"Jam tujuh malam. Aku jemput." Renisha berdeham untuk melegakan tenggorokannya yang mendadak kering. Ditatapnya Aksa dengan sorot bertanya. "Beneran?" Aksa mengngguk singkat. "Iya." "Tap... tapi, kenapa?" Kali ini, Aksa melirik Renisha sekilas. Tatapannya begitu datar hingga Renisha benar-benar tak bisa menebak apa yang sebenarnya ada di kepala Aksa. "Kalau kamu nggak mau--" "Aku mau kok!" kata Renisha cepat, memotong apapun yang akan keluar dari mulut Aksa. "Aku, mau main sama Mas Aksa!" Bahkan ketika Renisha sudah sampai rumah dan bergelung di balik selimut, Renisha masih memikirkan perkataan Aksa barusan. Lagi-lagi ia tersenyum seperti orang gila. Aksa, mengajak Renisha bermain? Hanya saja, yang ada di otak Renisha sekarang adalah Aksa sedang mengajaknya berkencan. Bahwa A

