Mentari senja memancarkan warna keemasan di Desa Terpencil, mewarnai langit dan ladang dengan keindahan yang menenangkan. Proyek irigasi hampir selesai, menciptakan harapan baru bagi para petani. Namun, bagi Via, senja itu membawa perasaan yang campur aduk. Saat membantu para pekerja memasang pipa terakhir di dekat sungai, matanya tak sengaja tertumbuk pada sebuah gubuk kecil yang sudah lapuk. Gubuk itu...adalah saksi bisu cinta pertamanya dengan Darwin, tempat mereka dulu sering memadu kasih, berbagi impian, dan mengukir janji-janji abadi. Jantung Via berdegup kencang. Ia merasa seolah waktu berhenti berputar. Pemandangan di depannya bagai portal yang membawanya kembali ke masa lalu, ke saat-saat indah yang kini terasa begitu jauh dan menyakitkan. Kenangan manis dan pahit berca

