Bab 12. Janji seorang Raja

1039 Kata
Rainer melangkah tanpa menimbulkan suara mendekati seseorang yang tengah menggosok tubuhnya menggunakan kain berbulu. Aroma lavender menguar bersamaan uap air. Setelah berdiri tepat di belakangnya, Rainer berjongkok dengan menekuk sebelah kakinya. Rainer mendengar suara sumbang Iloya yang tengah menyanyikan lagu asing di telinganya. Dia menaikan sebelah alisnya begitu Iloya menghentikan lagunya dan mulai menggerutu saat menggosok lehernya. "Apa kamu sedang mengutuku?" Rainer tidak tahan untuk tidak mencibir Iloya. Gerakan tangan Iloya yang sedang menggosok leher bekas gigitan Allard sontak terhenti. Perlahan dia menoleh ke arah belakang, dia nyengir kuda begitu mendapati Rainer ada di belakangnya. Iloya tidak dapat untuk tidak mengutuk dalam hati. Sialan, kapan Rainer bisa memberinya privasi. Terpaksa Iloya menenggelamkan tubuhnya sampai sebatas dagu. "Mulut dan hatimu memang perlu kuberi hukuman agar tidak berani mengutuk seorang raja sepertiku." Ucapan datar Rainer tersebut membuat Iloya melotot. Lagi-lagi dia lupa kalau Rainer dapat membaca pikirannya. Ini tidak bisa dibiarkan, Iloya membatin frustasi. "Jangan! Nanti saya didik lagi lidah serta hatinya biar lebih bisa menjaga kata-kata pada Raja ini. Sungguh, saya tidak sengaja." Iloya menatap Rainer dengan wajah memohon. "Baiklah, tapi dengan satu sayarat." Rainer menyeringai. Iloya menyipitkan matanya saat menatap Rainer. Dia menggelengkan kepala heran, kenapa saat menyeringai pun Rainer masih terlihat mempesona. Kalau laki-laki ini ada di dunia nyata, pasti akan banyak agensi yang ingin mengontraknya. Sayang saja Rainer hidup di dunia karangan, jadi Iloya tidak bisa menjadi menejernya dalam dunia keartisan Rainer. Ck, sayang sekali. "Ap syaratnya?" Iloya meratap harap, semoga syarat yang diajukan Rainer tidak memberatkannya. Kalau tidak, matilah dia. Bagaimana kalau Rainer menceraikannya, lalu dia diusir dari istana, setelah hidup luntang lantung habis dimangsa bangsa vampir. Alamak, jangan sampai terjadi. Seringaian Rainer semakin lebar, "mudah, kamu cukup memberikan informasi yang kamu ketahui bila saya bertanya. Bagaimana?" Mulut Iloya gatal sekali ingin mencibir Rainer. Dulu saja saat sebelum mereka menikah, Iloya sempat menawarkan informasi padanya. Namun, dengan sombongnya Rainer menolak dan lebih memilih menghisap darahnya. "Informasi apa?" Rainer menatap Iloya lekat, "informasi yang kamu ketahui tentang malam saat kita di dalam guha pedalam hutan." Pandangan Rainer membuat Iloya semakin bergidig. Kalau cara Allard menatapnya dengan jelas Iloya dapat membacanya, tapi Rainer seolah punya mata sedalam lautan yang kalau Iloya selamai malah dapat menenggelamkannya. "Tapi saya juga menginginkan syarat." Iloya menjadikan kesempatan ini untuk membuat Rainer tidak bisa lagi sembarangan membaca pikirannya. Serasa Iloya telanjang kalau Rainer selalu bisa membaca pikirannya. "Katakan!" "Saya ingin kamu tidak membaca lagi pikiranku." Iloya menatap Rainer penuh tuntutan. Rainer menatap Iloya malas, berbanding terbalik dengan bibirnya yang melengkungkan senyuman jahat. "Baiklah, tapi kalau kamu sendiri yang mengizinkan saya membaca pikiranmu, maka kamu tidak bisa melarangnya." Dengan sombongnya seolah telah menang beradu negosiasi dengan Rainer, tanpa pikir panjang Iloya mengangguk menyetujuinya. Dia tidak tahu bagaimana Rainer memanfaatkan ucapannya barusan di masa depan. "Tunggu!" Mata Iloya menyipit saat menatap Rainer, "bagaimana caranya saya yakin kamu akan memegang ucapanmu?" Rainer sedikit memiringkan kepalanya, dia menatap Iloya malas. "Saat seorang Raja mengucapkan janji, maka janji itu tidak akan dia langgar. Sebaliknya bila seorang Raja memerintah, maka perintah itu mutlak wajib dilaksanakan oleh yang dia perintah, termasuk orang itu istrinya sendiri." Apa Rainer sekarang tengah memberi kepastian sekaligus peringatan untuknya? Mulutnya kembali gatal ingin mencibir. Dasar Raja perhitungan, Iloya mengingatkan pada dirinya agar tidak pernah jatuh pada pesona Raja serigala ini. "Iya, Rajaku. Istrimu ini akan menuruti perintah suami." Iloya berkata manis, berbanding terbalik dengan matanya yang melengkung sinis. Melihat keterbalikan antara ucapan dan mata Iloya, Rainer tidak dapat untuk tidak menarik sedikit kedua sudut bibirnya. Iloya begitu berbeda dengan Mariana. Mariana tidak mungkin menatapnya sinis apalagi merutukinya, sedangkan Iloya begitu berani dan penakut disaat bersamaan. Perpaduan yang unik, Rainer menatap Iloya dengan sekilas binar di matanya. "Kalau begitu, kenapa malam kemarin saya bisa membawamu ke dalam hutan pedalaman?" Rainer memulai sesi introgasinya dalam menggali informasi yang hanya diketahui oleh Iloya. Iloya menatap tubuhnya yang dari tadi terendam air, kemudian menatap lagi Rainer protes. Tahu arti tatapan Iloya yang menunjukan ketidak setujuan membahas itu di ruang pemandian, Rainer berdiri. Dia menunduk melihat Iloya yang tengah menenggelamkan dirinya sampai batas dagu. "Cepat selesaikan mandinya! Saya tunggu kamu di kamar." Setelah mengatakan itu Rainer berbalik melangkah keluar dari dalam ruangan pemandian. Iloya yang melihat Rainer sudah keluar, sontak mencibir dengan suara jelas. "Dasar Raja tiran, antagonis, pengancam, bisanya hanya sembunyi di balik pangkat Raja. Masih butuh gue saja sok-sok an acuh, gue lelepin mampus lo." Rainer yang pendengarannya tajam walau dari jarak jauh sekalipun sontak berhenti ketika mendengar lagi kutukan yang diucapkan Iloya untuknya. Bibirnya melengkung dengan riak di matanya, lalu dia kembali melangkah menghampiri ranjang. Walau kesal, Iloya tetap buru-buru membereskan acara mandi yang tadi niatnya tidak ingin diganggu siapapun. Saat keluar dari ruang pemandian, Iloya melihat Rainer yang duduk di atas ranjang dengan bersila sambil menatapnya. Mata Rainer mengingikuti ke mana Iloya melangkah, membuat Iloya risih sendiri. Iloya membuka lemari tinggi besar yang dia perkirakan terbuat dari tembaga murni. Baru menyentuhnya saja sudah membuat Iloya spontan menghitung uang yang hilir mudik di kepalanya. Begitu pintu lemari terbuka, Iloya hampir pingsan saat melihat deretan gaun yang entah kapan ada di dalam lemari berjejer rapi dan begitu banyak. Memilihnya saja Iloya sampai kebingungan. Namun, pasa akhirnya pilihannya jatuh pada gaun panjang berwarna kuning. Saat berbalik, Iloya melotot karena Rainer masih menatapnya. "Kamu mau terus di sana?" Rainer menaikan sebelah alisnya seolah mempertanyakan maksud dari kejelasan ucapan Iloya. Iloya mendengus. Namun, tidak berani terlalu keras. Akhirnya Iloya mengalah dengan membawa baju ke ruang pemandian. "Saya tidak akan membaca pikiranmu sebagai bukti janjiku, jadi ucapkan apa yang kamu ketahui tentang malam kemarin!" Iloya yang baru mendudukan tubuhnya di lantai. Ya, LANTAI! Ingin sekali menerjang Rainer sampai berguling-guling. Bagaimana tidak, alih-alih dia diperlakuakn sebagai patner negosiasi, Iloya malah diperlakuakn layaknya b***k yang harus patuh pada majikan. "Saat kamu mengisap darahku sampai hampir kering, sebenarnya itu bukan kamu." Rainer sedikit mengernyitkan dahi. Namun, dia tetap diam menunggu Iloya melanjutkan ucapannya. Iloya menimbang-nimbang apa dia harus mengatakan tentang Allard atau tidak. Allard bilang kalau Rainer belum mengetahui dia, tapi bagaimana pun Allard ada di tubuh Rainer. Jadi Iloya pikir tidak adil untuk Rainer bila dia tidak mengetahui tentang kelainan pada dirinya sendiri. Iloya menatap Rainer sedikit khawatir karena tidak bisa memprediksi tanggapannya setelah dia mengatakan tentang malam itu. "Sebenarnya itu alter egomu." ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN