72. Air Terjun

1964 Kata

Birunya langit berubah pekat sebab matahari sudah tenggelam seutuhnya malam ini. Hanya ada beberapa bintang yang bekerlip manis, menyapa dua insan yang diliputi kebahagiaan di bawah sana. Bersama bulan, yang muncul malu-malu di balik awan. Udara yang bersih, langit yang cerah, dan kedinginan yang seolah menusuk, menjadi suatu momen yang jarang didapatkan di Jakarta. Namun ada momen langka lainnya, momen yang membuat senyum Pevita mengembang sempurna; jemari Gara yang bertaut dengan jari-jarinya. Menggenggam penuh, dan hangat. "Gara," panggil Pevita. Menghentikan langkah keduanya di dekat pepohonan yang tumbuh rimbun di antara kebun teh yang mengisi hampir seluruh bagian desa tersebut. "Kamu harus janji nggak bakal ninggalin aku apa pun yang terjadi, hm?" katanya. Menatap Gara lurus-lurus

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN