13. Dokter Adryan

2173 Kata
Pagi ini, waktunya Bintang untuk kontrol. Setiap tiga bulan sekali, Bintang wajib kontrol ke rumah sakit untuk memantau kesehatan penyakitnya. Jam 8 pagi, Bintang sudah bersiap. Ia buru-buru ke rumah sakit karena harus mengambil antrian registrasi agar tidak mengantri lama. Bintang berangkat menggunakan taksi online, karena tidak ada satu orang pun di rumah, sementara orang-orang rumah sudah berangkat kerja semua. Di rumah sakit, Bintang menunggu antrian registrasi. Dirinya bersyukur karena masih mendapat antrian nomor 17. Mengingat jumlah pasien poli penyakit dalam bisa berjumlah ratusan setiap harinya, jadi ia tidak perlu menunggu lama. Setelah selesai melakukan pendaftaran, Bintang langsung beralih ke ruangan poli. Di sanalah tempatnya menunggu giliran diperiksa. Pemeriksaan belum dimulai. Pemeriksaan akan dilakukan pada pukul 09.30. WIB. Sedangkan, sekarang masih pukul 08.30. WIB. Masih ada sisa waktu satu jam lagi untuk menunggu dokternya datang. Bintang yang bosan menunggu, akhirnya ia menggunakan ponsel pintar miliknya untuk mengusir rasa jenuhnya. Ia mencoba membuka aplikasi f*******:. Di beranda, Bintang berusaha keras menahan tawa, karena terdapat beberapa postingan lucu yang bisa mengundang gelak tawa para pembacanya. Saat lagi seru-serunya melihat beranda-beranda f*******:, Bintang dikejutkan dengan suara pesan dari Langit. Tak sampai 2 menit, Bintang sudah beralih pada aplikasi WhatsAppnya. Bintang membuka bagian room chat-nya bersama Langit. Langitku: Selamat pagi, Bintangku. Dengan cepat, Bintang mengirim balasan untuk Langit. Bintang: Pagi juga Langitku. Gimana kerjaannya? Aman, ‘kan? Pesan pun terkirim untuk Langit. Tak lama, balasan dari Langit menghiasi layar ponsel canggihnya itu. Langitku: Beres, Sayang. Bersyukur banget punya tim yang bisa diandalkan. Mereka semua sangat profesional. Aku merasa sangat terbantu. Langitku: Kamu sekarang di mana? Lagi di rumah ‘kan? Kuliahmu kan libur. Berarti bisa ngetik naskah banyak dong hari ini? Entar malem aku mau gangguin. Bintang terkekeh di tempatnya. Kebiasaan Langit setiap malam adalah menganggu Bintang, walau hanya sekedar menemaninya sleep call. Bintang: Ya ampun, bawel deh kek cewek. Bintang: Aku nggak lagi di rumah, Mas. Bintang: Aku Lagi ada jadwal kontrol ke rumah sakit. Bintang: Ini aku masih nunggu di poli. Mana dokternya belum datang. Bintang: Jadi harus nunggu dulu. Bintang: Nunggu sejam lagi. Bintang: Bosan!!! Langitku: Ke rumah sakit sama siapa? Bintang: Sendiri. Tadi naik taksi online. Langitku: Maaf ya, aku gak bisa anter. Coba aja aku di rumah. Langitku: Kamu hati-hati. Jangan genit-genit. Langitku: Kalau belum makan, cari makan dulu. Bintang: Iya. Udah, kamu lanjut kerja dulu deh. Bintang: Aku nggak papa kok. Lagian, mau genit sama siapa? Dokternya udah tua, Mas. Mana jenggotan lagi. Tapi orangnya baik, asik juga. Beliau sudah kuanggap seperti ayah sendiri. Langit: Ya sudah, aku lanjut kerja dulu. Nanti, kalau ada apa-apa kamu langsung hubungin aku ya? Bintang: Iya, Mas. Langit: Oke. Bintang hanya membaca pesan terakhir dari Langit. Ia pun kembali menatap beranda Facebooknya. Setelah beberapa lama menunggu, akhirnya dokter spesialis penyakit dalam datang. Bintang menarik napasnya lega. Bintang melirik momor antrian yang bertuliskan angka tujuh belas. masih lumayan lama. Ia pun menunggu giliran diperiksa dengan kembali berkutat pada ponsel. Di dekatnya, seorang nenek dengan jalan yang sedikit terseok, berdiri dengan seorang gadis perempuan. Bintang yang tidak tegaan, ia pun mengalah. Dirinya mempersilakan sang nenek untuk menempati kursinya. "Mbak, Neneknya suruh duduk sini," ujar Bintang pada perempuan yang ia yakini cucu dari si nenek. perempuan itu mengangguk, lalu membantu neneknya berjalan ke kursi yang tadi Bintang duduki. "Makasih, Mbak," ujarnya tulus pada Bintang. Bintang pun mengangguk, "Sama-sama, Mbak. kalau boleh tahu, neneknya sakit apa?" Bintang mencoba berinteraksi dengan orang yang baru dikenalnya. Lumayan, setidaknya itu bisa mengurangi kejenuhannya. Gadis itu menatap Bintang. Tatapannya berubah sendu kala netranya beralih menatap nenek yang sepuh itu. "Nenek saya sakitnya bermacam-macam, Mbak. Organ dalamnya sudah mengalami komplikasi. Ada hipertensi, ada diabetes sampai menyerang ginjalnya. Sebulan sekali harus cuci darah. Diabetesnya juga sudah menyerang pendengaran Nenek." Bintang menutup mulutnya. Rasa syukur berkali-kali ia ucap dalam hati. Ternyata, masih banyak diluar sana yang mendapat ujian jauh lebih berat. "Astaghfirullah, Mbak yang sabar ya. Semoga neneknya bisa segera pulih," ucap Bintang dengan menepuk bahu perempuan itu. "Terima kasih, Mbak. Mbaknya mau ke poli juga? Siapa yang sakit?" Bintang tersenyum getir kala mengingat penyebab ia harus mengunjungi tempat ini. "Hehe ... saya sendiri, Mbak, yang sakit. Saya terkena diabetes di usia muda." Perempuan itu menepuk pundak Bintang. "Yang sabar, Mbak. Semua penyakit ada obatnya. Obat yang paling mujarab datangnya dari Allah. Jangan putus asa ya, Mbak! semangat selalu." Bintang tersenyum manis, "Terima kasih, Mbak." Di sela obrolan keduanya, pintu poli tiba-tiba terbuka, lalu menampakkan seorang asisten dokter yang bertugas “Pasien nomor 17,” ucap asisten dokter pada para pasien kontrol. "Mbak, saya duluan ya," pamit Bintang "Silakan.". Bintang pun segera masuk ke dalam. “Selamat pagi Dokter Bam—“ Bintang menghentikan ucapannya, saat ia melihat jika bukan Dokter Bambang yang ada di ruangan. Bintang pun terheran sekaligus salah tingkah. Tumben, bukan Dokter Bambang yang bertugas. Karena biasanya, Dokter Bambang yang menjadi dokter spesialis untuk Bintang. Bintang juga sudah begitu akrab dengan Dokter Bambang. Bahkan, kedekatan hubungan keduanya bisa dikatakan seperti anak pada bapaknya. Apa dirinya salah jadwal kontrol? “Eh, maaf. Saya kira tadi Dokter Bambang,” ujar Bintang merasa tak enak. Dokter muda yang sedang duduk manis di kursi kebesarannya pun terkekeh. “Iya, nggak papa. Santai saja,” ucapnya ramah. “Tadi saya pikir Dokter Bambang, jadi saya asal sapa,” terang Bintang dengan jujur. “Iya, nggak usah merasa bersalah gitu. Sepertinya, kamu dekat sekali ya, sama Dokter Bambang?” tanya dokter muda yang tampan dan perkasa itu. Bintang mengangguk. “Deket banget. Beliau sudah saya anggap seperti ayah saya sendiri. Ngomong-ngomong, Dokter Bambang ke mana? Pak Dokter nggak salah masuk ruangan, ‘kan? Apa saya yang salah jadwal ya?” tanya Bintang polos. “Enggak, saya memang dokter yang memegang pasien poli penyakit dalam sekarang. Dokter Bambang sedang pindah tugas di luar pulau. Jadi, saya yang gantikan posisi beliau buat pegang klinik poli dalam ini. Kamu tenang saja, saya bukan dokter umum kok. Saya sama seperti Dokter Bambang. Saya dokter spesialis penyakit dalam. Meski usia saya masih terbilang cukup muda untuk menyandang gelar itu, tapi saya akan memberikan yang terbaik untuk pasien-pasien saya. Bintang mengangguk, lalu bergumam, “Masih sangat muda.” Bintang menyerahkan surat kontrolnya pada asisten dokter. Asisten dokter mengeceknya sebentar, lalu menyerahkannya pada dokter muda itu. “Bintang Raina Putri, usia 19 tahun, terkena diabetes melitus tipe mody. Terdiagnosa sejak umur 12 tahun. Therapy obat, insulin Humalog Mix 50 KwikPen. Masih sangat muda ya?” Dokter itu membaca riwayat penyakit dari Bintang. Bintang tersenyum getir. “Begitulah, Dok.” “Silakan duduk dulu, Mbak Bintang,” pinta sang dokter. “Panggil Bintang saja.” Dokter itu tersenyum. Diperhatikan sebentar wajah manis Bintang yang sedang duduk di hadapannya. “Baik. Sebelumnya perkenalkan, nama saya Adryan Nicolas, bisa dipanggil Dokter Adryan. Semoga, kedekatan kita bisa seperti kedekatan kamu dan Dokter Bambang, supaya tidak ada yang namanya saling canggung. Kamu bisa cerita apapun mengenai keluhan kamu. Jangan sungkan. Anggap saya seperti Dokter Bambang.” Adryan mencoba mencari chemistry dengan pasien-pasien barunya. “Baik, Dokter Adryan.” Bintang mengangguk patuh. Ya sudah, mari ikut saya ke bed pasien. Saya periksa dulu kondisi kamu. Bintang pun menurut. Ia beranjak dari kursi lalu berbaring di atas bed pasien. “Maaf ya, Bintang. Saya periksa dulu.” Izin Adryan saat berniat menempelkan stetoskop di perut Bintang. Bintang mengangguk pasrah. “Silakan.” Adryan menekan perut Bintang. Sesekali, ia memperlihatkan ekspresi gadis itu. “Sakit?” tanyanya sambil mengetuk perut Bintang untuk mengetahui adanya masalah atau tidak pada perutnya. Bintang menggeleng. “Enggak, Dok.” Adryan menempelkan stetoskopnya pada bagian tubuh Bintang yang berdekatan dengan jantung. “Bintang ada keluhan? Kok jantungnya berdetak lebih cepat ya?” Adryan terlihat khawatir. Bintang mengangguk lemah. “Iya, Dok. Rasanya jantung berdebar, terus agak gemetaran gitu,” Bintang mengeluhkan semua yang ia rasakan. Tangannya dari tadi gemetaran. Meski berusaha menghiraukan itu, entah mengapa, sekarangjadi semakin parah.j Ini bukan karena Bintang salting, ‘kan? “Bintang sudah makan?” Adryan menggenggam tangan Bintang yang terasa dingin. “Makan roti tadi,” jawabnya singkat. Adryan menghela napasnya. “Dingin?” Bintang mengangguk, “Iya.” Adryan pun semakin mempererat genggamannya. “Suster, minta tolong cek gula darah acaknya ya?” Mendapat perintah dari Adryan, suster bergerak cepat. Dengan cekatan,, suster membawa alat tes GDA. Ia pun mulai menusukkan jarum kecil pada telunjuk Bintang. “Sakit sebentar ya, Mbak,” ujarnya lembut. Tut ... tut .... Hasil tes keluar. Terdapat angka 85 di sana. “GDA hanya 85, Dok," ucap suster kala hasil tes keluar. Dengan cepat, Adryan Langsung mengambil tindakan. Ia sudah curiga sebelumnya, jika gula darah Bintang terlalu rendah. “Sus, ke bagian obat sekarang. Minta Dextrose infus water. Langsung eksekusi di sini. Di IGD rame. Nggak akan keburu. cepat!!!” Setelah kepergian suster, fokusnya kembali pada Bintang. Di sana, Bintang sudah terlihat begitu lemas. Adryan ingat, di dalam tasnya ada permen. Ia langsung mengambil permen itu dan memberinya pada Bintang. “Bintang, kunyah permennya sekarang. Cepat!” perintah Adryan. Adryan menyuapi permen itu ke mulut Bintang. Dengan cepat, Bintang mengunyah permen itu. Satu permen dirasa kurang. Adryan menyerahkan satu permen lagi. “Ayo, kunyah lagi.” Ia kembali menyuapkan satu permen pada Bintang. Dalam kondisi seperti ini, penderita diabetes sangat membutuhkan gula. Jadi, langkah awal yang bisa dilakukan adalah memberinya gula, atau makanan yang mengandung banyak gula. Penurunan gula darah yang drastis seperti ini, biasa disebut dengan hipoglikemia. Reaksi permen bekerja dengan cepat. Bintang sudah tidak selemas tadi. wajahnya terlihat lebih segar dari sebelumnya. “Gimana? Sudah enakan?” tanya Adryan khawatir. Bintang mengangguk lemah. “Sudah agak mendingan.” Adryan menarik napasnya lega. “Alhamdulillah. Syukurlah kalau begitu. Kamu kenapa bisa