91. Diam-diam Ingin Mati

1992 Kata

Pevita mengunci pintu. Berjalan menuju ranjang, duduk, dan melemparkan ponselnya secara asal ke atas bantal. Namun, tatapannya berubah membara ketika sebuah notifikasi pesan masuk sehingga membuat layar benda pipih itu menyala dan menampilkan sebuah foto di mana dua orang lelaki dan perempuan sedang tersenyum ke arah kamera, di sekitar kebun teh yang begitu luas dan hijau. "Aku benci saat aku masih menyimpan hati setelah apa yang kamu lakukan," lirihnya. Mengambil ponsel tersebut dan nyaris melemparkannya ke arah kaca rias. Namun urung, hati kecilnya mengatakan jangan. Kemudian, alih-alih melemparkan benda itu, Pevita akhirnya hanya bisa meremasnya dengan kuat. Sampai buku-buku jarinya memutih. "Berengsek!" desis Pevita, ketika bulir-bulir air mata kembali berjatuhan. Soal tidak pernah l

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN