Nanda menatap Bintang dengan rasa bersalahnya. Kedua tangannya ditautkan ke depan seolah memohon ampun. "Bin, maaf." Bintang menggeleng tegas, "Tidak semudah itu, Sayang," ucapnya jahil sembari mengerling. "Aku ganti deh, beneran. Suwer, nggak bohong!" Nanda berusaha merayu Bintang. "Nggak mau! Aku udah nyaman banget sama ranjang ini. Jadi, kamu harus benerin!" ancam Bintang. Wajah Nanda tampak memelas. Semangatnya pun memudar. Bintang yang melihat Nanda jadi galau, dalam hati rasanya ingin sekali dirinya bersorak. Bintang terkekeh, "udah, nggak usah dipikirin, ah! Ranjang patah bisa dibeli. Kalau teman yang tulus kayak gini, susah dicarai." Nanda merasa begitu haru. Ia pun langsung berhambur di pelukan Bintang. "Peluk!!!" rengek Nanda. Bintang merentangkan tangannya lebar-lebar.

