melengkapi kebutuhanku? Kau kan tahu, aku ini butuh sekali jalan-jalan. Aku mudah sekali bosan, William,” wanita itu memprotes. Berucap penuh penekanan. “Baiklah, baiklah. Setelah kau sembuh, aku akan mengabulkan semua permintaan jalan-jalanmu.” “Benarkah?” Mauren memelotot sumringah. “Tapi, kau harus ingat. Janjiku ini berlaku setelah kau benar-benar sembuh. Kau harus menggaris bawahi kalimat itu.” Issh! “Kau ini selalu kaku dan detail sekali,” Mauren mencibir gemas. Lalu, kembali merebahkan kepala pada sandaran ranjang. Di sela Mauren sibuk menonton sebuah drama korea pada layar berukuran lebar, William senantiasa mengupas beberapa buah-buahan. Yakni, apel dan buah pir. Usai mencuci buah tersebut hingga bersih, William menyuapkan potongan-potongan tersebut pada Mauren. Tiba-tiba, “Will, hentikan!” Mauren berdecak dengan mulut terisi penuh oleh makanan. William terbahak. “Kau pasti sengaja melakukannya,” Mauren memprotes. Benar saja, William suka sekali melihat mulut Mauren dipenuhi oleh makanan. Pipi wanita itu semakin menyumbul keluar. Membuat bibir tipis berwarna merah jambu tersebut semakin mengecil. William sontak menjadi gemas. Bahkan, pria itu sempat terpikir untuk mendaratkan ciuman. Hanya saja, ia masih waras. Tak mungkin melakukan hal intim seperti itu, di saat status mereka hanya sekedar teman dekat. Mauren, sampai kapan aku harus memendam perasaan ini? Bolehkah aku mengungkapkannya sekarang? William membatin. Sesaat usai melihat Mauren kembali berfokus pada televisi. “Will, apa yang sedang kau pikirkan? Jangan bilang, kau sedang melamun jorok hingga lupa menyuapiku lagi? Lihatlah, sekarang mulutku sudah kosong,” Mauren berucap. Melebarkan mulut. Menginfokan jika buah apel itu sudah terkunyah habis olehnya. William mendecap bibir. Lalu mencibir, “Kau itu keterlaluan. Tadi, kau memarahiku karena terlalu banyak menyuapimu. Sekarang, kau memarahiku lagi karena tak kunjung menyodorkan makanan. Wanita memang selalu benar.” Haha! Gelak tawa spontan terdengar. Mauren tak mampu menahan kekehan. “Baiklah, baiklah. Ke marikan piring itu. Aku akan memakannya sendiri saja,” Mauren meraih piring berisi beberapa potong buah yang tersisa. Tiba-tiba, Drrt drrt! Ponsel William berdering. Sontak membuat Mauren mengusir William dari dalam ruangan. “Kau angkat saja ponselmu di luar. Aku tak ingin pembicaraanmu mengganggu konsentrasiku menonton si oppa,” Mauren berujar. Menatap lekat oppa korea yang sedang menjadi pemeran utama. Tanpa menyahut, William mengacak-acak rambut Mauren. Beranjak dari duduk. Lalu, keluar dari dalam ruang perawatan. “Halo, Bik Sum?” William menyapa. Saat itu, pelayan di rumah baru saja menelepon sang majikan muda. “Halo, Den. Ini gawat, Den,” Bik Sum berucap panik. William mengerutkan sedikit garis di dahi, “Apanya yang gawat, Bik?” “Tuan Den, Tuan,” Bik Sum gelagapan. William hingga tak dapat menebak perihal yang hendak dibicarakan oleh pelayan di kediaman Haryasa. “Bik, Bik Sum. Tarik napas dulu. Lalu, hembuskan secara perlahan baru berbicara. Jika gelagapan seperti itu, saya jadi tak mengerti pada ucapan Bibik,” William mengarahkan. “Baik, Den.” Hah-huh! Hah-huh, Helaan napas yang sedang dibuat-buat terdengar hingga ke seberang. William spontan menggeleng heran. Bik Sum, Bik Sum. Kekeh William kecil di dalam hati. “Jadi, bagaimana Bik? Sekarang Bibik sudah bisa berkata perihal yang hendak Bibik katakan pada saya?” William kembali bertanya. “Iya, Den. Jadi begini, Tuan hari ini tak berangkat bekerja. Sedari Aden pergi keluar, Tuan marah-marah terus. Dan, sekarang beberapa pelayan lain diminta oleh Tuan untuk mengeluarkan barang-barang Aden dari dalam kamar.” Mendengar keterangan yang Bik Sum lontarkan, William tak heran. Sang ayah sudah pasti akan mengerahkan segala cara. Yakni, siasat agar William menuruti kemauan seorang Maxim Haryasa yang berkuasa. Jadi, ancaman perihal pengusiran saat pagi tadi, sudah pasti benar-benar terjadi. “Bagaimana ini, Den? Jika Aden diusir, lalu Aden akan tinggal di mana?” Bik Sum kembali bersuara. Menyampaikan rasa cemas di dalam d**a. “Bik, Bik Sum tenang saja. Bibik tak perlu khawatir seperti itu. Saya kan sudah dewasa. Saya bisa tinggal di mana saja. Jika memang Papa mengusir William, itu tandanya William sudah besar. Jadi, saya harus bertanggung jawab pada diri saya sendiri mulai dari sekarang.” “Tapi, Den?” Bik Sum melirihkan nada bicara. Tak kuasa kehilangan majikan muda, yang sudah disayangi bak cucu kandung sendiri. “Sudah, Bik. Bibik tenang saja,” William meyakinkan. Tiba-tiba, Suara amukan terdengar lantang. Berseru hebat agar para pelayan membawa keluar barang-barang William yang sudah dikemas. “Aduh, Den. Terus ini koper Aden harus Bibik apakan?” Bik Sum kebingungan. William berpikir sejenak. Lalu berkata, “Begini saja, Bik. Bibik minta tolong pada sopir di rumah untuk mengantar koper saya ke apartemen Andrew. Setelah ini, saya akan mengirim alamat apartemennya.” “Begitukah, Den?” “Iya, Bik. Sudah. Kalau begitu saya tutup dulu teleponnya,” William berpamitan. Panggilan segera berakhir. William mengulir kolom perpesanan. Mengetikkan sebuah alamat pada nomor ponsel seorang pelayan di kediaman Haryasa. Pesan terkirim. William kembali melangkah masuk ke dalam ruang perawatan. Saat itu, Mauren sedang tertidur pulas. Lebih tepatnya, wanita itu ketiduran usai merasa kenyang. William mendecap bibir. Menggeleng pelan. Merapikan selimut yang sempat berantakan. Berusaha menghangatkan seluruh bagian tubuh sang pujaan. Lalu, menggapai remote kontrol. Mematikan layar televisi yang menyala. Beralih menyentuh puncak kepala Mauren. Memandang lekat wajah seorang wanita, yang sedang ia cintai secara diam-diam. Mauren, aku tahu kau pasti akan marah saat mendapati aku diusir dari rumah. Kau paling tak suka pada seseorang yang membantah orang tua. Maka dari itu, sejak dulu kau amat menyukai Brian. Sahabatku itu memang selalu menurut pada Tante Fransiska dan Om Jonathan. Tapi, Mauren. Kali ini, aku bukan sedang membangkang. Aku hanya sedang ingin membuktikan. Jika, aku bisa menjadi pria mapan, tanpa harus menjadi seorang dokter atau pun menjadi seorang pekerja di perusahaan besar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN