Bab 10. Alter ego

1082 Kata
Rainer menyeringai saat melihat Iloya. Dia membawa Iloya ke dalam guha di pedalaman hutan, lalu meletakan tubuh Iloya di atas batu. Wajah Iloya pucat pasi. Namun, Rainer sama sekali tidak peduli dan malah kembali mendekatkan wajahnya ke ceruk leher Iloya untuk mengisap darahnya. Saat wajahnya sudah berada di dekat wajah Iloya, Rainer menyeringai lebih lebar saat mendapati Iloya mulai membuka matanya. Dia menunggu Iloya berteriak. Namun, yang dia dapatkan malah wajah judes Iloya yang ditunjukan untuknya. Alter ego atau kepribadian ganda, itulah yang Iloya simpulkan saat melihat kepribadian Rainer yang beda dari biasnya. Rainer seakan tidak mengingat dirinya sendiri, dia malah terlihat seperti jiwa baru yang terlahir. Rainer sedikit memiringkan kepalanya, "kamu tidak takut?" Dengan lemah, Iloya menampar pipi Rainer. "Tidak! Asal kamu tahu, dulu bahkan saya pernah hampir mati tergilas mesin di pabrik. Beruntung ada seorang laki-laki yang enatah siapa itu datang menyelamatkan saya bak seorang super hero. Kalau cara kematian yang kamu lakukan hanya menghisap habis darahku, saya tidak akan takut. Silahkan, asal jangan kamu perlihatkan darah itu pada saya. Kalau kamu sampai lakukan itu, saya berjanji setelah mati nanti akan menghantuimu sampai kamu gila." Rainer terkekeh, dia kembai menjauhkan wajahnya dari ceruk leher Iloya. "Kamu membuatku terpesona." Iloya mendengus, dia kembali memejamkan mata sebentar kemudian membukanya lagi. "Ini di mana?" "Di guha pedalaman hutan." Ketika Iloya akan duduk, dia kesusahan untuk bangun. "Bantu saya duduk!" Rainer menaikan sebelah alisnya, "kamu memerintahku?" Iloya memutar bola matanya malas, "bukan, tapi minta tolong." Iloya berdusta. "Kamu tidak mengatakan tolong." Rainer menatap Iloya jenaka. Mata peraknya memancarkan binar saat Iloya melihatnya malas. Namun, tak urung dia tetap membantu Iloya untuk duduk. "Sama saja." "Kamu terlihat takut kalau berhadapan dengan Rainer, tapi berhadapan dengan saya yang nyatanya lebih besar kekuatannya dari dia, kenapa kamu berani sekali?" "Sebenarnya kalau berhadapan dengan Rainer itu serasa menghangatkan badan di depan api saat suhu tubuh rendah, terlalu dekat terbakar dan terlalu jauh kedinginan. Saya tahu Rainer mau menikahi saya karena ada memanfaatnya, begitu pula saya, saya juga menginginkan perlindungan dari dia. Kalau kemungkinan saya sudah tidak dia butuhkan, mungkin bakal dia depak. Makanya saya selalu berusaha buat ngambil hati dia." Iloya tersenyum penuh percaya diri di akhir ucapannya. Iloya menambahkan, "kalau kamu mah, baru muncul saja sudah main sedot darah orang. Serasa tidak punya hidup untuk hari esok saya. Berhubung kemungkinan ajal sudah dekat, apa yang mau diperjuangkan lagi?" "Kamu..., siapa nama kamu?" Iloya baru menyadari kalau alter ego selalu memiliki nama lain dari kepribadian sebelumnya. "Allard van Alterion." Iloya mengangguk mengerti, kalau Allard ini sudah sampai mempunyai nama, berarti bukan kali ini saja dia pernah muncul. "Kapan kamu muncul di tubuh Rainer?" Allard mengedikan pundak acuh, "sejak dia lahir, mungkin." Sejak lahir? Iloya mengernyitkan dahi bingung. Biasanya seseorang mempunyai alter ego atau kepribadian ganda selalu ada traumatis atau penyebab lainnya di masa lalu, kenapa kasus Rainer malah beda? Allard hadir bersamaan dengan lahirnya Rainer, apa mungkin ini kasus baru? Allard menambahkan, "Ya, sayangnya Rainer dan orang-orang bodoh yang berada di bawahnya tidak menyadari itu. Mereka mengira saat bulan purnama tiba, Rainer selalu menggila karena tidak mendapat pelepas dahaganya berupa darah istimewa. Padahal saat bulan purnama tiba, saat itulah saya bisa muncul dan menguasai tubuh ini." Iloya mengerti. Saat bulan purnama tiba, Allard selalu muncul dan membuat keributan. Namun, besoknya Rainer tidak mengingat sama sekali apa yang terjadi pada malam bulan purnama. Kalau boleh Iloya simpulkan, kepribadian Allard ini mendominasi hanya saat bulan purnama tiba, selebihnya Rainer kembali bisa menguasai tubuhnya. "Kenapa kamu hanya muncul saat bulan purnama saja?" Allard menatap Iloya lekat, "karena Rainer pandai mengatur emosinya. Bahkan saat bulan purnama pun, ada kalanya Rainer masih bisa mengendalikan emosinya. Namun, seiring bertambahnya usia, kekuatan itu juga semakin besar. Kalau sampai kekuatan itu melampui batasan, segel yang terpasang dalam tubuh Rainer akan rusak, dan kutukan itu akan memakannya. Iloya termenung, "maksudmu saat Rainer marah besar, kamu bisa muncul walau bukan di bulan purnama?" "Lebih tepatnya saya muncul di bulan purnama karena saat itu Rainer tidak bisa mengendalikan emosinya. Cahaya bulan purnama bisa meningkatkan emosi serta kekuatan bangsa serigala. Namun, dikarenakan Rainer mempunyai kutukan dari saat dia lahir, terciptalah saya sebagai bentuk kekuatan itu." Iloya memang mengetahui tentang kutukan Rainer yang tidak bisa berubah menjadi serigala dari karangan fantasy itu. Namun, Iloya tidak pernah membaca adanya Allard sebagai kepribadian lain Rainer. Apa mungkin tentang Allard memang tidak dijelaskan dalam karangan fantasy itu? Ribet sekali, Iloya sampai pusing sendiri jadinya. Dari pada memikirkan hal yang menurutnya tidak berguna, kenapa Iloya tidak memikirkan perutnya yang kelaparan saja. Sebenarnya sudah berapa lama dia pingsan? Seingatnya saat tadi dia pingsan baru saja selesai makan besar. Karena Iloya saat ini berada dalam guha, dia tidak tahu di luar masih terang apa sudah gelap. Dia hanya bisa menyimpulkan kalau Allard masih menguasai tubih Rainer, berarti bulan purnama belum usai. Allard memejamkan mata, setelah membukanya kembali pupil matanya nampak mulai muncul warna kuning. Namun masih sangat samar, pertanda kekuatan besar dalam tubuhnya mulai berkurang. "Iloya, itu namamu bukan?" Allard menatap Iloya dengan kilat ketertarikan. "Sayang kita hanya bisa berbincang sebentar, padahal selama ini tidak ada yang mengetahuiku, makanya setiap kali muncul, saya selalu menghancurkan semua barang yang ada di sekitar. Setelah pertemuan kita saat ini, saya pasti mencarimu di bulan purnama berikutnya." Iloya diam mendengarkan dan hanya menatap menyaksikan mata itu yang perlahan warna kuning keemasannya semakin jelas. Setelah mengatakan itu, Allard menutup matanya. Namun, tidak lama mata itu terbuka kembali dengan pupil mata berwarna kuning keemasaan sepenuhnya. Iloya yang menyaksikan perubahan warna dalam mata itu, tidak dapat untuk tidak terkagum-kagum. Indah, hanya kata itu yang mampu Iloya pikirkan dalam hatinya. Kini Iloya dapat tahu, kalau orang yang saat ini menatapnya penasaran itu adalah Rainer. "Apa... saya hilang kendali lagi?" Rainer menatap Iloya linglung. "Ya, kamu bahkan hampir menghisap darahku sampai kering." Iloya menjawab marah. Namun, seketika dia memukul mulutnya begitu Rainer menatapnya tajam. Rainer sedikit memiringkan kepalnya untuk meresapi ucapan Iloya. Kalau sampai dia menghisap darah Iloya yang notabennya sebagai darah istimewa, harusnya Rainer tidak perlu hilang kendali. Tapi, kenapa dia malah tetap hilang kendali? "Lalu kenapa kita bisa ada di sini?" "Kamu yang membawaku ke sini." Kini jawaban Iloya tidak membawa jejak emosi, terkesan biasa saja seolah tidak pernah marah walau Rainer tadi hampir membuatnya mati kehabisan darah. Rainer menatap Iloya lekat, dia tengah membaca pikiran Iloya. Namun, yang dia temukan hanya ungkapan kekesalan pada dirinya saja. Rainer tahu ada yang salah dengan semua ini, tentang darah istimewa itu, tentang kutukannya, dan tentang segel dalam tubuhnya. Secepatnya dia harus membicarakan ini dengan Yakuya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN