Bab 23

1371 Kata

Akhirnya, waktu yang ditunggu-tunggu tiba.                 Jam 2 siang, aku akhirnya bisa bertemu Andra dan membahas masa lalu. Yang jelas, aku berutang minta maaf padanya. Chika sudah memberitahu semuanya, jadi aku tidak bisa menyalahkan Andra terus menerus.                 “Dia kenapa belom dateng, sih?” Rio menyeruput ice americano-nya.                 “Nggak tahu,” jawabku lemas.                 “Lo kenapa, Andien? Kok muka lo pucat gitu?”                 “Rio, gimana kalau ternyata kita yang salah? Selama ini kita mungkin dijebak sama orang lain, bukan Andra.”                 Rio terlihat gugup. “Kalau bukan Andra, siapa coba yang berani jebak kita?”                 “Chika berani.” Aku menghela napas.                 “Andien, lo udah tahu soal Chika?” Pertanyaan Rio cukup

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN