Pagi ini.
“Ma? Kak Brian kok nggak ada di dalam kamar?” Lucia bertanya. Sesaat usai menjumpai sang ibunda di ruang makan.
Alih-alih menjawab, Fransiska justru menyodorkan sesuap sendok berisi masakan yang ia buat.
“Enak nggak, sayang?”
Lucia mengerutkan dahi. Bukan karena rasa masakan Fransiska yang tidak enak. Melainkan, karena rasa penasaran yang merayap ke dalam hati.
“Enak, Ma. Tapi, seriusan ini. Kak Brian pergi ke mana? Lucia baru saja ke kamarnya, tapi Kak Brian nggak ada di dalam kamar,” Lucia mengulang pertanyaan.
“Kakakmu itu, entah berada di rumah sakit atau berada di rumah, sama saja. Dia takkan absen menjenguk Mauren,” Fransiska menginfokan.
“Hah? Kak Brian sudah berangkat ke rumah sakit? Issh! Mengapa tak mengajak Lucia, sih,” wanita berparas elok itu berdecak sebal.
Fransiska spontan menyentil ujung hidung sang putri, “Bagaimana mau mengajakmu, orang kamu saja masih molor sedari tadi.”
Huh!
Lucia menghembuskan napas dengan berat. Memang benar, ia bak mahasiswi rantau yang jetlag usai sampai di rumah. Kasur empuk di dalam kamar pribadi miliknya, seraya memaksa wanita itu tidur pulas di atas ranjang. Bahkan, ia baru mengerjap mata pada pukul sepuluh siang. Sudah jelas, Brian takkan menunggu Lucia yang terlambat bangun pada hari itu.
“Ya sudah, kamu buruan mandi sana,” Fransiska mengingatkan.
Alih-alih bangkit dari tempat duduk, Lucia kembali melontarkan pertanyaan.
“Memangnya Kak Brian berangkat ke rumah sakit sama siapa tadi, Ma? Diantar Papa, ya?”
Fransiska menggeleng. Ibu muda itu masih sibuk meracik bahan masakan kedua.
Lucia mengerutkan dahi, “Terus, sama siapa dong?”
“Sama Priscilla.”
“HAH?”
Fransiska meletakkan spatula. Mengurungkan niat saat hendak menggoreng ikan ke dalam minyak panas.
“Mengapa kau terkejut seperti itu, sayang?”
Lagi-lagi, Lucia bertindak semaunya. Alih-alih memberi jawaban, ia justru berlari bak orang kesetanan.
******
Satu jam kemudian.
Lucia sudah berada di rumah sakit. Ia baru saja memarkirkan mobil hatchback berwarna silver miliknya. Wanita itu berjalan keluar dari dalam mobil.
Lucia melangkah penuh percaya diri. Ia tinggal meminta info di pusat informasi, atau mengecek papan digital yang menuliskan lantai ruang perawatan ICU berada. Setelah itu, Lucia akan tiba menjumpai Brian dan Mauren di sana.
Ting!
Lift berdenting pada lantai yang ia tuju. Lucia terus mengedarkan mata pada petunjuk arah. Namun, tiba-tiba langkah wanita itu terhenti. Lucia berhenti berpijak usai mendapati dua insan yang ia kenal.
Alih-alih menyapa, Lucia justru berjalan mengendap-endap. Wanita itu berlaga seolah hendak menguping pembicaraan dua muda-mudi pada salah satu sudut ruang.
Tiba-tiba,
Puk!
Seseorang menepuk pundak Lucia dari arah belakang. Ia spontan menoleh keheranan.
“Kak Andrew?” Lucia menyapa. Nada bicara wanita itu sedikit memekakkan gendang telinga.
“Mengapa kau bersembunyi di balik tembok, Lucia?” Andrew bertanya. Suara berat pria itu membuat Lucia bergerak cepat. Lucia menjinjitkan tungkai. Lalu, meraih bibir Andrew yang terbuka.
Sstt!
Lucia mendesis. Mengisyaratkan agar Andrew berhenti bicara.
“Ada apa?” Andrew berkomat-kamit tanpa suara. Pria itu mengikuti gerak Lucia yang bersembunyi.
“Lihatlah,” Lucia mengarahkan pandang. Menatap William dan Priscilla.
“Siapa wanita itu?” Andrew berbisik. Ia tak tahu siapa wanita yang sedang berbincang dengan William.
Issh!
“Kalian ini bersahabat atau tidak? Masa kau tak mengenal wanita yang sedang dekat dengan sahabatmu sendiri?” Lucia mencibir gemas.
Andrew menimpali dengan sorot mata tajam. Meski begitu, Andrew tampak santai.
“Sudahlah, kita hampiri saja mereka. Untuk apa bersembunyi seperti ini?” Andrew memutuskan mengakhiri aktivitas bersembunyi.
Namun, Lucia menarik lengan Andrew. Membuat pria itu terperangah. Kembali melangkah ke arah Lucia.
Ya ampun, Brian. Adikmu ini ada-ada saja. Andrew bergumam pelan.
“Wanita itu bernama Priscilla, Kak. Apa kau sungguh-sungguh tak mengenalnya?” Lucia bertanya. Meski begitu, sorot matanya sibuk memperhatikan William dan Priscilla.
"Priscilla?"
"Iya, Kak. Namanya Priscilla. Apa kau mengenalnya?"
Andrew mengerlingkan mata ke arah atas. Pria itu berusaha mengingat nama yang tak asing di telinga. Setelahnya, Andrew menghela napas pada Lucia.
Hhh!
“Apa aku pernah berbohong padamu, Lucia? Tentu saja, jika aku bilang tak mengenalnya, sudah pasti aku tak mengenal wanita itu,” Andrew menyahut. Menoyor kecil kepala Lucia.
Aw!
“Kau ini!” Lucia menghujam d**a lebar Andrew dengan kepalan tangan.
Sesaat kemudian, William dan Priscilla berpisah. Mereka tak lagi menjadi pusat perhatian Lucia.
Pada akhirnya, dua orang yang sedang bersembunyi itu melipir pergi. Alih-alih menjumpai Brian, mereka justru berbincang.
“Sejak kapan kau kembali ke Indonesia?” Andrew bertanya.
Lucia mendecap bibir, “Kemarin, saat Kak Brian keluar dari rumah sakit.”
“Oh,” Andrew ber-oh ria. Pria itu memanggut-manggutkan kepala.
Lucia memang cukup akrab dengan Andrew. Dibanding dengan William, wanita berparas cantik itu lebih cocok bercengkrama dengan Andrew yang pecicilan.
Brian, Andrew dan William adalah tiga serangkai sejak SMA. Mereka bertiga sudah bersahabat karib semenjak menggunakan seragam yang sama. Namun, hubungan Brian dan William sempat memudar. Kedua pria tampan itu sempat memiliki masalah pribadi. Bukan perihal wanita, tentu saja persoalan itu terlalu klise bagi mereka. Sedangkan, Andrew? Ah, pria berbadan jakung itu merupakan satu-satunya yang berbeda; dari dua pria lain. Andrew selalu pecicilan, banyak bicara dan serampangan.
“Oh iya, Kak. Ngomong-ngomong kau tahu dari siapa jika Kak Brian dan Kak Mauren mengalami kecelakaan? Bukankah kalian sudah lama tidak berhubungan semenjak Kak Brian pergi ke Inggris?” Lucia bertanya penasaran.
Andrew sontak menggaruk tengkuk yang tak gatal.
“Sudahlah, itu tak penting. Mari kita menjumpai Mauren saja. Kau ke mari untuk menjenguk Mauren, kan? Bukan untuk mojok bersamaku seperti ini?” Andrew menyahut. Mengalihkan pembicaraan.
Issh!
“Kau itu masih sama saja, Kak! Masih kecentilan,” Lucia mencibir untuk kali kedua. Wanita itu beranjak dari duduk. Mengikuti langkah Andrew yang berjalan mendahului. Menyampingi pria tampan bertinggi seratus delapan puluh centi.
“Lucia, apa kau masih jomblo?” Andrew berceletuk.
Lucia mengerutkan dahi, “Baru saja kubilang kau kecentilan, eh sudah mulai lagi!” Lucia melayangkan bogem pada bahu sisi kiri Andrew.
Pria itu merendahkan kepala. Berbisik lirih setelahnya, “Kecentilan itu sebutan bagi wanita. Apa yang aku perbuat ini namanya sebuah usaha, bukan kecentilan.”
Lucia menjauhkan posisi kepala. Melirik tajam pada Andrew yang sedang menyeringai kepadanya.
Tak lama kemudian, Lucia dan Andrew tiba di ruang tunggu ICU. Mereka hanya mendapati William di sana. Sedangkan, Priscilla? Wanita itu sudah tidak ada.
Lucia berjalan ragu saat menghampiri sahabat sang kakak yang dingin itu.
“Kau sudah pulang ke Indonesia, Lucia?” William menyapa. Dingin. Tentu, sekedar untuk berbasa-basi saja pada Lucia.
Lucia berdehem. Lalu, mengangguk setelahnya.
“Kak Brian di mana?”
William menoleh ke arah belakang. Mengisyaratkan jika sahabatnya masih berada di dalam ruang perawatan.
“Mengapa Kak William tidak masuk?” Lucia bertanya.
Bukankah tujuan dua pria itu datang, adalah untuk menjenguk Mauren?
“Aku sudah masuk tadi. Kau masuklah,” William menyahut singkat.
Lucia memanggut-manggutkan kepala. Lalu, berjalan memasuki koridor. Menuju pintu kaca yang terbuka otomatis setelahnya. Menggunakan apron dan sandal khusus ruang ICU.
Bayangan Lucia yang menghilang, membuat Andrew ingin melontarkan rasa penasaran. Pria itu segera melayangkan pertanyaan.
“Will, kau tadi sedang bersama siapa sewaktu berada di ujung tangga?”
William menaikkan sudut alis. Ia bak baru saja ketahuan oleh sang sahabat.
“Aku tak bertemu dengan siapa-siapa,” William berkilah. Mengalihkan pandangan dari Andrew.
“Kau jangan berbohong padaku! Lucia tadi berkata, jika wanita yang sedang mengobrol denganmu itu bernama Priscilla. Jangan bilang, kau masih berhubungan dengan wanita itu?” Andrew bertanya. Menatap penuh selidik pada William.