mengalami hipoglikemia? Makannya nggak teratur ya?” Bintang menggeleng. “Nggak tahu.” “Dosis insulin kamu berapa, Bin? Dosis yang diberi Dokter Bambang?” tanya Adryan. “12 dalam sekali suntik. Sehari suntik 3x,” ujar Bintang. “Sudah dosis wajar. Apa kamu dalam waktu dekat ini sedang mengalami masalah berat, sampai bikin kamu stress?” Bintang tersenyum kecut, teringat hubungannya dengan Langit. “Iya, Dok. Masalah besar yang bahkan saya sendiri tidak tahu harus bagaimana untuk mengakhirinya.” Tatapan Bintang berubah sendu. Adryan bisa melihat betapa sedihnya gadis itu sekarang. Adryan memegang bahu Bintang. “Masalah itu diselesaikan, bukan diakhiri. Dicari solusinya, bukan ditinggal pergi. Jangan berlarut dalam masalah. Kamu nggak bisa mikir berat. Jangan sampai kondisi kamu drop karena masalah yang terlalu kamu pikirkan. Ada masanya kamu bisa membagi masalahmu pada orang lain. Jangan disimpan sendirian, karena bisa jadi, masalah yang kamu simpan itu suatu saat bisa meledak. Menjadi boomerang untuk dirimu sendiri.” Bintang menatap ke atas. “Ya, gimana? Masalahnya terlalu rumit, Dok. Bahkan lebih rumit dari benang kusut.” “Gitu ya? boleh saya pinjam ponsel kamu?” ujar adryan. Bintang memberikan ponselnya yang ada di tas. “Silakan.” Adryan pun mengetikkan sesuatu di sana. Ia memasukkan nomor teleponnya di ponsel Bintang. Ia pun memberinya nama 'Dokter Ganteng.' Adryan kembali memberikan ponsel itu pada Bintang. “Bin, coba kamu buka w******p kamu, terus kamu cari nama Dokter Ganteng,” perintah Adryan. "Lha?" Bintang mengernyitkan alisnya. Meski begitu, Bintang tetap mengetikkan nama itu. “Ada nih, ini nomor Dokter?” tanya Bintang. Adryan mengangguk. “Iya, itu nomor aku. Kalau kamu butuh teman buat cerita, ceritain semuanya sama aku tentang apapun yang kamu rasain. Entah itu cerita sedih, cerita senang atau apa pun yang mau kamu bagi ke aku, aku pasti dengerin. Jangan pendam masalah sendirian ya? aku nggak mau pasien aku sakit terus cuman karena stress tiap hari. Ini bahaya banget loh, resikonya. Mending GDA kamu tinggi daripada GDA kamu sampai hipo kayak tadi. Kalau tinggi bisa diturunin pakai insulin. Kalau terlalu redah, dan kamu nggakgak tahu kalau GDA kamu sedang rendah, bisa bablas kamu! Nggak bisa lihat dunia lagi. Jangan main-main! Jangan disepelekan! Makan teratur, sesuai porsinya,” nasihat Adryan. 'Ekhem ... ada yang sudah manggil aku kamu nih?' Bintang menunduk. “Iya, maaf.” Tak lama. Suster datang dengan membawa cairan infus. Ia menyerahkan pada Adryan. "Ini, Dok. Infusnya." “Bin, mau di infus?” tanya Adryan. Bintang menggeleng tegas. “Nggak usah, aku udah enakan kok.” Bintang menolak tawaran Adryan. Dirinya tidak ingin di sini lebih lama lagi. Ia sangat benci dirawat. Karena itu akan membuat orang-orang di sekitarnya menjadi repot. “Ya sudah.” Adryan tidak ingin memaksa. Bintang turun dari bed pasien. “Sudah ‘kan, Dok? Saya mau langsung pulang saja,” pinta Bintang. “Kamu pulang sama siapa, Bin?” “Sendiri.” Adryan menarik napas kasar. “Jangan pulang dulu. kamu tunggu di kursi sebelah kursi punyaku. Nanti aku yang antar pulang. Aku nggak mau terjadi resiko di jalan. Kamu sakit, terus pulang sendirian. Aku nggak izinin. Tunggu aku selesai jam praktek.” Bintang terkekeh. “Saya baik-baik saja, Dokter. saya bisa pulang sendiri.” “Nggak ya nggak, Bintang! Apa aku harus menyuruhmu rawat inap?” ancam Adryan. “Baiklah, baiklah, terserah Dokter saja. Saya ikut gimana baiknya.” Bintang pun pasrah. ia tidak ingin berdebat, karena kepalanya terasa sangat pusing. Adryan mengacak rambut Bintang. “Pinter.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN