Kami pun melaju menuju kediaman Bapak. Meskipun sebetulnya malas bertemu dengan Mbak Merina dan Mamam Renita, tapi ini tetap harus terjadi. Aku harus memperkenalkan Bang Zayd pada Bapak sebagai calon suami, biar Bang Irfan tereliminasi. Bismillah …. Akhirnya kami pun tiba. Hanya saja, kenapa rumah ini terlihat sepi. Pagarnya sajanya g terbuka lebar, tapi tak terlihat ada orang. “Bang, tunggu sini dulu aja, ya! Kok kek gada orang!” “Ok.” Aku pun turun dan berjalan menuju rumah tapak dua lantai yang ukurannya cukup besar itu. Rumah dengan gerbang besi warna hitam ini bisa kumasuki tanpa permisi, tapi kenapa kondisinya terlihat sepi. “Assalamu’alaikum!” Hening, tak ada yang menjawab. “Assalamu’alaikum!” Aku mengulang. “Wa’alaikumsalam!” Samar, suara terdengar dari dalam. Hanya

