“Hhh… Hhh…” Dar! Dar! Dar! Dar! Rio kembali mendengar suara tembakan yang saling bersahutan di depan sana, ketika ia berusaha mengatur nafasnya. Saat ini ia merasakan kepalanya sangat pusing, telapak tangan dan kakinya terasa dingin. Ia tahu bahwa dirinya tidak bisa memaksakan reaksi tubuhnya itu, tetapi ia juga tidak ingin menyerah pada semua trauma tersebut. “Rio!” Terdengar suara Luis yang memanggilnya dari balik mikro earphone, kedua mata Rio sudah ingin memejam ketika itu. Tetapi suara Luis yang terus memanggilnya, membuat dirinya tetap dalam kesadaran itu. Kemudian Rio yang sudah kehilangan setengah kesadarannya itu pun mengeluarkan sebuah tabung oksigen yang ada di dalam tasnya dan mulai menggunakan itu sebagai alat bantu untuk dirinya. Ia juga mengeluarkan sebuah obat penenang be

