Mencari Keluarga, Menemukan Diri
Waktu berlalu cepat. Amani tumbuh menjadi gadis remaja yang cerdas dan beriman. Prestasinya di pesantren sangat membanggakan. Ia pandai menghafal Al-Quran, berbicara dengan lancar dan fasih, dan memiliki suara yang merdu saat melantunkan ayat-ayat suci. Ia juga aktif dalam kegiatan sosial dan selalu siap membantu teman-temannya. Kehadirannya di pesantren memberikan aura positif bagi lingkungan sekitar.
Namun, di balik kesuksesannya, Amani masih menyimpan kerinduan akan keluarga. Ia sering termenung, membayangkan bagaimana rasanya memiliki orang tua yang menyayanginya. Ia merasa bersyukur atas kehadiran Rangga dan Kasih, namun kehadiran mereka tetap terbatas karena jarak dan kesibukan. Bayu, adiknya, tetap menjadi saudara yang selalu ia sayangi dan lindungi. Mereka saling menguatkan di tengah keterbatasan yang mereka hadapi.
Suatu hari, Ustadzah Aisyah mengajak Amani untuk bercerita tentang keluarganya. Amani mencurahkan isi hatinya. Ustadzah Aisyah mendengarkan dengan sabar, memberikan semangat dan nasihat bijak. Aisyah menjelaskan bahwa keluarga tidak harus memiliki ikatan darah, tetapi ikatan hati. Ia menyarankan agar Amani mencari keluarga pengganti, orang-orang yang dapat memberikan kasih sayang dan dukungan. Amani mulai membuka hati untuk menerima kemungkinan itu.
pov
Menebar Kebaikan, Menuai Berkah
Amani semakin aktif dalam kegiatan sosial di sekitar pesantren. Ia mengajar mengaji anak-anak di kampung sekitar, membantu warga yang membutuhkan, dan selalu bersedia berbagi ilmu dan pengalamannya dengan orang lain. Ia merasa bahwa dengan menebar kebaikan, ia dapat menemukan kedamaian dan kebahagiaan sejati.