"Panas," gumam Rinta menyentuh dahi Bara. "Demam kamu belum turun?" Tanyanya lagi. "Aku sudah sembuh kok," jawab Bara meski kenyataannya kepalanya berpendar dan terasa berputar membuatnya limbung. "Kamu masih sakit, lebih baik kamu istirahat di kamar kamu, aku kesini bukan mau minta antar kerja." Rinta mau tak mau memapah Bara untuk masuk ke kamarnya. Meski rasanya canggung, sebab ini kali pertama baginya memasuki kamar pribadi pemuda itu. Kamar sederhana yang tak memiliki banyak perabot. Hanya ranjang pendek yang bahkan hampir menyentuh lantai sebagai alas kasurnya. Sebuah meja kecil dengan berbagai macam benda yang berada di atasnya, almari yang tak begitu besar. Benar-benar kamar yang sangat sederhana. "Kamu belum sarapan kan?" Tanya Rinta saat membantu Bara berbaring. "Belum, nan

