Saira menarik napas panjang setelah sambungan telepon ditutup. Padahal, saat ia melihat nama Gibran di layar handphone-nya, ia begitu senang sampai-sampai rasanya ingin teriak. Gibran akhirnya menghubunginya! Namun ternyata, perasaannya kini lebih buruk dari sebelum Gibran menghubunginya tadi. Dengan kesal, Saira melempar handphone-nya ke atas tempat tidur, diikuti dengan tubuhnya yang ringan. Ia tertidur. Di dalam tidurnya, Saira bermimpi dijemput oleh Gibran secara tiba-tiba di depan rumahnya. Saat itu kaki Gibran sudah sembuh dan tidak ada kruk maupun bekas luka paska kecelakaan. Saira menyambut kedatangan Gibran dengan bahagia, namun bukan senyum yang Saira dapatkan, melainkan Gibran memandang Saira dengan kesal, seolah-olah Saira berbuat kesalahan

