Darah masih berlumuran di tangan Pevita. Sementara pria yang tadi berusaha menenangkannya, kini tengah berbaring di atas brankar ambulans, di sisinya. Jantung Pevita begitu nyeri, ngeri melihat tubuh Gara yang terkulai lemas dengan petugas yang fokus memberikan pertolongan pertama dan menghentikan pendarahan di perutnya. Isi perut Pevita bergolak. Jantung berdetak keras menyakiti dadanya. Sementara, air mata terus berjatuhan deras membasahi wajah pucatnya yang tercoreng noda merah di tangannya ketika dia mengusap peluh. Belum lama sejak dia melihat Gara terluka, kini dia harus kembali menyaksikan pria itu dengan luka yang berkali-kali lebih parah dari sebelumnya. Saat ambulans berhenti setelah perjalanan panjang yang membuat Pevita merasa hatinya diremas keras hingga terasa begitu kebas,

