Di sela Lucia dan Priscilla berdebat, William datang menghampiri kedua wanita yang saat itu sudah berada di luar ruang ICU.
“Apa yang sedang kalian perdebatkan di rumah sakit seperti ini?” William menegur.
Lucia beralih dari posisi semula. Menghampiri William. Menanyakan kondisi Mauren pada pria tampan di sana.
“Apa Kak Mauren baik-baik saja?” Lucia bertanya. Mengalihkan pandangan menuju dalam ruang ICU. Yakni, pada kerumunan di salah satu sudut yang masih berlangsung saat itu.
William melongo. Lalu, ia berkata, “Tentu saja, Lucia. Tentu Mauren baik-baik saja. Meski..”
“Meski apa, Kak?” Lucia memelototkan mata. Tak sabar mendengar jawaban dari William.
“Meski, Mauren sekarang sedang berada di kamar operasi,” William menerangkan.
Lucia berdecak, “Jadi, pasien yang sedang kritis di dalam ruang ICU itu bukan Kak Mauren?”
William terheran dengan simpulan Lucia, “Tentu saja, bukan. Dia adalah pasien lain. Mauren baik-baik saja, operasinya sedang berjalan lancar. Dokter bilang dua jam lagi, operasi kedua yang Mauren jalani akan selesai.”
Huh!
Lucia mendengus. Menghampiri Priscilla. Tangan kanan wanita itu spontan menjambak rambut kecokelatan milik sang lawan bicara.
“Berani-beraninya kau membohongiku, hah?” Lucia memekikkan suara. Menatap tajam manik mata Priscilla.
Priscilla tak menyahut. Wanita itu menarik salah satu sudut bibir menjadi cengiran tak bersalah.
“Salah kau sendiri, menyimpulkan secepat itu.”
“Sialan, kau!” Lucia marah. Menghempas tajam cengkraman tangan pada rambut Priscilla.
“Sudah hentikan. Apa kalian tak sadar sedang berada di rumah sakit?” William menimpali. Geram terhadap perilaku dua orang wanita di hadapannya.
“Lagi pula, mengapa kau belum pulang juga, Prisc? Aku sudah menyuruhmu pulang sedari tadi,” William beralih menatap Priscilla.
“Sudah beberapa hari ini, Brian tak membalas pesanku. Jadi, aku sengaja menunggu Brian di sini. Sudah pasti, ia akan membesuk Mauren di saat jam besuk dimulai. Eh, bukan bertemu Brian, aku justru bertemu wanita sialan ini,” Priscilla menyahut. Mencibir Lucia dengan gerakan mulut.
“Kau yang sialan!” Lucia berujar lirih. Tak mau kalah pada lawan bicara.
“Lagi pula, Kak Brian takkan datang,” Lucia menambahkan.
Priscilla mengernyitkan dahi. Lalu, gurat wajah wanita itu berpindah bahagia.
“Apa itu pertanda jika Brian tak lagi peduli pada Mauren? Cih! Seharusnya, Brian melakukan hal itu sejak dulu.”
“Tutup mulutmu, Priscilla. Brian sudah pasti memedulikan Mauren. Sudahlah, kau pulang saja,” William menyergah. Mengusir Priscilla untuk kali kedua.
******
Satu jam sebelum operasi Mauren selesai.
“Lucia, apa kau tak bisa duduk?” William bertanya. Menatap adik perempuan Brian yang tak henti mondar-mandir. Sudah satu jam, wanita itu berjalan sembari menggigit kuku berulang.
“Aku tak bisa tenang, Kak. Sedari tadi, Kak Brian menanyakan kondisi Kak Mauren padaku,” Lucia menyahut. Menyodorkan ponsel yang menyala. Beberapa pesan dari Brian, tampil di dalam layar.
William tak terkejut. Brian sudah pasti posesif jika menyangkut wanita yang ia cinta.
“Kalau begitu, balas saja pesan itu. Katakan pada Brian jika Mauren sedang berada di ruang operasi,” William menasehati.
Lucia beralih duduk di samping pria bertubuh jenjang. Lalu, mengerutkan wajah sembari berkata, “Apa kau sudah tidak waras, Kak? Jika aku berkata demikian pada Kak Brian, ia pasti akan khawatir setengah mati. Aku tak ingin Kak Brian meninggalkan perusahaan sebelum jam kerja berakhir.”
“Sebentar, kau berkata apa tadi? Perusahaan?” William mengkonfirmasi.
Lucia menganggukkan kepala.
“Sudah dua hari ini, Kak Brian tak bisa menjenguk Kak Mauren karena sedang bekerja di Perusahaan Wijaya,” wanita itu menginfokan.
Pantas saja. William bersimpul kemudian.
Seketika, ia teringat pada ultimatum sang ayah. Sudah beberapa bulan belakangan, Maxim ingin sekali William menempati salah satu jabatan di Perusahaan Haryasa. Namun, pria itu terus membangkang. Berdalih akan membuktikan pada sang ayah, jika ia bisa menghasilkan uang tanpa harus bekerja di perusahaan. Dan, mengetahui fakta jika Brian sudah bekerja di perusahaan, membuat William kesal. Ia tak mau jika sang ayah kembali membanding-bandingkan ia dengan Brian.
