Terdengar derap langkah kaki mengalun di ruangan yang senyap. Setelah menutup pintu dengan rapat, Kailen menghampiri ranjang. Dia mendudukkan biritnya di tepi kasur. Perlahan helaan napas panjang keluar dari mulutnya. Dia duduk melamun dengan sorot mata menunduk, memperhatikan lantai ruangan kamar tersebut. Benaknya kembali memikirkan tentang kejadian beberapa menit yang lalu di mana dirinya menyetujui permintaan Adam untuk menginap malam ini. Karena … Itu menyesakkan saat seorang sekretaris memutuskan untuk resign. Tiba-tiba saja kalimat itu kembali mengganggu pikiran Kailen ketika dirinya memandangi sekeliling kamar, mengingat saat-saat masih bekerja bersama pria itu. Adam terlihat memaksakan diri untuk memberikan benteng di antara dirinya bersama sekretarisnya yang sekarang. Lal

