6. Keputusan

1551 Kata
Suasanah senja menjadi waktu favoritku untuk merenung di balkon kamar. Terkadang juga aku mengerjakan tugas-tugas sekolah dan menulis buku diary disini, duduk sambil melihat matahari terbenam di ufuk barat di temani segelas teh hangat. Ada hal yang membuatku terpikat pada senja. Senja banyak disukai orang namun senja tak pernah memberi harapan palsu pada siapapun dengan cara memunculkan diri lebih awal agar orang yang menyukainya, puas melihatnya hadir. Senja tetap datang sesuai waktu yang sudah ditetapkan dan selalu seperti itu. Senja menjadi lambang kesetiaan. Senja yang setia. Aku ingin menjadi seperti senja sore hari, selalu datang diwaktu yang tepat dan tak pernah mengingkari janji dan tak pernah menyerah untuk selalu datang meski kehadiranku tidak terlihat dimatanya. Senjaku untukmu calon imamku. Balkon kamarku adalah tempat favoritku untuk mengeluarkan keluh kesahku terhadap apapun. Kini hal yang sedang mengganggu pikiranku adalah kapan waktu yang tepat untuk memberitahu pada Ummi tentang keputusanku ini. Aku juga masih ragu namun selama beberapa hari ini aku selalu memimpikan hal yang sama apalagi tadi malam aku bermimpi bertemu dengan Abi, beliau memberikan beberapa nasehat dan beliau sangat berharap aku mau menuruti permintaanya dalam surat wasiat itu. Ku lirik jam tangan yang semat di tangan kiriku, pukul 17.50 masih ada waktu tersisa sebelum adzan maghrib berkumandang lebih baik aku gunakan untuk menonton TV bersama Ummi. Tepat seperti dugaanku Ummi tengah asik menonton FTV disalah satu stasiun TV swasta yang banyak digandrungi para emak-emak +62 termasuk Ummi diantaranya. "Ummi, lagi nonton apa sih serius amat?" tanyaku untuk mengalihkan fokus Ummi. "Ini loh, ndok. FTV hidayah tentang seorang istri yang di dzolimi oleh suaminya dan madunya," jelas Ummi menggebu-gebu, tatapannya masih serius tertuju pada layar TV. "Oh ... gitu. Ummi kalo cerita itu terjadi pada Hawa, apa yang bakal Ummi lakuin?" tanyaku penasaran dengan respon Ummi. "Oh, tentu Ummi akan bela kamu mati-mati kalo kamu benar! Ummi akan menjadi seperti ibunya Arini seperti didalam film itu," tunjuk Ummi pada layar TV yang sedang menayangkan seorang wanita paruh baya seumuran Ummi. Wanita itu terlihat tegas dalam membela anaknya yang disakiti oleh suaminya yang lebih memilih membela wanita lain. "Tapi pesan Ummi, kalo kamu menikah nanti sekuat tenaga kamu harus pertahankan keutuhan rumah tangga kamu ya, Ndok. Sudah menjadi impian semua orang jika mereka hanya ingin menikah sekali seumur hidup. Ummi harap kamu juga begitu, Ndok." "Iya Ummi. Insya Allah Hawa akan berusaha untuk mempertahankan rumah tangga Hawa nantinya." Aku teringat sebuah hadis, dari Umar dia berkata Rasulullah saw bersabda: “Sesuatu yang halal tapi di benci Allah adalah perceraian.” [HR. Abu Daud dan Hakim.] Ummi menoleh ke arahku sepenuhnya lalu memegang pundakku dengan lembut," ujian dalam rumah tangga itu memang berat tapi kamu harus ingat satu hal. Perceraian adalah hal yang dibenci Allah meski tidak diharamkan. Perceraian itu bisikan setan, jika kamu memilih untuk menyerah maka setan akan tersenyum puas melihatnya. Kalo kamu tidak kuat untuk menghadapi masalahmu dalam pernikahan nanti. Ingatlah untuk selalu bertawakal pada Allah, pasti semuanya bisa kamu lewati dengan baik." "Mi, sesuai dengan petunjuk dari Allah yang diantarkan melalui mimpi. Hawa sudah memutuskan untuk menjalankan wasiat dari Abi," ucapku penuh keyakinan. "Alhamdulillah, Ummi hanya bisa mendoakan untuk kelancaran hidup kamu di masa depan, Ndok." Ummi langsung merengkuhku dalam pelukan hangatnya. "Nanti Ummi akan bicarakan ini sama calon besan, agar mereka datang kesini secepatnya untuk melamar kamu!" lanjut