Sungguh, kata - kata Raka membuat semu merah di pipi Luna semakin terlihat sangat jelas diantara rasa gugup yang kian menderanya saat ini. "Kenapa tiba-tiba ngomong seperti ini? Apa yang harus aku katakan? Harusnya Raka mengatakan itu di apartemen saja, bukannya disini." Batin Luna. Ia merasa sangat malu saat ini. Tubuhnya seperti membeku, padahal ruangan itu cukup terasa hangat bagi mereka. "Luna," panggil Raka lembut. Luna mengerjapkan matanya beberapa kali. Raka menggenggam kedua tangan halus Luna yang semakin terasa dingin. Menyalurkan rasa hangat miliknya pada kedua tangan halus itu. "Aku sangat berharap kamu mau menjadi kekasihku, Luna Abigail. Dan mungkin akan menikah juga denganku nanti." Suara lembut Raka, tatapannya yang hangat, serta remasan pada tangan mereka, membuat jant

