Setelah melangkah lebih dekat dengan tujuan, jantung Zalman mendadak berdebar lebih kencang dari sebelumnya. "Huft, kenapa saya jadi gugup sekali? Sadar, Zalman. Sikapmu seperti remaja muda saja!" dengan cengiran khas, membuatnya dua kali lebih tampan, Zalman salah tingkah. Padahal diusianya, harusnya perasaan seperti itu sudah tidak ada. Berulang kali ia melakukan relaksasi napas dalam. Walau tidak sepenuhnya yakin bisa menemui Ghina saat ini juga, karena jelas masih ada kemungkinan kejutan lain dari takdir untuk mereka, Zalman tetap tidak sabaran. "Saya di depan, Ra." Ia segera menelpon Soraya, menanti dengan gelisah momennya bisa melihat Ghina, sang istri. "Di depan? Apa maksudnya, Pak?" Zalman berdecak kesal. Terkadang, asistennya ini begitu pintar sampai tidak memerlukan penje

