Ruangan itu kosong ketika Pevita datang. Tidak ada seorang pun yang tinggal di sana. Brankar dan juga sofa begitu bersih, seolah tidak ada tanda-tanda kehidupan orang yang tinggal. Namun, Pevita sama sekali tidak mendapat kabar apa pun, entah itu tadi atau pun sekarang. Bahkan, nomor Gara sendiri tidak bisa dia hubungi. Pevita sudah bilang bahwa sepulang syuting dia akan mampir. Sekiranya Gara pulang atau ruangannya dipindahkan, bukankah seharusnya dia memberinya kabar? Setidaknya lewat pesan singkat .... Pevita menggigit kukunya yang dikutek biru muda. Merasa bahwa sikap Gara kembali janggal, sama seperti beberapa hari lalu ketika mereka meninggalkan desa. Laki-laki itu, entah mengapa, terkesan seolah memberi jarak dengannya. Namun tidak, sebisa mungkin dia menyingkirkan pikiran negatif

