Pagi ini.
Di meja makan. Jonathan sedang membicarakan hal cukup serius sembari melahap hidangan sarapan. Brian tampak enggan mendengar. Sedangkan Lucia terlihat antusias dengan topik pembicaraan.
“Kak, apa kau tidak mendengarkan apa yang Papa katakan?” Lucia berbisik heran.
Sang kakak tampak melahap nasi dan lauk tanpa menoleh kiri dan kanan. Pria itu seolah sengaja menghindar dari topik yang sedang dibahas.
“Kak?” Lucia mengguncang tubuh Brian.
“Tentu saja Kakak mendengarkannya, Lucia,” Brian menjawab dengan datar.
“Lalu?”
Huh!
Brian mendegus usai mendengar kalimat tanya dari Lucia. Pertanyaan itu seolah mengintimidasi Brian. Seorang pemuda yang sedang menjadi pusat pembicaraan. Yakni, obrolan perihal kedudukan yang akan Brian isi di perusahaan milik Jonathan.
Sebagai lulusan Inggris, Brian pantas mendapat salah satu jabatan. Hanya saja, terselip sebuah rasa enggan dipikiran Brian. Jika dahulu, pria itu antusias dalam mengejar jabatan yang akan ia emban, lain halnya dengan sekarang. Brian benar-benar tak memiliki ambisi.
Bagi Brian, sosok penyemangat dalam hidupnya kini tak lagi ada. Yah! Dulu, Brian ingin sekali segera lulus kuliah; agar dapat menjadi seorang Manajer Perusahaan. Namun, usai mendapati Mauren terbaring koma, Brian memudarkan semangat. Ia berdalih ingin menjadi seorang kekasih yang lebih baik dan perhatian saja.
“Kak, sadarlah. Kak Mauren sedang berjuang dari kondisi koma. Sedangkan Kakak justru seperti ini? Kehilangan tujuan? Please dong Kak, sudah pasti bukan hal itu yang kak Mauren harapkan,” Lucia berkata dengan penuh penekanan. Membuat wanita muda itu menjadi sorotan dari ketiga orang lain di meja makan.
“Adikmu itu benar, Brian. Mauren pasti sedang memberi waktu kepadamu, untuk menyiapkan kematangan mental dan finansialmu lebih dulu. Kau tahu sendiri kan, jika menikah itu tidaklah mudah?” Fransiska menambahkan. Ia berharap sang putra dapat terlepas dari penyesalan. Segera bangkit dari keterpurukan.
“Lagi pula, Mauren pasti akan sadar, Brian.” Jonathan menimpali sahutan sang istri.
Dari sekian banyak orang, Brian merupakan sosok putra pertama yang paling beruntung. Ia memiliki sebuah keluarga yang selalu mendukung. Mengingatkan ia ketika lengah. Menyemangati ketika lelah. Yah! Jonathan, Fransiska dan Lucia; tanpa mereka Brian bukanlah apa-apa.
Usai menenggelamkan pikiran, Brian akhirnya tersadar. Bagaimana pun, ia harus tetap menepati janji pada sang kekasih. Yakni, janji untuk menikahi Mauren Alisea Manopo; seusai ia berhasil menuntaskan studi di luar negeri.
Aku harus berjuang di perusahaan, sebagaimana Mauren sedang berjuang di ranjang perawatan. Brian bersimpul dengan penuh keyakinan.
“Baiklah, Pa. Setelah ini Brian akan bersiap untuk ikut ke kantor bersama Papa.”
Mendengar ucapan Brian, semua orang di meja makan spontan menghela napas dengan lega. Senyum terukir di dalam bibir mereka. Kedua orang tua itu bersyukur, akhirnya semangat sang putra sulung kembali membara.
******
Sementara Brian pergi ke Perusahaan Wijaya, William justru mengendarai mobil sport menuju rumah sakit. Pria itu hendak menjumpai Mauren. Seorang pasien yang masih belum menunjukkan tanda-tanda kesadaran.
Usai membahu jalan selama beberapa menit, William memarkirkan mobil pada halaman parkir rumah sakit.
Berbalut celana panjang berwarna biru gelap, kaos berlengan pendek berwarna abu-abu, dibarengi dengan kaca mata pria, William terlihat mencolok mata beberapa pengunjung di sana. Tanpa menunggu lama, William spontan menjadi pusat perhatian para wanita.
******
Ting!
Lift berdenting. William segera keluar dari ruang berbentuk persegi, sesaat usai mendahulukan penumpang lift yang lain.
Langkah kaki yang lebar, membuat William tak butuh waktu lama untuk sampai ke ruang bertuliskan ICU.
Benar saja, pagi itu adalah jadwal besuk untuk para keluarga pasien. Dengan langkah cepat, William segera masuk ke dalam ruang perawatan. Sebuah ruang yang identik dengan bau tajam obat-obatan.
William mengukir senyum di wajah. Ia bertekad akan selalu ada, meski Mauren sedang terbaring koma.
“Mauren, tidakkah kau ingin segera bangun dari tidurmu?” William bertanya.
Pria itu memberanikan diri untuk menautkan jemari miliknya dengan jemari Mauren. Jemari lentik yang terbebas dari alat penunjang perawatan. William tak henti menggenggam tangan Mauren. Lalu, memberi sedikit tepukan pelan. Ia tak lupa berharap agar Mauren segera tersadar.
William terus menemani Mauren. Sesekali ia merapikan selimut yang tampak tak rapi. Pria itu tak ingin membuat orang yang ia cintai merasa kedinginan.
******
Dua puluh menit berlalu.
Seorang perawat menghampiri William. Berucap jika mereka hendak melakukan tirah baring pada pasien yang mengalami koma.
William dengan cekatan membantu memiringkan tubuh Mauren. Tentu, sesuai instruksi yang diberi oleh keempat perawat di sana. Pria itu terlihat sangat hati-hati. Tak ingin ada satu bagian tubuh pun yang menjadi tersakiti. William tahu betul jika kecelakaan yang Mauren alami, menyebabkan beberapa cidera terjadi.
Sewaktu Mauren sedang dimiringkan, sebuah perban yang terbalut rapi pada sisi belakang kepala sontak terpampang jelas. Bagian vital itu diperban usai menjalani operasi pada beberapa saat lalu. Dan, William? Ah! Pria itu tak tahan melihat Mauren dimiringkan. Hatinya seolah tersayat sembilu. Seraya juga merasakan rasa sakit yang sedang Mauren rasakan saat itu.
“Terima kasih ya, sus,” William berucap, sesaat usai para perawat mengembalikan posisi tubuh Mauren dengan hati-hati.
William kembali duduk pada sebuah kursi, tangan kanan pria itu dengan sigap menggenggam tangan Mauren. Sungguh William tak ingin melakukan hal itu selama satu jam. Rasanya, William sangat ingin berada di sana selama mata Mauren masih terpejam.
“Apa kau sengaja tidur agar aku menemanimu di sini, Mauren? Meski begitu, jangan lakukan hal ini kepada kami. Masih banyak orang di luar sana, yang berharap kau terbangun kembali. Maka kembalilah Mauren. Bangunlah. Jumpai kami. Aku merindukan tawamu yang selalu memecah itu,” William berucap lirih. Pandangan pria tersebut terus menatap lekat sosok Mauren, yang sedang terbaring.
“Apa kau tahu, tempat makan di seberang kampus, sedang menunggu kedatanganmu. Bukankah kau selalu mengajakku ke sana, tiap kali perutmu merasa lapar? Lantas, bangunlah Mauren. Aku tahu kau paling tidak bisa menahan perut yang keroncongan. Dan, tertidur seperti ini akan membuatmu kehilangan energi.”
“Bangunlah, Mauren. Aku tahu ini cukup terlambat. Tapi, aku ingin mengatakan perihal perasaanku ini padamu. A-aku,” William menghentikan ucapan. Ia seolah ingin menjeda kalimat, karena tak tahan dengan rasa sedih yang menerjang.
“Aku mencintamu, Mauren,” tegas William kemudian.
“Jadi, aku mohon bukalah matamu. Lihatlah, aku di sini, Mauren,” William melanjutkan.
Ia bersungguh-sungguh tak akan memendam perasaan lagi.
Tiba-tiba,
Sebuah gerakan tangan membuat William tercengang. Pria itu spontan melebarkan bola mata. Ingin memastikan getaran yang baru saja ia rasa.
“Mauren, apa kau benar-benar sudah terbangun?” William memekikkan suara kemudian.
"DOKTER? SUSTER? Cepatlah, ke mari!"