Ummi dengan gembira. Allah, hati ini sungguh bahagia melihat kebahagiaan yang terpancar dari wajah Ummi. Allah, semoga ini adalah keputusan yang tepat sesuai dengan petunjukmu. Amiinnn…. *** Jantungku berdegup kencang menantikan kedatangan calon imamku. Dua hari setelah aku memberitahukan Ummi tentang keputusanku, keluarga calon suamiku itu memutuskan datang hari ini. Kini aku sudah duduk di sofa ruang tamu dengan pakaian kebaya, para tetangga dan saudara-saudaraku berkumpul untuk menyaksikan acara ini. Silvi juga terlihat hadir di acara ini, saat tadi pertamakali Silvi kuberitahu tentang perjodohan ini. Ia langsung heboh dan menanyakan banyak hal tentang calon suamiku itu, aku yang sama sekali belum mengetahui siapa calon suamiku hanya menggeleng. Iya, hingga hari ini aku belum tahu bagaimana rupa calon suamiku itu bahkan namanya saja aku juga tidak tahu. Sebenarnya Ummi ingin menujukkan fotonya tapi aku mencegahnya, lagipula hari ini aku akan melihatnya juga. Terdengar suara mobil yang baru saja terparkir di depan rumah, aku langsung menegakkan tubuh dan secara spontan jari-jariku saling memilin di pangkuan karena kegugupan yang mulai melandaku. "Assalamualaikum!" ucapan salam yang dilontarkan oleh rombongan dari calon suamiku, langsung di sambut dengan gembira oleh orang-orang disekelilingku. "Wa'alaikumssalam!" aku juga ikut menjawabnya walau suara yang kukeluarkan hanya menyerupai cicitan. "Mari silakan duduk," ku lihat Paman Syarif, mempersilakan keluarga calon suamiku untuk duduk di sofa yang letaknya bersebrangan denganku. Kepalaku tak berani mendongak, aku masih terlalu sungkan untuk melihat calon suamiku itu. Acara sambutan di haturkan oleh Paman selaku wali nikahku besok sebagai pengganti Abi. Raut wajahku seketika sedih, mengingat Abi yang tak bisa mendampingiku di hari bahagiaku nanti. Aku kembali tersadar saat telingaku mendengar suara yang cukup familiar itu tengah berbicara, beliau duduk tepat dihadapanku."Saya minta maaf sebelumnya, putri Ibu nanti akan menjadi istri kedua dari putra saya." Mendengar itu kepalaku mendongak, mataku langsung membelalak ketika manik mata sehitam jelaga itu tengah menyorot tajam ke arahku. Allah, apa maksud semua ini? Bagaimana bisa dia ada disini? Jadi… ini rencama-Mu sehingga aku dipertemukan lagi dengannya? *** Saat acara lamaran kemarin, Bunda sangat bahagia mengetahui jika aku adalah anak sahabat dari suaminya. Namun ada satu hal yang sedikit mengganjal, Raddan eh maksudnya Mas Raddan, mulai sekarang aku akan kembali memanggilnya seperti itu. Mas Raddan terlihat terpaksa menerima perjodohan ini dan kami sama sekali belum saling berbincang satu sama lain bahkan di acara itupun kami hanya diam mendengarkan para sesepuh keluarga yang berbicara. Disinilah aku sekarang berada disebuah butik ternama untuk melakukan fitting baju kebaya. Kebaya itu akan aku kenakan saat akad pagi hari dan resepsi malam harinya. Kebaya untuk akad tentu berwarna putih berkain brukat dengan hiasan manik-manik yang cantik dipasangkan dengan kain songket warna keemasan. Sedangkan untuk acara resepsi kebaya yang kugunakan merupakan kebaya modern dengan potongan loose, kebaya ini terlihat seperti gaun malam namun tertutup agar bisa menyesuaikan dengan hijab yang ku kenakan ini. Aku memilih warna biru malam untuk kebaya saat resepsi nanti. "Hawa, coba kebaya ini. Bunda ingin melihat kamu memakainya," Bunda menyodorkan sebuah kebaya dengan ekor yang cukup panjang. Hanya aku dan Bunda yang datang kebutik ini Ummi tidak bisa ikut sebab beliau sedang pergi menemui WO untuk memilih makanan yang akan disajikan dalam acara pernikahanku nanti. Aku meringis dari penglihatanku saja kebaya itu sangat berat, akhirnya dengan berat hati aku