Prolog

789 Kata
Allâh Azza wa Jalla berfirman: Dan sesungguhnya kami benar-benar akan menguji kamu agar kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan yang bersabar di antara kamu, dan agar kami menyatakan (baik buruknya) hal ihwalmu [Muhammad/47:31]             Tahun 2012 dimana hari itu kebahagiaan seorang anak laki-laki berumur 18 tahun sudah terenggut karena kejadian Kecelakaan pesawat Sukhoi Superjet 100 (SSJ-100) di Gunung Salak, pemberangkatan dari  Bandar Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Indonesia. Dimana kedua orang tua dan adik kecilnya yang akan berpergian ke Pekanbaru dengan menaiki pesawat tersebut akhirnya berpulang kesisi Allah Swt, dimana setiap yang bernyawa akan kembali kepada pemiliknya.           Seorang anak laki-laki yang baru saja sampai kediaman pamannya karena selama ini dia di rawat dan di asuh oleh Sadam dan Sabrina, kedua pasangan itu sangat menyayangi keponakannya seperti anak kandungnya sendiri. Sadam yang tengah duduk di ruang tamu sambil membaca koran mendengar ucapan salam dari keponakannya langsung menyambutnya dengan pelukan hangat layaknya seorang ayah sambung bagi anak lelaki itu. Tak beberapa lama dering telpon rumah berbunyi, Niken yang sedang belajar di samping Abinya pun akhirnya berjalan menuju nakas untuk mengangkat telpon itu.           Wajah gadis itu berbinar saat mendengar kabar bahwa pamannya akan datang ke pekanbaru untuk mengunjungi keluarga besarnya, Niken yang bersemangat langsung memanggil Ummi dan Abinya lalu menyampaikan pesan pamannya itu. Anak lelaki yang baru saja melangkahkan kakinya menuju kamarnya saat mendengarkan ucapan Niken sepupunya langsung tersenyum bahagia, bagaimana tidak, selama kurang lebih lima tahun bahkan lebih lelaki itu terpisah dari orang tuanya karena sibuk menjalani bisnis yang sedang bermasalah di kota kembang itu.           Lelaki itu berlari menuju kamarnya dan bersiap-siap untuk mengganti pakaiannya, karena beberapa jam lagi akan kedatangan kedua orang tua dan adik kesayangannya itu, dia melihat ponselnya dan menscroll dimana percakapan terakhir dirinya dan Abinya beberapa hari yang lalu. Senyumannya terukir dimana lelaki itu mengingat saat dirinya video call dengan sang adik yang sangat dia rindukan selama ini, sudah hampir beberapa tahun terpisah jarak bahkan pulau memisahkan keduanya. Dalam jangka waktu kurang dari lima jam dari sekarang, dia akan bisa memeluk Ummi,Abi, dan adik kecilnya yang sudah beranjak dewasa.           Niken yang sedang menonton televisi pun terperanjat kaget saat mendengar berita kecelakaan pesawat itu terjadi, dimana paman dan bibinya baru saja mengabari jika pesawat yang mereka naiki akan takeoff. Gadis itu berteriak hingga Sadam dan Sabrina menghampiri putrinya lalu memeluknya meredakan tangisan putri kesayangannya, lelaki berumur delapan belas itu berlari keluar kamar sambil mengancingkan kemejanya saat mendengar teriakan sepupunya itu, pandangannya tertuju pada berita kecelakaan di televisi.           Hati lelaki itu menjerit memanggil kedua orang tuanya, matanya memerah menahan tangis saat ini dia tidak boleh lemah di mata paman dan bibinya. Hanya ucapan Innalillahi wa inna ilaihi raaji’un, wa inna ilaa rabbina lamunqalibuun, allahummaktubhu ‘indaka fiil muhsinin, waj’al kitaabahu fii ‘illiyyiin, wakhlufhu fii ahlihi fil ghaabirin, wa laa tahrimnaa ajrohu walaa taftinnaa ba’dahu. Yang terucap dari bibirnya walaupun itu sulit menerima kenyataan pahit seperti saat ini, Sadam mengambil ponselnya lalu menelpon pihak bandara menanyakan berita kecelakaan pesawat yang baru saja disiarkan.           Tubuh Sabrina melemas dengan cepat anak laki-laki itu berlari kearah bibinya dan menahan tubuh bibinya itu, Niken hanya bisa menangis lalu mengambil kotak P3K untuk membantu lelaki di sampingnya itu merawat Umminya yang sangat shock seperti saat ini. Niken mengusap bahu lelaki itu lalu menggelengkan kepalanya seakan-akan mengatakan jika semuanya baik-baik saja. Sadam mengambil kunci mobilnya lalu mengemudikan mobilnya menuju bandara.           “Kenapa ini terjadi pada Ummi,dan Abi, Niken?” Tanya anak lelaki itu sambil menatap sendu bibinya yang masih saja tidak sadarkan diri.           “Kamu harus mengikhlaskan kepergian Paman Adam dan Bibi Aisyah, semoga Allah senantiasa menempatkan kedua orang tuamu disisi-Nya.” Niken hanya tersenyum sambil mengusapkan tangan Umminya. Lelaki di sebelahnya mencoba ikhlas walaupun masih tidak percaya akan semua kejadian ini seperti mimpi buruk baginya, baru saja dia mendapat kabar jika Abi dan Umminya akan secepat ini meninggalkannya sendirian.           Hanya do’a yang bisa lelaki itu ucapkan untuk mempermudah kedua orangtuanya menuju jannahnya, semoga kelak lelaki itu bisa dipertemukan kembali bersama kedua orangtuanya di yaumul akhir seperti dalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat 8 yang artinya;           “Di antara manusia ada yang mengatakan: "Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian," pada hal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman.”(Q.s. Al-Baqarah; 8).           Tim Sar dan beberapa orang yang di perintahkan Sadam pergi ke Jakarta bahkan lokasi dimana pesawat itu terjatuh, semuanya mencari jasad Adam,Aisyah dan gadis kecil itu hingga ketemu. Manusia tidak bisa mengelak jika ajal sudah menjemput bahkan di tempat manapun kita berada, yang kita bawa hingga kematian hanya amal shaleh.           “Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya”. (QS Ali Imran : 145).            Setiap hamba Allah akan meninggal dengan sepengetahuan dan atas izin Nya, tidak ada yang mampu menentukan kapan dan cara kematiannya sendiri. Sebab merupakan sebuah ketetapan yang hanya diketahui oleh Allah sebagai pencipta nya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN