ISTRIKU, DI MANA KAMU? (40) - Pov Irfan Aku menarik napas lega. Serasa udara berhembus masuk begitu banyak mengisi rongga d**a. Meskipun Safira berlindung di balik alasan anak, akan tetapi ternyata dia masih memberikanku kesempatan kedua. Aku melihat raut kekecewaan pada rivalku. Arman---lelaki berparas rupawan yang tampak begitu mendamba ketika menatap Safiraku. Ya, siapa yang bisa menolak pesona Safira, bahkan aku pun masih tak bisa move on darinya, meskipun kami sudah berpisah sekian lama. “Terima kasih, Dek! Aku sangat berterima kasih atas kesempatan kedua yang diberikan padaku!” Dia hanya melirikku sekilas. Wajahnya terkesan datar dan tidak kentara rona bahagia. Apakah memang dia tak bahagia menerimaku kembali? Atau memang dia pandai menyembunyikan perasaannya dariku? Ah, apapu

