Autor Pov.
Kezia tidak tau jika kedua orang tuanya sudah menunggunya di rumah, tadi setelah kuliah dia pergi ke Yayasan Spindler University, ada beberapa hal yang perlu dia kerjakan hingga dia lupa akan waktu, dan sekarang sudah menunjukan pukul delapan malam Kezia baru sampai rumah, pelayan dan pengawal pribadinya juga tidak memberitahu jika kedua orang tuanya pulang dari Paris.
“Mom, Dad?.” Kezia langsung memeluk kedua orang tuanya satu persatu, satu bulan tidak bertemu dengan kedua orang tuanya membuat dirinya merindu.
“Hy, honey… are u ok?.” Tanya Daddy Orlando Spindler sambil memeluk Kezia yang duduk di antara dua orang tuanya.
“I’am ok Dad, but, i’m tired,” Kezia memeluk lengan kanan Daddynya, sedangkan mommynya, Natarina Wiryanagara Spindler hanya mengulas senyum, anaknya, walau sedewasa apapun dia masih seperti anak kecil pada orang tuanya.
“Key, makan dulu, kamu udah makan belum, jangan tidur di pelukan Daddy, kamu bukan anak kecil, tidak ada yang kuat menggendongmu ke kamar.” Baru saja Kezia memejamkan matanya, Mommy sudah merecokinya, dasar Mommy pencemburu, bilang saja jika dia tidak rela suaminya dia peluk.
“Mom, I’m tired, can i sleeping five minutes?.” Kezia membalas ucapan Mommynya dengan mata tertutup. Sedangkan Orlando Spindler hanya tersenyum, istrinya pasti akan selalu merecoki anak perempuannya saat bermanja manjaan dengannya.
“Biarkan dia istirahat, sepertinya dia lelah, seharian ini dia membereskan beberapa masalah di Yayasan Spindler University.” Natarina hanya mengangguk lalu memeluk Kezia, memberikan kehangatan untuk putri semata wayangnya, seperti inilah mereka di rumah, mereka akan berpelukan melepas rindunya, setelah mereka meninggalkan Kezia dalam waktu yang lama.
***
Pagi ini, Spindler university heboh pemilik Yayasan datang mengegecek kondisi Kampus dan beberapa sekolah yang di naungi Yayasan Spindler University, Kezia hanya menatap dari jauh kedua orang tuanya yang di sambut beberapa petinggi Kampus, Kezia memang menyembunyikan identitasnya sebagai anak dari Orlando Spindler, dan sebagai cicit dari Keluarga Wiryanagara, keluarga Keraton ngayogyakarta.
Kezia melihat Xander sedang berbicara bersama Daddynya, Kezia hanya melewatinya, namun Xander menarik tangan Kezia.
“Perkenalkan, ini Kezia Natarina, dia kekasih saya Tuan Orlando.” Kezia hanya diam, dia belum mampu mencerna apa yang di ucapkan Xander, tadi dia bilang Kekasih, what?.
“Ohh, jadi dia kekasih kamu, berarti saya tidak perlu menjodohkan kamu dengan Key anak saya?.” Kezia dibuat tercengang dengan ucapan Daddynya, dia dijodohkan dengan Xander, wahh wahhh,, ini namanya keterlaluan.
“Baiklah, selamat untuk hubungan kalian, sepertinya aku harus meninggalkan kalian untuk berduaan.” Setelah Daddynya pergi Kezia langsung melayangkan tamparannya pada wajah Xander, Xander yang tidak menyangka jika Kezia menamparnya hanya bisa pasrah, mengelak pun dia tidak bisa.
“Dengar ya Tuan Xander yang terhormat, sampai matipun saya tidak mau menjadi kekasih anda.” Kezia meninggalkan Xander, dia lebih memilih pergi meninggalkan kampus, masa bodo dengan jam kuliah selanjutnya, mood Kezia sudah hancur gara gara Xander barusan, lagian ngapain sih itu orang datang ke kampus lagi, bikin emosi jiwa aja.
Kezia lebih memilih pulang ke Mansionnya, beruntung mansion milik kedua orang tuanya cukup private jadi tidak semua orang bisa keluar masuk kearea mansionnya, penjagaan juga cukup banyak, jadi tidak sembarangan orang bisa masuk tanpa izin.
***
Seharian Kezia mengurung diri di kamar, dia menghabiskan waktunya untuk menonton drama korea di room theater kamarnya, beruntung di kamar Kezia ada mini kulkas yang penuh dengan camilan dan soft drink jadi dia tidak perlu memanggil pelayan untuk mengantar minuman dan makanan.
Tanpa Kezia sadari kedua orang tuanya sudah berdiri di belakangnya, sepulang dari mengunjungi Spindler university mereka menunggu Kezia yang katanya dikamar, namun hingga malam hari Kezia tidak keluar kamar, beruntung kamar anaknya tidak di kunci jadi mereka bisa masuk tanpa harus diketahui anaknya yang sedang menangis menyaksikan kisah pilu drama korea yang di tontonnya.
“Huhhh,,, kalau mau pisah kenapa harus ciuman dulu, harusnya di gampar aja, tapi kasihan pipi mulusnya Oppa nanti jadi lebam.” Orlando dan Natarina hanya menggelengkan kepalanya, ankanya memang dewasa tapi sifatnya kadang amsih seperti anak kecil.
“Mom, Dad, sejak kapan?,” Kezia memang menoleh ketika dirinya merasa di perhatikan, tidak ada pelayan yang berani masuk ke kamarnya, dan hanya kedua orang tuanya yang leluasa keluar masuk kemarnya, dan apa yang dia fikirkan benar, Mommy dan Daddynya berdiri di belakangnya.
“Apa ini kerjaan kamu selama dirumah, Kezia Natarina Wiryanagara Spindler?.” Tanya Mommya setelah ikut bergabung dengan kezi duduk di sofa.
“Hehehehe,,,, bukan tiap hari kok Mom, saat Key suntuk aja.” Kezia langsung memeluk Mommynya yang duduk di sampingnya, iya kalau suntuknya tiap hari sama aja nonton tiap hari, Kezia Kezia.
“Tumben Key suntuk, enggak main sama kekasih?.” Tanya Orlando sedikit menggoda putrinya.
“Key enggak punya kekasih Dad.” Jawab Key, namun matanya fokus pada layar di depannya yang menayangkan drama korea, mengabaikan Orlando yang berdiri di belakangnya.
“Yang tadi emang enggak di akuin?” Tanya Orlando kembali, sungguh menggoda putrinya memang menyenangkan batinnya, apa lagi Kezia sangat lucu kalau dia sudah cemberut.
“Dad percaya aku pacaran sama dia, emang Dad enggak lihat setelah Dad pergi apa yang terjadi, ohh iya tadi Dad bilang kalau Dad mau menjodohkan Key dengan laki laki seperti itu, big no Dad, mending aku minta Eyang aja mencarikan ku jodoh, dapat jodoh laki laki jawa lebih bisa menjaga sopan santunnya.” Natarina yang tidak tau apa apa hanya diam, sejak kapan suaminya mau menjodohkan anaknya, bahkan Orlando tidak mengatakan padanya jika dia ingin menjodohkan Kezia.
“Mom, Dad bilang aku mau di jodohkan dengan Xander Frangklin Tomothy, apa aku harus ke rumah Eyang di Jogja aja, meminta perlindungan dengannya?.” Tanya Kezia, sedangkan Orlando dan Natarina langsung bertatapan melihat tingkah laku anaknya, bisa bisa kena petuah jika Kezia sampai datang ke rumah ibunya, apa lagi menjodohkan Kezia dengan orang yang bukan dari lingkungan Keraton.
“Hahahaha,,,, sayang, dalam dunia bisnis ada hal yang perlu di beli dan di tawar, tapi Dad tidak akan seperti itu sama kamu,” Orlando memang ingin memperbesar perusahaannya, namun dia juga tidak ingin mengorbankan anaknya.
“Dad, itu menakutkan, tapi apa yang Daddy bicarin dengan Xander tadi siang?.” Tanya Kezia.
“Xander hanya meminta kasus bullying di keluarkan, dia sudah meminta rektor namun sepertinya rektor tidak mampu mengeluarkan mahasiswi itu.” Kezia yang tau, saat ini dia sedang menjadi haban sindiran Daddynya.
