“Ya sudah, iya, Abang tidur di sini, tapi ada syaratnya!” ocehku sambil menatap wajahnya sekilas yang kini tengah dipenuhi senyuman. Wah, jangan-jangan dia sedang membuat sebuah perencanaan. “Syarat? Apa itu?” tanyanya tanpa mengubah posisi tubuhnya. “Aku yakin, tadi malem Ibu habis nangis. Aku yakin banget, hal yang bisa Ibu nangis itu pasti kalau enggak Bapak, ya, Mama Renita.” Aku bicara sambil terus melipat pakaian dan menatanya ke dalam lemari. Ibu tak akan pernah bercerita, di depanku dia selalu ingin tampil baik-baik saja. Begitupun yang aku tiru dari dia. Di depannya aku pun selalu ingin tampil baik-baik saja. “Lalu, hubungannya dengan syarat tadi?” Suara Bang Zayd membuat pikiranku yang tengah berkelana, kembali pada tempurungnya. “Bantu aku jodohin Pak Hakim dengan Ibu, Ban