“Kak? Kau melamun?” Lucia memecah pemikiran William.
“Tidak,” William menyanggah.
Hening sesaat.
Sebelum pada akhirnya, William bertanya suatu hal pada Lucia.
“Lucia, apa menurutmu menjadi pemain band adalah hal yang salah?”
Lucia menautkan alis. Tak paham dengan maksud pertanyaan sahabat kakaknya.
“Pemain band? Hhm, bagiku bermain musik cukup sebagai hobi. Jika kau ingin menjadi pemain band, maka lakukan saja. Toh, itu urusanmu. Bukan urusanku,” Lucia menyahut santai. Wanita itu sama sekali tak bisa peka pada pria.
Issh!
“Ini memang salahku. Aku salah bertanya pada gadis kecil sepertimu. Jawabanmu itu terlalu ringan. Tak memiliki bobot untuk pria dewasa sepertiku.”
Cih!
Lucia berdecik, “Sok-sokan kau, Kak. Lagi pula, aku, kau, Kak Brian dan Kak Andrew, kita itu hanya beda dua tahun. Bisa-bisanya kau menyebutku gadis kecil!” Lucia mencibir kesal. Melayangkan tinju pada lengan kekar William.
William merekahkan tawa. Setidaknya, tingkah Lucia mampu mengaburkan perihal ultimatum sang ayah. Meski, hingga sekarang William masih kehilangan arah. Mengingat, selama empat tahun berada di samping Mauren, hanya wanita itulah yang mendukung cita-cita William. Membuat William yakin, jika ia bisa menghasilkan uang dengan menjadi seorang gitaris ternama.
******
Satu jam kemudian.
Seorang dokter mulai menampakkan diri dari dalam ruang operasi. Dokter itu baru saja menuntaskan operasi kedua pada cidera kepala yang dialami oleh sang pasien.
“Dok, bagaimana keadaan Mauren? Apa dia baik-baik saja?” William bertanya. Sesaat usai beranjak dari duduk.
Dokter itu mengangguk. Lalu, berkata, “Operasi pasien atas nama Mauren, telah berjalan lancar. Namun, kami tak dapat memastikan jika pasien akan segera sadar.”
William dan Lucia spontan menghembuskan napas panjang. Setidaknya, mereka masih bisa menaruh harapan. Mengingat, kecelakaan yang menimpa Mauren cukup parah. Sehingga, sudah pasti pasien tersebut harus berjuang lebih keras dibanding dua pasien lainnya.
Dokter itu kembali melanjutkan langkah. Meninggalkan dua muda-mudi yang sedang bernapas lega.
“Kau lihat kan, Mauren pasti baik-baik saja,” William berkata.
******
Tak lama kemudian,
Dua orang dewasa menghampiri mereka berdua. Wajah pria dan dan wanita itu mirip sekali dengan sosok Mauren. Akhirnya, sosok Martin dan Jessy datang berkunjung untuk menjumpai putri semata wayang mereka.
“Tante? Om?” Lucia menyapa.
Martin dan Jessy memperhatikan Lucia dengan seksama. Jessy terlihat mengingat sosok Lucia. Namun, Martin? Pria itu lupa pada putri kedua sahabatnya -Jonathan Wijaya.
“Saya Lucia Stevani Wijaya, Om,” Lucia berkata. Sesaat usai melihat gurat lupa pada wajah Martin.
“Benar, Pa. Gadis ini adalah putri Jonathan,” Jessy membenarkan.
Martin mengangguk. Lalu, mengalihkan pandangan pada pria muda di samping Lucia.
“Oh, ini Kak William, Om. Dia sahabat Kak Brian,” Lucia memperkenalkan.
William memberi salam pada Martin dan Jessy. Benar saja, selama berteman dengan Mauren, William tak pernah berjumpa dengan Martin dan Jessy. Dua orang tua tersebut, tak pernah menampakkan diri di sekolah mau pun di kampus putri semata wayang mereka. Selama ini, Mauren benar-benar mengurus dirinya secara mandiri.
“Apa operasi Mauren sudah selesai?” Jessy bertanya. Menujukan kalimat itu pada Lucia.
“Benar, Tante. Apa Tante dan Om ingin menunggu Kak Mauren dipindahkan ke kamar perawatan?”
Jessy mendecap bibir. Lalu, memandang sang suami.
“Tidak, Lucia. Sepertinya, Tante dan Om akan segera pergi. Kami hanya mampir sejenak di saat istirahat rapat. Setelah ini, kami akan kembali terbang ke Amerika,” Jessy menginfokan.
Lucia spontan menelan ludah.
“Mari, Pa. Kita harus mengurus administrasi Mauren,” Jessy berucap pada Martin. Meninggalkan Lucia dan William begitu saja usai berpamitan.
Issh!
“Mereka itu mengesalkan sekali!” Lucia mengeram. Mengertakkan gigi karena ulah Martin dan Jessy yang spontan beranjak pergi.
“Tenanglah, Lucia. Setidaknya, Mauren masih memiliki kita di sini,” William mencoba menenangkan adik perempuan Brian. Meski, sebenarnya William tak habis pikir dengan Martin dan Jessy. Kedua orang tua itu, benar-benar tak peduli pada putri semata wayang yang sedang memperjuangkan jalan kehidupan.