“Dad, bukannya begitu, tapi, itu salah adiknya Xander, udah punya mata empat tapi jalan aja masih nabrak nabrak orang, dan Kezia marah karena tugas Key harus basah dengan ice chocolate yang baru Key minum sedikit.” Kezia memberi pembelaan padanya, lagian yang membully adik Xander bukan hanya dirinya kenapa dia yang salah, kenapa enggak yang lain aja, emang Xander sialan.
“Mommy tidak pernah mengajarkan hal seperti itu, kamu itu anak seorang Spindler, terlebih lagi kamu memiliki darah ningrat, semua kelakuan kamu harus mencerminkan siapa kamu, ingat Mommy dan Daddy masih memantau kamu,” Kezia harusnya sadar, jika sudah membahas tentang darah yang mengalir dalam tubuhnya, atau marganya semua kelakuannya harus sempurna, bahkan dia tidak boleh melakukan kesalahan sama sekali.
“Kenapa Key enggak di lahirkan dari darah orang biasa saja, kenapa harus darah ningrat kenapa harus darah Spindler, Key capek, key dilarang ini, dilarang itu, bahkan hal hal kecil yang bisa Key lakuin harus di lakuin seorang pelayan….”
Plakkk….
Tanpa sadar tangan Natarina melayang pada pipi mulus Kezia, Kezia dan Orlando langsung terdiam, Kezia langsung pergi meninggalkan Natarina dan Orlando, dia tidak perduli, dengan penggilan Daddynya, dia butuh menenangkan diri.
***
Kezia pergi menggunakan mobil honda Jazznya, dari semua mobilnya hanya mobil itu yang berada di carport jadi Kezia menggunakan mobil itu.
Suara musik yang memekakkan telinga, lampu remang remang, pakaian para wanita yang tidak seperti pakaian menyambut Xander, entah kenapa malam ini dia ingin bersenang senang di club, yang pastinya club ekslusif bukan club abal abal.
Beberapa wanita langsung mendekati Xander setelah Xander duduk di depan Bar, dua bodyguard yang berdiri tidak jauh dari tempat duduknya mengawasi sekitar, mereka berdua tau Xander bukan orang sembarangan, dan mereka dipekerjakan untuk keselamatan Xander.
Xander menikmati suguhan dari kedua wanita yang menemani Xander, tidak heran para wanita ingin bredekatan dengan Xander, melihat Xander yang tampan, kaya, hot, dan sepertinya mampu mengimbangi nafsu mereka di ranjang.
Namun kesenangan Xander harus terhenti saat melihat sosok Kezia dari kejauhan yang keluar dengan tergesa gesa.
Xander yang tidak tau apa yang ada di fikirannya, namun dia melangkah mengikuti Kezia, walau dia kehilangan jejak Kezia, namun dia melihat mobil Kezia melaju melewatinya, Xander langsung mengerjar Kezia, dia tidak memperdulikan bodyguardnya, lagian dia datang membawa dua mobil.
Kezia menghentikan mobilnya di pinggir taman, tadi dia pergi ke club namun dia melihat dua orang sepertinya bodyguard dibawah nauang secret security, walau mereka sedang mengawal orang lain, namun keselamatan Kezia diatas segalanya, dan saat mereka melihat Kezia mereka akan melapor dapa Tio ataupun pada daddynya secara langsung.
Kezia duduk di kap mobil, sudah hal biasa baginya saat dia sedang suntuk dia akan berjalan jalan dan berhenti di tempat sekiranya dia nyaman, sambil meneguk soft drinknya Kezia menatap langit, walau bulan terlihat sangat cerah namun, tidak ada satupun bintang yang menemaninya.
Tanpa Kezia sadari seorang laki laki berdiri di sampingnya.
“Apa yang dilakukan perempuan malam malam seperti ini di tempat sepi?.” Kezia yang langsung menoleh, laki laki yang paling dia hindari entah bagaimana bisa berdiri di sampingnya.
“Bukan urusan anda.” Kezia tidak memperdulikan Xander, dia hanya butuh ketenangan, lagian Jakarta sempit banget kayaknya, kenapa dia bisa bertemu Xander dalam keadaan seperti ini.