~ Penyesalan itu datangnya selalu di akhir, jika diawal penyesalan itu datang maka kita tidak akan tahu kesalahan apa yang kita buat selama ini. Dan berusaha untuk mengubah sesuatu kesalahan yang sudah terjadi, agar tidak terulang kembali ~ Rayhan Farhan
Sepanjang perjalanan dari Bandung ke Pekanbaru, hanya menyisakan duka pada hati kecil Khadijah. Khalil yang melihat perubahan sikap adiknya hanya bisa menghela nafas, yang terpenting saat ini adalah kesehatan untuk Khadijah dan kedua calon keponakannya itu. bolehkan Khalil mengambil tindakan yang lebih sadis lagi dengan cara mengirimkan surat gugatan perceraian untuk Rayhan terhadap adiknya itu, jika memang boleh sama saja dirinya lelaki b******n yang menjerumuskan adiknya kedalam lubang yang sama.
Tetapi Khalil masih punya rasa sayang pada Khadijah dengan tidak memutus ikatan suci itu, hanya memisahkan jarak dan waktu keduanya saja hingga waktu yang belum di tentukan. Sesampainya di kediaman Alm. Abi Adam, Khadijah memasuki kamarnya lalu mengistirahatkan tubuhnya yang terasa sangat lemas akibat perjalanan.
“Khadijah, makan dulu kamu, dek. Jangan sampai perut kamu kosong apalagi saat ini ada dua malaikat kecil dalam rahimmu,” ucap Khalil setelah memasukan koper adiknya ke dalam kamarnya.
“Khadijah belum lapar kak, tapi Khadijah ingin makan buah manga yang ada di pohon rumah paman Sadam. Tolong ambilkan ya kak,” lirih Khadijah sambil memilin ujung kerudungnya.
Khalil tersenyum lalu mengusap puncak kepala adiknya itu dengan sayang, “Baiklah, Kakak akan menyuruh Riko untuk kerumah paman Sadam agar mengambil pesanan yang kamu mau, ya!”
Khadijah menggelengkan kepalanya lalu menghentak-hentakkan kakinya, “Kenapa harus Riko yang mengambil mangga muda itu dirumah paman Sadam, kenapa tidak Kak Khalil saja!” ketus Khadijah.
“Baiklah, Kakak akan kerumah paman Sadam untuk meminta ijin mengambil beberapa mangga miliknya. Tapi kamu mau ikut juga tidak ,dek?” tanya Khalil setelah melepaskan jas hitam yang dipakainya.
“Khadijah dirumah saja kak, mau istirahat saja. Eh iya kalau udah bawa mangga jangan lupa belikan jus sirsak juga yah,” pinta Khadijah dengan mata berbinarnya sementara Khalil hanya menganggukkan kepalanya menuruti semua kemauan dari adik kesayangannya itu.
Khalil bersama Riko memutuskan untuk pergi kerumah Paman Sadam, selama diperjalanan lelaki itu memandang jalanan dengan tatapan sulit diartikan. Saat ini belum seberapa permintaan adiknya itu, tetapi apakah sanggup lelaki itu harus terus mengikuti kemauan adiknya mengidam hingga menjelang trisemester dua nantinya. Apakah keputusannya membawa Khadijah bersamanya itu salah, ataukah lelaki itu harus kembali meminta Rayhan untuk menjaga adiknya dan membawa ke Kalimantan untuk ikut dalam bisnisnya disana.
Tidak lama kemudian mobil hitam itu sampai dipekarangan rumah dari paman Sadam dan Ummah Sabrina, Khalil turun dari mobilnya lalu mencari keberadaan pamannya itu. Niken yang melihat kedatangan Khalil, akhirnya menghampiri saudaranya itu.
“Assalammu’alaikum, Kak Khalil,” lirih Niken sambil menatap lantai marmer itu.
“Wa’alaikumussalam, dimana Paman dan Ummah ? tumben ruang tamu sangat sepi sekali,” tanya Khalil pada Niken, lelaki itu sudah mulai untuk memaafkan sikap keegoisan dari saudaranya itu.