tetap mengambilnya, rasanya tidak enak menolak permintaan Bunda. Ternyata sesuai dugaan kebaya itu sangat berat, hampir saja aku menjatuhkannya saat kebaya itu baru mendarat ditanganku. Ku langkahkan kakiku memasuki ruang ganti, didalamnya aku dilanda kebingungan saat ingin mengenakanya kancing kebaya-nya sangat sulit dibuka. Ingin keluar tapi sudah terlanjur buka baju, aku dengan teliti mulai membuka kancing itu dengan hati-hati takut copot semua payetnya yang rapat juga cukup menyusahkanku untuk memakainya. Setelah terpasang sempurna kukenakan kembali khimar panjangku yang sempat kulepas, barulah kemudian aku keluar ruang ganti. "Subhanallah, cantiknya calon mantu Bunda!" pekik Bunda saat aku baru keluar. "Raddan, kesini coba liat calon istrimu ini!" panggil Bunda yang membuat aku kaget, bukanya tadi Mas Raddan mengatakan tidak bisa datang? Pria itu mendekat ke arah kami, membuat jantungku berdetak tidak normal. "Cantikkan calon istrimu ini?" tanya Bunda pada Mas Raddan. "Biasa saja," jawaban singkat yang membuatku tertohok, apakah dimatanya aku terlihat sangat biasa. Ku akui Clara memang lebih segala-galanya dariku yang hanya seorang gadis biasa. "Tapi menurut Bunda, Hawa lebih cantik dari Clara. Hawa cantiknya natural luar dalam sedangkan Clara cantiknya hanya bagian luar sedangkan dalamnya busuk!" ujar Bunda yang membuat tatapan Raddan mengelap karna marah. "Bunda, Hawa udahan ya pake kebaya-nya." celetukku untuk mengalihkan pembincaraan ini suapaya tidak terjadi keributan. "Coba yang ini juga ya," Bunda kembali menyodorkan sebuah kebaya padaku."Aduh, Hawa lupa kalo ada urusan kerjaan yang belum selesai. Jadi Hawa harus balik ke sekolah lagi Bun, maaf ya." Itu hanya alasanku, agar Bunda tidak dapat memaksa aku lagi, yang ini saja sudah hampir tidak sanggup aku memikul bebannya apalagi harus memakai yang lainnya lagi. Bisa rontok tubuhku. "Ya udah, nggak papa. Yang penting urusan sekolah harus selesai sebelum hari pernikahan kamu nanti." "Sip, Bun. Assalamualaikum," pamitku seraya mencium tangan Bunda takzim. "Raddan yang antar kamu," Bunda mendorong Raddan untuk menyusulku. Kenapa jadi begini... padahal aku ingin cepat pergi, kalo begini sama saja. Di dalam mobil hanya keheningan yang mengisi, sebenarnya aku ingin menanyakan banyak hal tentang ingatannya. Apakah sudah pulih? Tapi sepertinya belum melihat tatapannya masih sangat tajam padaku. "Ekhm, saya nggak nyangka ternyata gadis yang Ayah dan Bunda saya jodoh itu kamu. Seorang gadis yang tidak profesional saat bekerja!" Sontak kepalaku menoleh ke arahnya, "apa maksud ucapan anda barusan?" tanyaku formal. "Seorang pelayan restoran yang suka melamun saat bekerja!" jelasnya lagi. Deg! Dia ingat. "S-saya kan sudah minta maaf waktu itu," jawaku jujur. "Huh, jika dengan maaf saja semua masalah akan selesai, maka penjara tidak akan penuh!" "Tapi kan—“ ucapanku terpotong oleh suara deringan ponsel yang berasal dari dashboard mobil Mas Raddan. Sebelum Mas Raddan mengambil ponselnya, aku sempat melihat nama Clara tertera sebagai si pemanggil. "Halo, Assalamualaikum?" mulai Mas Raddan. "...." "Iya, nanti Mas bawakan saat pulang." "...." "Sebentar lagi, Mas pulangnya." "...." "Iya, i love you too." Sakit. rasanya sakit saat pria yang dari dulu hingga sekarang masih menempati ruang terbesar dalam hatiku, berbicara mesra dengan wanita lain. Sedangkan aku, tidak ia ingat sama sekali. “ Stop! Saya turun disini saja.” Mas Raddan menghentikan laju mobilnya dan aku segera keluar dari sana tanpa menoleh untuk berpamitan, aku langsung berlari kesembarang tempat yang terpenting suara percakapan mereka tidak bisa lagi terjangkau oleh gendang telingaku. ______
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN