--Rumah Vino dan Lucy--
Om Vino hampir selesai memandikan burungnya saat Bi Rukmi datang membawa telfon rumah.
“ada telfon buat Bapak”
“dari siapa Bi?”
“dari Bobby” jawabnya sambil sedikit membungkuk.
Om Vino merengut berusaha mengingat adakah kenalannya yang bernama Bobby. Dia menggantungkan burung murai miliknya di gantungan khusus yang terbuat baja. Kandang itu tergoyang karena sentakan tangan Om Vino, lalu akhirnya terhenti dengan sendirinya.
“halo”
“pagi Om”
“pagi”
“saya Bobby, anaknya Pak Abi” logat Melayu itu terdengar sangat aneh di telinga Om Vino.
“Abi...Santosa?” tanya Om Vino.
“iya Om”
“ooo..iya iya..gimana...gimana..bisnis burung puyuhnya lancar kan?”
“burung puyuh?”
“iya..Bapakmu cerita kalo bisnismu sudah besar, sudah berani ekspor juga. Hebat lo kamu”
“ee..bukan Om, saya bukan pengusaha. Saya Bobby yang kerja di Hotel Om cabang Thailand”
“ooo.. Bobby itu.. anaknya Pak Abi Santosa!”
“iya Om, tadi saya sudah bilang hehe..”
“sorry .. Om sudah tua jadi sudah mulai pikun. Iya.. Papamu sudah cerita tentang kamu yang mau pindah ke cabang Singapore. Kamu datang langsung saja ke Hotel ya, nanti kita bicarakan lebih detailnya”
“kebetulan saya hari ini baru saja sampai, rencananya nanti saya mau mampir ke Hotel Om Vino”
“oo..oke kalau begitu kamu bisa datang jam 11an, nanti kita ngobrol dulu”
“baik Om, terima kasih, have a nice day”
Om Vino meletakkan telfon tanpa kabel itu di dekat sofa. Perutnya sudah memberi sinyal untuk diisi sebelum berangkat ke kantor.
“siapa Pa?” tanya istrinya.
“Bobby”
“Bobby siapa?”
“anaknya Abi, Abi Santosa” jawabnya sambil mencomot potongan roti bakar selai coklat buatan istrinya.
“ooo Abi” kata Tante Lucy. Wajahnya berubah setelah mendengar nama itu. Dia kembali diam sambil menuangkan s**u ke dalam gelas, dan meletakkannya di samping piring Om Vino.
“Anna sudah berangkat kuliah?” tanya Om Vino sambil terus mengunyah rotinya.
“sudah tadi waktu Papa lagi telfon. Anaknya Abi itu telfon Papa ada urusan apa?” tanyanya penuh selidik.
“dia kasih kabar kalau sudah ada di Singapore. Dan dia bakal kerja di Hotel cabang sini menggantikan Mr. Shiro. Nanti ada rapat untuk penggantian jabatan Mr. Shiro”
“Clara juga ikut rapat?”
“of course, semua kepala direksi Hotel harus datang di rapat nanti” Setangkup roti sudah berhasil mengisi perutnya, ditambah lagi segelas s**u yang ia habiskan dalam satu nafas. “Ma, Papa mandi dulu ya, tolong siapin setelan seragam yang dibelikan Anna kemarin itu ya”
“iya Pa” jawab Tante Lucy. Dia meneguk s**u yang tinggal seperempat gelas. “Bi, tolong beresin meja ya” suruh Tante Lucy pada Bi Rukmi sedang ada di dapur.
“Baik Bu” jawab Bi Rukmi.
Tante Lucy menyusul pergi menuju kamar. Dia membuka lemari pakaian yang berjajar pakaian milik suaminya. Berkat ketekunannya dalam menyusun pakaian sesuai dengan warna, jadi dengan mudah dia bisa menemukan setelan jas berwarna blue black hadiah ulang tahun perkawinan dari Anna. Jas itu digantung di dekat cermin besar yang sudah berdiri menyesuaikan tinggi tubuh pemilik. Setelah itu dia berganti membuka laci kecil yang ada di bagian bawah dekat dengan tumpukan kaos kaki.
Dia mendongak sedikit dari balik pintu lemari untuk memeriksa suaminya yang masih ada di kamar mandi. Suara nyanyian oldies terdengar dari dalam, menandakan bahwa suaminya masih mandi. Tante Lucy mengeluarkan satu kotak yang berisi simpanan perhiasannya. Map itu masih ada. Dia membukanya perlahan dan membacanya kembali. Bibirnya mencibir mengenang masa lalunya. Di baliknya tertempel foto dua pemuda mengapit seorang gadis. Foto itu diambil dengan background menara Eiffel.
“gimana kabar kamu sekarang. Abi Santosa? Tampaknya kamu sudah menemukan persembunyianku” ucapnya. Tante Lucy mengembalikan kotak ke dalam laci saat terdengar pintu kamar mandi terbuka. Om Vino keluar dengan piyama handuk dan rambut yang basah. Dia menggesek-gesek kepalanya dengan handuk kecil. Secepat kilat Tante Lucy mengambil kaos kaki lalu bediri dan menutup kemari pakaiannya.
“itu jasnya Pa, Mama mau nyuruh Jajang buat nyiapin mobil”
“thanks” kecupnya mendarat di kening Tante Lucy.
Tante Lucy lalu pergi keluar kamar sambil membawa map yang ia sembunyikan di balik bajunya.
“Ma”
“iya?!” jawab Tante Lucy langsung berbalik.
“jangan lupa gajiannya orang-orang, kan hari ini tanggal 1”
“oo...iya Pa, nanti Mama kasihin” jawabnya dengan nada kikuk. Dia lalu menutup pintu dan buru-buru pergi dari kamar.
------
Raymond buru-buru mengejar tunangannya. Salah paham ini sungguh konyol bila dipikir. Lucu sekali apabila mereka tidak melanjutkan hubungan lagi hanya karena gosip hantu. Semalam setelah Raymond baru saja ingin berganti pakaian, ada seseorang yang mengetuk pintu. Dari lubang kecil berukuran kelereng, tampak sosok yang familiar sedang berada di depan pintu. Raymond membuka pintu dan mempersilahkan tamu itu masuk.
Si Jenny datang membawa wajahnya yang ketakutan. Dia mengaku bahwa kejadian di lift itu cukup membuatnya tidak berani sendirian di kamarnya. Dia minta izin untuk menginap semalam. Tanpa pikir panjang Raymond menyetujuinya.
Lift yang dimasuki Clara menutup dengan cepat, tanpa sempat Raymond menyusulnya. Terpaksa dia berlari menuju pintu bertuliskan EXIT. Dia berlari menuruni tangga darurat menuju lantai paling bawah. Beruntungnya latihan cardio yang rutin dia lakukan di gym bersama teman-temannya saat waktu senggang membuat staminanya fit. Lima lantai lagi dan Raymond melebarkan langkahnya, bahkan dia melompat di akhir anak tangga. Dia menyeruak keluar setelah sampai di lantai 1. Dia menekan tombol lift dan menunggu dengan rasa gelisah.
Pintu lift terbuka Clara keluar bersamaan dengan para penghuni apartemen lainnya. Raymond menerobos kerumunan orang-orang dan menarik Clara keluar barisan.
“aku mau jelasin” Raymond menarik tangan Clara dan menjauh dari kerumunan penghuni apartemen yang keluar dari lift.
Clara terdiam. Wajahnya memerah karena menahan amarah. Kejadian tadi memberikan dua kekecewaan baginya. Bukan kecewa karena Raymond ataupun Jenny. Tapi dia kecewa karena keadaan. Sebenarnya tidak ada yang perlu disalahkan. Clara kecewa melihat ada wanita lain tidur di tempat Ray, sedangkan wanita itu adalah sahabatnya yang memiliki rasa terhadap tunangannya. Jadi dia bingung untuk menimbang kekecewaan mana yang lebih berat.
Dia sangat mencintai Raymond, tapi dia tidak akan membiarkan ego menguasai dirinya. Dia memilih memendam amarah ini dan membiarkannya pergi bersama angin. Dia tidak ingin hanya karena ini dia bertengkar dengan Raymond. Clara duduk di bangku taman menghadap timur, mentari pagi menerpanya menampakkan raut wajahnya.
“ini semua salah paham. Ceritanya panjang” kata Raymond.
“aku bisa menunggu” balas Clara.
“semalam nggak sengaja aku satu lift dengannya. Aku bersumpah kalau baru bertemu dengannya semalam. Disini sedang ada gosip hantu yang suka berkeliaran saat malam hari”
“dan kamu percaya?”
“tentu saja tidak. Saat kita masih di lift, pintu lift terbuka. Aku kira sudah sampai di lantai 15. Dan aku baru sadar kalo lift berhenti di lantai 13 dan tidak ada seorangpun yang masuk ke lift. Karena ketakutan aku langsung menutup pintu lift. Sesampainya aku di kamar, aku mendengar ada orang mengetuk pintu”
“dan ternyata itu dia? Why?”
“dia ketakutan, dia minta ijin untuk menginap apartemenku. I swear, aku nggak ada apa-apa sama dia Ra..”
“aku tau kamu nggak mungkin seperti itu, tapi ada hal lain yang bikin aku kecewa dan itu bukan tentangmu. Sampai jumpa di Hotel ya sayang” tubuhnya yang pendek dan sedang tidak memakai high heels, membuatnya harus sedikit berjinjit untuk mengecup pipi seorang terkasihnya.
Raymond memeluknya. “you know me so well, bae..love you so so so so much”
“love you to honey”
Pemandangan ini sungguh langka terjadi di kawasan komplek apartemen, apalagi di pagi hari. Sang pria yang masih menggunakan pakaian tidur memeluk wanita yang berbusana rapi. Beberapa penghuni yang baru keluar dari lift melihat pemandangan sambil cekikikan. Sadar akan kelakuannya, Raymond melepaskan pelukannya. Dia melihat beberapa anak sekolah menertawakannya. Rambutnya yang masih berantakan, mukanya membengkak karena semalam sebelum tidur dia sempat makan mie instant. Celana coklat loreng dan dia hanya sempat memakai sandal rumahan saat keluar tadi. Tangannya otomatis berusaha menutupi pakaiannya setelah sadar ada anak kecil yang menunjuk ke arahnya.
Begitu juga Clara, dia langsung menutupi mukanya dengan kedua tangannya, karena malu.
“kamu balik sana, bikin malu aja” usir Clara. Dia lalu pergi menghindari Raymond yang sedang salah tingkah.