Kedua orang tuanya tidak pernah mengajarkan untuk menjadi pendendam, dan selalu mengajarkan menjadi seorang hamba yang pemaaf walaupun sangat sulit untuk dilakukan oleh dirinya. Boleh saja Khalil dan Khadijah itu kakak beradik, tetapi sifat dan karakter keduanya sangat berbeda. Khadijah sama seperti mendiang Ummi Aisyah yang selalu memaafkan kesalahan orang lain, sementara Khalil lebih dominan kepada sifat dari alm. Abi Adam yang keras kepala.
“Ummi dan Abi sedang ada di lantai dua Kak, apa ada yang bisa Niken bantu?”
“Kakak hanya ingin meminta ijin untuk mengambil mangga muda di belakang rumah saja, karena Khadijah menginginkannya.”
“Yasudah ambil saja dibelakang rumah, biarkan pak Joko yang mengambilkannya,” ucap Niken sambil berjalan ke belakang rumah untuk memanggil tukang kebun.
“Eehh, jangan pak Joko yang ambil, biarkan Kakak saja yang memanjat pohonnya. Karena Khadijah maunya Kakak yang langsung naik ke pohon itu, Riko ayo kita ambil mangganya!” perintah Khalil pada sahabatnya itu.
Keduanya berjalan menuju halaman belakang, Riko mengambil tangga dan memegangnya dengan erat. Sementara Khalil lelaki itu menaiki anak tangga yang dibawa Riko satu persatu, setelah sampai di dahan yang paling tinggi Khalil memetik empat buah mangga yang lumayan besar dan asam menurutnya. Riko membantunya untuk turun dari pohon itu, Niken sudah menyiapkan cemilan dan minuman untuk Khalil dan Riko. Sementara Ummah Sabrina yang mendengar kegaduhan di belakang rumah akhirnya mendatangi tempat itu, senyumnya merekah saat melihat keponakannya mampir.
“Ternyata kamu, Nak, dimana Khadijah? Kenapa dia tidak ikut, Ummah dengar dia sedang ada di kota ini.” Ummah Sabrina menodong Khalil dengan beberapa pertanyaan.
“Benar, Ummah, Khadijah sedang ada di kota ini. Tetapi dia sedang beristirahat dirumah dan meminta Khalil untuk mengambil mangga muda ini,” tunjuk Khalil pada hasil buah yang sudah diambilnya itu.
“Yasudah hati-hati, dan jaga selalu kesehatan adikmu itu. apalagi dimasa-masa mengidamnya itu jangan sampai tidak terpenuhi,” Khalil dan Riko hanya mengangguk paham, dan keduanya berpamitan untuk kembali ke kediamannya.
Tidak membutuhkan waktu lama untuk Khalil dan Riko sampai pada kediamannya itu, Khalil langsung berjalan menuju kamar adiknya untuk memberikan pesanannya itu. Sementara Khadijah tengah tertidur pulas dengan mata yang membengkak akibat menangis, Khalil merasa bersalah karena memisahkan kedua insan yang saling mencintai tetapi tidak sama-sama terbuka untuk mengungkapkan isi hati masing-masing.
Hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Tepat hari ini sudah Enam bulan Khadijah berada di Pekanbaru jauh dari suaminya bahkan mertuanya, perutnya semakin membuncit karena kandungannya memasuki genap delapan bulan. Selama ini Khalil dan Ummah Sabrina kerap merawat dan menemaninya untuk check kandungan, seperti beberapa waktu lalu Khadijah sudah melakukan USG dan hasil dari pemeriksaan semuanya baik-baiknya. Betapa bahagianya saat melihat hasil cetak dari perkembangan janinnya itu, tangannya mengusap hasil USG itu.
“Sabar ya, Nak, sebentar lagi Abi kalian akan menjemput kita bertiga. Ummi akan mengirimkan poto ini terlebih dahulu yah, semoga saja ini menjadi penyemangat Abimu untuk terus berusaha menjadi lebih baik lagi.”
Ponsel Khadijah berdering, perempuan yang tengah berbadan dua itu langsung meraih ponselnya yang tergeletak diatas nakas setelah menaruh kembali sepasang pakaian dan dua buah poto hasil USG itu. baru saja Khadijah membicarakan bersama kedua buah hatinya, ternyata pesan itu adalah dari suamnya sendiri.
My Husband 19.30
“Assalammu’alaikum,”
Me 19.31
“Wa’alaikumussalam, Mas Rayhan.
Tumben menghubungi Khadijah, biasanya jam segini masih sibuk dikantor?”
My Husband 19.33
“Mas merindukan kamu dan kedua calon anak kita Khadijah, kapan kamu kembali pulang ?”
Me 19.35
“Tidak untuk saat ini Mas, Karena Khadijah masih ingin menenangkan pikiran dulu.
Oh iya, tadi siang Khadijah dan Ummah Sabrina ke klinik untuk memeriksakan keadaan calon buah hati kita, dan Alhamdulillah kondisi mereka berdua baik-baik saja,” Khadijah mengirimkan dua buah poto hasil USG dan sepasang poto baju bayi yang berbeda warnanya.
My Husband 19.37
“Maa Syaa Allah, pangeran dan putri kecil Abi, do’akan Mas agar bisa menjemputmu secepatnya yah. Yasudah kamu istirahat dan jangan lupa minum vitaminnya!”
Me 19.39
“Iya Abinya anak-anak, yasudah Mas juga harus banyak istirahat dan jangan lupa melaksanakan kewajibannya sebagai umat muslim. Kalau begitu Khadijah pamit dulu, Assalammu’alaikum wahai imam dunia akhiratku.”
My Husband 19.41
“Wa’alaikumussalam wahai zaujati duniat akhiratku.”
****
Ditempat lain, Rayhan yang baru saja beres mengerjakan laporan pekerjaannya tersenyum saat mengingat pesan terakhir yang dikirim oleh istrinya semalam. Bagaimana tidak walaupun jarak dan waktu memisahkan keduanya, tetap menjalin komunikasi dengan baik layaknya suami istri pada umumnya. Penyesalan memang data diakhir, agar kita bisa tahu kesalahan apa yang sudah diperbuat dan memperbaiki kesalahan itu untuk tidak mengulangi hal yang sama.
Rayhan kembali membuka galeri di ponsel pintarnya lalu memutar video yang dikirimkan oleh Ummi Nazwa sewaktu Khadijah menjemput dibandara Sultan Syarif Kaim, senyumannya bahkan kebahagiaan terlihat di wajah Ummi Nazwa dan Khadijah saat sedang memilah-milah baju bayi dipusat Mall terbesar dikota itu. Rasanya haru dan masih tidak percaya bahwa dalam waktu kurang dari sebulan dirinya akan menyandang status Abi, ingin sekali hari ini Rayhan berangkat ke Bandung untuk bertemu dengan istri dan calon anaknya.
Tapi apa daya jika dirinya belum bisa meninggalkan pekerjaan di kota Samarinda ini, Rayhan teringat ucapan Umminya jika untuk kembali ke Bandung sebelum kelahiran kedua calon anaknya itu. Ketukan pintu membuyarkan lamunan Rayhan, salah satu anak buahnya membawakan berkas-berkas yang harus di tandatangani oleh Rayhan hari itu juga.
“Tolong lihat jadwal saya sebulan kedepan, jika memang tidak ada yang penting pesankan tiket ke Bandung secepatnya!”
“Baik, Pak, untuk jadwal sebulan kedepan hanya ada rapat dengan beberapa direksi perusahaan ini saja. Tapi bisa ditangani oleh saya jika bapak mau,” ucap Faiz.
“Pesankan tiket untuk ke Bandung sore ini juga!” Faiz yang mendengar perintah dari Rayhan langsung menurutinya dan meninggalkan ruangan atasannya itu.
****
Khadijah tengah duduk dikamarnya dengan balutan gamis peach yang senada dengan Khimar dan cadarnya. Perut yang membuncit membuatnya kesusahan untuk berjalan jauh saat ini, apalagi pergerakan dari kedua calon bayinya saat ini yang sangat aktif.
“Khadijah, buka pintunya ,Nak. Bibi bawakan cemilan untuk kamu,” ucap Bibi Diana dari balik pintu yang tertutup. Khadijah berjalan menuju pintu kamarnya lalu membuka knop itu, Bibi Diana tersenyum melihat keponakannya.
“Mari masuk dulu Bi, temani aku makan ya. Khadijah sangat kesepian semua orang tengah sibuk untuk acara nanti siang,” lirih Khadijah dengan bibir yang cemberut.
“Masa sudah mau menjadi seorang Ummi, masih aja manja minta ditemani untuk makan. Oh iya bibi dengar suamimu akan kembali malam ini,” ucap Bibi Diana setelah menaruh makanan dan beberapa cemilan di meja yang tak jauh dari tempat tidur keponakannya itu.
“Bibi, bolehkah Khadijah mengutarakan sesuatu. Tapi Bibi harus berjanji jika terjadi sesuatu nanti saat menjelang persalinan Khadijah, tetap selalu memberikan support pada Kak Khalil. Dan katakan padanya jika sesuatu terjadi pada Khadijah tolong selamatkan kedua anak dalam kandungan Khadijah,” lirih Khadijah sambil memandang jendela dengan tatapan kosong.
“K-kenapa kau mengatakan seperti itu Khadijah, semuanya akan baik-baik saja, Nak. Bahkan sesuai dengan yang pernah kamu bilang, jika saat melahirkan nanti ingin ada suamimu disamping kan?” tanya Bibi Diana pada keponakannya itu, airmatanya sudah menetes saat Khadijah mengatakan itu.
“Kita tidak akan tahu apa yang terjadi kedepannya ,Bi. Karena maut tidak ada yang tahu, bahkan Ummi pernah mengatakan pada Khadijah di dalam mimpi. Seorang ibu akan mempertaruhkan nyawanya demi keselamatan anak-anaknya, apalagi dokter pernah mengatakan jika kehamilan Khadijah ini sangat rentan bahkan hampir mengalami keguguran di trisemester pertama.”
“Sudah ya, Nak, lebih baik kamu istirahat sekarang. Bibi mau membantu Ummi Nazwa terlibih dahulu, katanya sih hari ini ingin memasak banyak makanan untuk penyambutan suamimu nanti malam,” ucap Bibi Diana setelah mengecup kening keponakannya itu.
****
Pukul tiga sore, Rayhan keluar dari perusahaannya dan menaiki mobil yang akan membawanya ke bandara. Setelah mendapatkan tiket yang dipesan oleh Faiz, dengan segera Rayhan membereskan pekerjaannya. Di sepanjang perjalanan menuju bandara Rayhan terus saja teringat pada kedua orang tuanya bahkan istri tersayangnya itu, Pak Tarjo supir pribadinya selama di Kalimantan hanya bisa tersenyum dari kaca mobil di depannya.
“Sepertinya Bapak, hari ini terlihat bahagia sekali. Apakah sudah mendapatkan tender besar yang membuat bapak sebahagia ini?”
“Bukan Pak Tarjo, saya bahagia karena sebentar lagi akan bertemu dengan istri dan keluarga,” tutur Rayhan sambil mengusap layar ponselnya menampakkan poto Khadijah saat acara Khitbah setahun yang lalu.
“Pasti Bapak sangat bahagia sekali, apalagi yang saya dengar sebentar lagi istri bapak akan melahirkan?”
“Benar sekali Pak Tarjo, oleh sebab itu saya ingin cepat-cepat kembali ke Bandung agar bisa menemaninya saat melahirkan nanti.”
mobil yang dikendari Pak Tarjo akhirnya sampai di bandara, Rayhan merapihkan jasnya lalu berjalan memasuki bandara setelah pamit pada supir pribadinya itu. senyuman terlukis di wajahnya, walaupun memang sebelumnya Rayhan merasakan penyesalan akibat kepergian istrinya ke Pekanbaru. Tapi saat kelahiran kedua calon anaknya nanti, Rayhan ingin memperbaiki semuanya seperti awal saat pertama kali bertemu dan melamar Khadijah dengan niat karena Allah.
“Jika, Allah masih memberikan aku umur panjang. Hanya satu pinta terakhir sebelum semua kebahagiaan ini terenggut oleh waktu, ingin bersama orang yang dicintai hingga hembusan napas terakhir. Bahkan saat malaikat maut, saat itu juga untaian syahadat terucap dari bibir ini. Saat mata tertutup untuk terakhir kalinya, disamping dengan separuh jiwa ini.”