The Hidden Assassin
Remake 2015
.
Kejadian di mana Gekko memperbudak seekor Harpy berambut merah, berlalu begitu saja. Meskipun penasaran, tetapi Gin tidak membahasnya lagi. Ia bahkan menyimpan cerita tersebut untuk dirinya sendiri, sama sekali tidak mengungkitnya di depan dua temannya yang lain. Bahkan ia bersikap seolah tidak terjadi apa-apa ketika Rozen datang menyusul dan menanyakan keadaan mereka.
Bukannya tidak peduli, tetapi Gin akan membiarkan Gekko sendiri yang bercerita. Itu pun jika teman pucatnya itu mau secara gamblang mengungkap jati dirinya. Jika tidak, Gin yang akan menjelaskan semuanya kepada Alice dan Lizzy, dengan persetujuan Gekko tentu saja. Namun, sepertinya hal itu masih sangat lama, dan Gin yang mudah teralihkan perhatiannya, bisa saja memang tidak memikirkan apa pun tentang kejadian yang sudah dialaminya.
Lima hari setelahnya, Rozen datang ke pondok seperti biasa. Entah mengapa wajahnya sedikit lebih serius, dan dengan tiba-tiba ia mengakatan, “Aku mengundang kalian semua ke istana.”
Perkataannya itu sukses membuat bungkam keempat remaja yang ada di depannya. Gin menatap Lizzy, Lizzy menatap Gin, Alice memandang Gekko, dan Gekko tidak peduli.
“Aku sudah mempertimbangkan ini masak-masak. Kalian akan lebih aman jika tinggal di istana, aku juga tidak perlu repot setiap hari membawakan makanan untuk kalian. Kita akan sama-sama diuntungkan. Aku juga bersedia menyembunyikan identitas asli kalian. Aku akan mengatakan pada semua orang bahwa kalian adalah teman bermainku yang sedang ingin berkunjung ke rumah temannya.” Rozen meyakinkan. Ia melihat satu per satu remaja di depannya, berharap mereka mau menerima idenya.
“Apa tidak merepotkan?” Alice lah yang mulai buka suara.
“Akan lebih merepotkan jika kalian menolak, kurasa,” jawab Rozen menyakinkan sekali lagi.
“Urmm, bagaimana teman-teman?” Alice memandang ragu semua teman-temannya, meminta persetujuan.
Gin dan Lizzy mengangguk sambil berujar, “baiklah.” Sedangkan Gekko tampak tak acuh seperti biasa. Gadis itu tidak menjawab iya tapi juga tidak menolak. Maka otomatis diputuskan bahwa semua menerima undangan Rozen ke istananya.
Rozen tersenyum senang. Ia berharap keputusannya mengajak orang-orang asing ini tidaklah salah. Ia juga berharap mereka semua adalah orang-orang yang dibutuhkan negerinya.
Beberapa hari ini Rozen sebenarnya telah mendapatkan banyak sekali informasi tentang bunga sihir yang bisa menyokong keberlangsungan negerinya. Ibunya dengan suka rela mau menceritakan semua hal padanya. Cerita ibunya lah yang membuatnya berpikir jika empat orang yang ditemuinya secara tidak sengaja ini, adalah orang-orang yang akan mengubah nasib negerinya. Meskipun ia masih belum yakin, tapi apa salahnya dicoba.
'Hanya mereka yang datang dari tempat lain yang bisa menjadi Sang Tepilih. Takdir akan membawa mereka ke Agalaia'
Kata-kata ibunya terngiang di benak Rozen. Dalam diam dia memanjatkan doa berkali-kali. Berdoa semoga firasatnya pada keempat teman barunya ini, benar adanya.
.
.
.
Alice menatap Gekko takut. Sejak Rozen menyuruh mereka semua mengganti pakaian dengan sebuah gaun nan anggun--kecuali Gin--Gekko jadi tampak lebih murung dari biasanya. Hari-hari biasa, kemurungan Gekko adalah ekspresi alaminya, tapi kali ini ekspresi murungnya lebih terlihat seperti marah-marah.
“Kau tidak suka gaunnya?” tanya Alice takut-takut, sesekali ia menelan ludah.
“Hn.”
Namun lagi-lagi, Gekko tidak menjawab dengan jawaban yang bisa dimengerti, tapi karena Alice adalah translator bahasa ‘Hn’ Gekko, maka dia sangat paham bahwa Gekko memang benar-benar tidak suka dengan gaunnya. Sebenarnya, bukan gaunnya yang bermasalah, tapi memang Gekko tidak suka memakai gaun dengan banyak manik-manik cemerlang.
“Jangan murung seperti itu, Pendek. Kau jadi kelihatan lumayan imut kalau memakai gaun. Buahahaha.” Gin memperkeruh suasana. Ia menepuk-nepuk punggung Gekko sambil mengeluarkan lelucon kasarnya seperti biasa.
Alice yang melihat itu, bingung sendiri mencari cara untuk menghibur Gekko, sedangkan Gin tidak pernah berbelas kasih ketika sudah memperolok Gekko.
Sementara itu, Lizzy yang selalu sejalan dengan Gin, ikut pula menggoda Gekko. “Uugh, Gekko memang menggemaskan,” ujarnya berbasa-basi. Ia memeluk Gekko erat sambil menggesek-gesekkan pipinya ke pipi teman pemurungnya itu.
“Ya ya ya, harus kuakui selera pangeran Rozen tentang pakaian tidak buruk. Ha ha ha.” Gin tertawa lagi, tetapi matanya tidak henti melihat tampilan Gekko yang suram dengan gaun hitam berenda-renda. Alice dan Lizzy mengangguk, dalam hati, mereka merasa senang melihat Gekko yang terkesan lucu memakai gaun.
Bagaimana mengatakannya, melihat Gekko yang sekarang memang terasa ada hawa yang berbeda. Ia memakai gaun hitam panjang, dengan pita kecil di d**a dan perut yang berwarna hitam pula. Renda-renda pada gaunnya pun warnanya hitam. Keseluruhan penampilan tersebut, dipadukan dengan rambut hitam dan iris mata hitam, juga kulit pucat tak wajar, membuat Gekko seperti boneka lilin yang dijadikan berhala oleh kaum-kaum pemuja setan. Meskipun merinding, tapi Alice dan Lizzy menyukainya.
Alice dan Lizzy sendiri pun tak kalah menawan. Gaun milik Alice berwarna merah, sedangkan milik Lizzy berwarna biru. Rambut pirang keduanya ditata sedemikian rupa, kulit yang bersih dan putih membuat keduanya tampak seperti bangsawan, meskipun pada kenyataannya Alice memang seorang bangsawan.
Gin juga tak mau ketinggalan, ia mengenakan kemeja hitam lengan panjang, dengan celana biru dongker dan juga sepatu boot biru dongker panjang mencapai bawah lutut, dan sebagai pelengkap, tuxedo biru dongker menyempurnakan penampilannya.
Mereka semua tampak sedikit berbeda dari biasanya, penampilan yang sudah cukup sempurna untuk berbaur di lingkungan istana.
“Kalian sudah siap?” Rozen masuk ke dalam pondok setelah sebelumnya ia berada di luar untuk mengurusi kuda-kudanya.
Alice, Lizzy dan Gin menggangguk bersemangat, sedangkan Gekko tak merespon apa-apa.
Melihat reaksi Gekko, Rozen bingung harus bersikap bagaimana. Sering kali ia mencoba berinteraksi dengan Gekko, tapi hasilnya nihil. Selama seminggu ini pun ia lebih sering berbincang bersama Alice, Lizzy atau Gin. Pembicaraannya dengan Gekko hanya jika ia ingin menanyakan sesuatu, dan itu pun pasti berhubungan dengan hal serius.
“Kereta kudanya juga sudah siap, ayo. Kuharap kalian betah tinggal di istana.” Senyum Rozen mengembang dengan indahnya.
.
.
.
Ratu Agalia berdiri anggun di depan pintu utama istana, ditemani seorang pria besar yang sering ia panggil sebagai Berenice. Pengawal-pengawal berjejer di sudut lain, menyembunyikan diri.
Betapa penasaran Agalia dengan orang-orang yang akan dibawa Pangeran Rozen. Sosok-sosok yang sudah dinantikan Agalia sejak lama, manusia dari dunia lain.
Rozen telah menceritakan semuanya. Meskipun sudah berjanji akan menyembunyikan identitas empat remaja asing tersebut, tetapi ketika Agalia mencecar dengan pertanyaan dan kecurigaan, Rozen tidak bisa apa-apa. Lagi pula siapa pula yang tidak curiga jika setiap hari Rozen pergi ke hutan dengan membawa banyak makanan?
Terlebih, Rozen pun dipojokkan, jika tidak mau memberitahu yang sebenarnya, teman-teman asingnya tersebut akan dianggap penyusup. Hukuman menanti di depan mata.
Demi kebaikan banyak orang, Rozen akhirnya menjawab dengan jujur pertanyaan ibunya, sekaligus meminta supaya tidak begitu menggembar-gemborkan kehadiran teman-temannya ke khalayak. Agalia setuju, dan mengutus Rozen agar mengundang teman-teman barunya ke istana.
Agalia sangat berharap bahwa kali ini takdir berpihak padanya. Kesehatannya akhir-akhir ini semakin menurun, ia takut jika tidak cepat-cepat menemukan Sang Terpilih, ia sudah mati terlebih dulu dan negerinya menghilang karena tak ada kekuatan besar yang mampu menopang.
Ketika matanya melihat sebuah kereta kuda beserta kuda milik Rozen semakin mendekat ke tempatnya, wajah Agalia semakin berseri-seri.
Rozen tiba lebih dulu bersama kudanya, disusul kereta kuda yang membawa teman-temannya. Rozen pun turun dari kudanya dan segera menghampiri ibunya untuk memberikan pelukan singkat. Tak lama, pengawal Rozen yang juga bertugas sebagai kusir, turun dari tempatnya mengendarai kereta dan bergegas membukakan pintu.
Agalia menahan napas, ketika satu demi satu tamu-tamu anaknya keluar dari kereta kuda sederhana.
“Mereka masih muda,” bisik Berenice pada Ratunya.
Agalia mengangguk, senyum senang terpatri di bibirnya. “Anak muda biasanya punya semangat tinggi,” bisiknya balik.
Berenice terkekeh mendengar komentar Ratunya.
“Teman-teman, kenalkan, ini ibuku. Ratu Agalia de Agalaia. Ratu negeri ini.”
Mendengar Rozen memperkenalkan ibunya, keempat remaja di sana segera meletakkan tangan kanannya di d**a dan mengangguk memberi hormat, seperti yang sudah Rozen ajarkan.
“Kami sangat tersanjung bertemu dengan Yang Mulia Ratu.” Alice mewakili teman-temannya berbicara, ia menekuk lutut sejenak dan memberikan senyum secerah purnama andalannya.
Agalia ikut tersenyum cerah. “Aku juga merasa sangat beruntung bisa bertemu dengan teman-teman putraku. Aku Agalia de Agalaia, salam kenal.”
“Suatu kehormatan bagi kami, Yang Mulia.”
“Anak yang manis. Siapa namamu?” tanya Agalia kemudian.
“Saya Alice Russell, Yang Mulia. Dan bertiga ini teman-teman saya. Gin Geralz, Lizzy Chrunchill, dan Gekko Hakai. Kami semua sangat gembira karena Yang Mulia menerima kami dengan begitu baik. Semoga kedatangan kami tidak merepotkan.”
Agalia menggeleng. “Sama sekali tidak merepotkan. Aku harap kalian akan betah berlama-lama di istana ini. Aku sangat senang Rozen mau mengajak teman-temannya berkunjung.”
“Dengan senang hati, Yang Mulia Ratu.”
Agalia tersenyum lagi. Ia memperhatikan satu per satu remaja di depannya. Alice Russell benar-benar memikat hatinya. Gadis itu terlihat bersinar di matanya, seperti seorang putri terhormat dari Kerajaan Pusat Maknaria. Rambut pirangnya tampak halus, kulitnya seputih pualam, sangat sedap dipandang.
Satu persatu, Agalia juga memperhatikan tiga yang lainnya. Mulai dari Gin Geralz, seorang pemuda gagah dengan senyum jenaka dan tampak bersemangat, mata biru yang cemerlang itu membuat Agalia pesona. Lalu, ia mengalihkan pandang pada seorang gadis pirang lainnya yang menarik perhatiannya, Lizzy Chrunchill. Gadis itu tampak ramah dan menyenangkan. Wajahnya sedikit sinis tapi sangat menawan, mirip seseorang yang sejak lahir sudah berada di puncak kasta. Agalia yakin, meskipun Lizzy terlihat sombong di luar, gadis itu pastilah sosok yang ceria dan penuh perhatian. Bisa Agalia lihat dari kilauan matanya dan senyum cerahnya.
Namun, ada satu orang yang sekali lihat, membuat bulu kuduk Agalia merinding. Seorang gadis yang dikenalkan Alice sebagai Gekko Hakai. Penampilan luar Gekko yang seperti patung lilin itu memang terlihat cukup mengerikan meskipun sangat indah. Sebenarnya, penampilan luar saja tidak akan cukup untuk membuat Agalia merinding. Yang membuat Ratu dari negeri terapung itu menahan napas ketakutan adalah tatapan mata Gekko yang baginya seperti benda mati. Benda mati yang dirasuki iblis dari dasar kegelapan. Tenang tapi menghancurkan.
Agalia sampai tak habis pikir, bagaimana kegelapan seperti Gekko bisa berada di tengah-tengah cahaya indah penuh keagungan.
.
.
.
Setelah berkeliling istana dan mendapat jamuan makan, Ratu Agalia mengajak ke suatu tempat yang letaknya sedikit tersembunyi di bawah istana.
“Aku ingin menunjukkan suatu tempat yang pasti akan kalian suka,” ujar Agalia saat memandu tamu-tamunya berjalan melewati lorong panjang dengan dinding putih.
Mereka melewati lorong putih terang yang entah mendapat cahaya dari mana, tak ada lampu satu pun tapi sangat benderang. Alice dan Lizzy berkali-kali berseru kagum melihat bagaimana istana ini dipenuhi hal-hal luar biasa.
Saat kaki mereka sampai di ujung lorong, sebuah pemandangan menakjubkan membuat mereka kembali terpana. Lizzy sampai tak bisa mengatakan apa-apa, matanya melotot dan perasaannya membuncah senang, ia memeluk Gin sambil berjingkrak-jingkrak bahagia.
“Ha ha ha, aku tau kau sedang senang, Lizzy-ku sayang.” Gin mengusap-usap punggung Lizzy sambil cengengesan. Ia sendiri pun merasa terkejut melihat pemandangan di depannya.
Kegembiraan Lizzy dan Gin tentu tidak sebanding dengan yang dirasakan Alice. Gadis penggemar cerita fantasi seperti dirinya tentu yang paling merasa bahagia. Bagi Alice tempat ini adalah surga.
Pohon-pohon berdaun warna-warni, air kolam yang bercahaya biru, bunga-bunga indah berkerlipan seperti kunang-kunang, juga rumput yang berganti-ganti warna ketika ada peri kecil menebar serbuk di atasnya.
Makhluk-makhluk kecil berbentuk seperti boneka kelinci, beterbangan di sekitar ranting pohon-pohon besar. Mereka bermain kejar-kejaran dan menumbuhkan bunga kecil setiap kali kaki mereka menapak dahan pohon.
Bunga terompet bernanyi merdu setiap kali kuncupnya mekar. Saat bocah kecil seukuran ibu jari memberinya bubuk aneh, bunga itu akan menguncup kembali.
Berjalan lebih jauh, ada sebuah air terjun dengan air yang begitu jernih. Air yang mengalir menuju kolam cukup besar dan warna airnya akan berubah menjadi keemasan. Empat gadis kecil berselendang menari-nari indah di atas air. Setiap kali kaki mereka membentur permukaan kolam, ada simbol berbentuk segi enam dengan motif unik yang akan muncul, lalu menghilang dengan cepat.
Langit tampak sangat biru di sini, berbeda dengan langit di luar sana. Angin berdesir pelan, dan samar-samar aroma seperti tanah setelah hujan akan tercium.
Ini adalah surganya cahaya, semua yang hidup di tempat ini bergembira tanpa rasa duka.
“Kalian suka tempat ini?” Agalia bertanya pada keempat tamunya. Ia melihat pancaran senang dari tiga tamunya, sedangkan tamu yang tersisa, sama sekali tidak bereaksi apa-apa. Agalia pikir, mungkin begitulah Gekko Hakai, jadi ia membiarkannya saja.
“Saya sangat suka, sampai tak tahu harus berkata apa,” ujar Alice jujur. Lizzy dan Gin mengangguk, menyetujui ucapan Alice.
Agalia tersenyum. Ia kembali melangkahkan kakinya, menjelajah lebih jauh di tempat nan mengesankan itu. Rozen, Berenice dan empat lainnya mengikutinya.
Setelah berjalan beberapa lama, mereka sampai di depan sebuah istana kristal nan indah. Alice semakin tak bisa menahan rasa kagumnya, begitu pula dengan Lizzy dan Gin.
“Ini adalah tempat di mana bunga yang menopang negeri Agalaia tersimpan. Bunga yang memancarkan cahaya sihir agar negeri buatan ini tetap utuh,” jelas Agalia kalem.
“Negeri buatan?” Gin mengernyit tak mengerti.
Agalia mengangguk sebelum kembali melanjutkan bercerita. “Iya, di Maknaria banyak sekali sub kerajaan yang didirikan menggunakan kekuatan sihir. Agalaia salah satunya. Dan untuk membangun sebuah negeri tentu saja dibutuhkan kekuatan sihir besar. Agalaia menggunakan Bunga Lily dari puncak tertinggi gunung para naga sebagai penopangnya.”
Semuanya mengangguk.
“Tapi ....” Agalia menghela napas murung. Ia diam sejenak sebelum melanjutkan ceritanya. “Bunga yang menopang negeri ini sudah mulai kehilangan kekuatan sihirnya. Kami perlu bunga yang baru agar negeri ini tidak lenyap.”
Alice, Lizzy dan Gin masih mendengarkan dengan hikmat. Sedangkan Gekko sudah curiga ke mana pembicaraan ini akan berlanjut.
“Kami hanya orang asing, Ratu. Kenapa repot-repot menceritakan hal krusial seperti itu pada kami?” Gekko pun bicara. Ini akan gawat jika memang firasatnya tentang tujuan Agalia mengajak mereka ke tempat ini adalah benar. Ia merasa, tidak punya motif apa-apa untuk terlibat. Yang paling penting baginya kini adalah menemukan jalan untuk pulang kembali ke dunianya.
Agalia terdiam. Ia menatap mata Gekko yang juga menatapnya tajam. Menghela napas pelan, akhirnya ia pun bicara. “Aku sudah mengetahui asal usul kalian dari Rozen. Maaf karena aku menyuruh Rozen untuk tidak mengatakan hal ini pada kalian.” Ia kembali menatap satu persatu remaja di depannya. “Sebenarnya untuk mendapatkan Lily Merah yang akan menentukan kelanjutan nasib negeri ini adalah hanya dengan mengutus orang terpilih untuk memetiknya. Bunga itu memilih sendiri Tuannya. Dan menurut ramalan dari orang kepercayaanku, bahwa Sang Terpilih kali ini adalah seseorang yang datang dari tempat lain,”
Mendengar penjelasan Agalia, Gekko malah mendengus sinis. “Konyol sekali. Apa Ratu mengira salah satu dari kami akan menjadi Sang Terpilih hanya gara-gara kami berasal dari tempat lain? Dan jika benar pun, apa Ratu begitu egois menyuruh Sang Terpilih untuk mengambilkan bunga itu demi negeri ini? Mengambil bunga yang berharga seperti itu pasti banyak rintangannya, bahkan bisa mempertaruhkan nyawa. Orang asing seperti kami tidak punya kepentingan untuk itu,”
“Kau!” Rozen ingin memukul Gekko saat itu, tapi Berenice menahannya. Ia melihat wajah ibunya yang shock dan seperti ingin menitikan air mata. Rozen buru-buru merangkul pundak ibunya.
“Sudahlah Gekko, mungkin kita bisa mencobanya. Ini akan cepat berakhir jika memang kita bukanlah Sang Terpilih.” Alice berujar kalem, menggenggam tangan Gekko agar si pucat itu bisa sedikit melunak.
“Ya ya, jangan perdulikan omongan si pendek ini, Ratu. Dia memang seperti ini.” Gin memberi cengiran khasnya, membuat Agalia kembali tersenyum lega. “Lagi pula, Pangeran Rozen sudah membantu kami, jadi anggap saja ini sebagai balas budi untuknya.”
Agalia tersenyum lembut. “Terima kasih,” ujarnya kalem.
.
.
.
Sebuah Lily putih terkurung di dalam kristal segitiga. Kristal itu terletak di puncak sebuah bulatan seperti meja dengan satu kaki di tengah. Di bulatan itu ada dua lingkaran dengan lambang aneh di tengahnya.
“Lily ini sudah mulai kehilangan kekuatan sihir, karena itu, setiap tiga hari sekali aku menyalurkan kekuatanku padanya.” Agalia meletakkan kedua tangannya pada dua lingkaran dengan lambang-lambang berukir rumit, menyalurkan kekuatannya. Lily putih di dalam kristal pun perlahan memiliki garis-garis merah di kelopaknya. “Dulu warna lily ini merah, seiring kekuatannya yang memudar kini ia pun menjadi putih, suci sebelum gugur,” lanjut Agalia.
Semua mengangguk mendengarkan penjelasan Sang Ratu.
“Lalu, apa yang harus kami lakukan untuk mengetahui kami adalah Sang Terpilih atau tidak?” tanya Gin penasaran.
Agalia tersenyum sebelum memberi isyarat pada Berenice agar melakukan apa yang harus ia lakukan.
“Kalian berempat, kemari.” Berenice menyuruh Gekko, Alice, Lizzy dan Gin agar mendekat ke bulatan yang menopang bunga Lily. “Letakkan tangan kalian di lingkaran ini. Jika kalian Sang Terpilih, maka akan ada hal menakjubkan yang terjadi.”
Gin dan Lizzy saling pandang. Alice melihat Gekko seperti ingin minta persetujuan, dan Gekko melirik Alice sekilas. Tanpa meminta penjelasan lebih lanjut, Alice tahu bahwa Gekko mengizinkannya.
“Siapa yang ingin duluan?” tanya Berenice memastikan.
Gin mengangkat tangannya tinggi-tinggi. “Aku, aku ingin mencobanya duluan,” ujarnya bersemangat. Agalia sampai geleng-geleng kepala melihat betapa penuh energi anak muda bernama Gin itu.
“Letakkan tanganmu di sini.” Berenice menunjuk dua lingkaran dengan berbagai ukiran yang tadi digunakan Agalia sebagai perantara untuk menyalurkan sihirnya pada Lily Putih di dalam kristal segitiga.
Gin mengikuti intruksi Berenice, ia meletakkan kedua telapak tangannya pada lingkaran dengan lambang aneh tersebut. Setelah itu dengan cepat, Berenice menusuk kedua tangan Gin menggunakan kristal pipih sampai membuat Gin menjerit kesakitan. Tangan pemuda itu pun mulai mengeluarkan darah.
“Apa yang kau lakukan?!” Lizzy berteriak terkejut, ia ingin menghampiri Gin tapi ditahan oleh Rozen.
“Tenanglah, Lizzy. Ini memang ritualnya, dia akan sembuh sendiri setelah ini,” ujar Rozen memberi penjelasan.
Lizzy masih ragu-ragu, tapi ia akhirnya diam menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.
Setelah Berenice merapal beberapa mantra, Lily putih di dalam kristal pun menguncup. Kejadian itu membuat wajah Agalia berseri bahagia. Lily putih yang sudah menguncup mengeluarkan cahaya berwarna hijau kekuningan dan peri kecil pun muncul dari dalam bunga. Peri kecil dengan sayap kupu-kupu. Di atas kepalanya ada sebuah antena seperti kupu-kupu pula. Tubuhnya ditutupi oleh cahaya hijau yang berotasi mengelilinginya. Ia terbang menembus kristal dan menebarkan bubuk cahaya di tubuh Gin.
“Indahnya ....” Tanpa sadar, Alice dan Lizzy bergumam penuh kagum.
Agalia pun meneteskan air matanya senang
“Apa yang terjadi?” tanya Gin berbisik. Tubuhnya kaku karena takut bergerak.
Setelah menyeka air matanya, Agalia pun berujar, “Bunga itu memilihmu, Gin Geralz.”
“Hee?” Gin masih tak percaya. Peri kecil perlambangan dirinya itu pun membuat sebuah kristal berwarna hijau gelap dari cahaya yang ia taburkan di tubuh Gin. Kristal itu ia tiup dan melayang menembus d**a Gin. setelah itu, ia pun menghilang menjadi serpihan cahaya.
Berenice mencabut kristal di kedua tangan Gin, dan luka di tangan Gin pun menutup sendiri.
“Kalian lihat itu? aku baru saja mengalami hal aneh dan luar biasa,” ucap Gin setengah percaya.
“Itu tadi adalah Dewi Tumbuhan. Yang artinya kekuatan yang dia berikan padamu adalah kekuatan dengan elemen tumbuh-tumbuhan.” Berenice menjelaskan pada Gin. “Siapa berikutnya?” tanyanya kemudian.
“Akuuuu!” Kali ini Lizzy yang bersemangat mengangkat tangannya.
“Eh? Memangnya sang terpilih ada berapa? Kukira hanya satu orang.” Tiba-tiba Alice nyeletuk.
Agalia tersenyum menanggapi pertanyaan Alice. “Semua itu tergantung bagaimana bunga itu bereaksi. Lily itu terdiri dari beberapa elemen, yaitu air dan tumbuhan yang saling melengkapi, mereka melambangkan kehidupan, kemudian elemen cahaya yang akan menyempurnakan kedua elemen itu.”
“Tumbuhan, air dan cahaya. Aku merasa sebentar lagi akan ada proses fotosintesis.” Gin berkelakar, Lizzy dan Alice terkekeh kecil mendengar celetukan itu.
“Karena memang seperti itulah tumbuhan bisa tumbuh,” sahut Agalia. “Dan karena peri yang tadi muncul adalah peri tumbuhan, otomatis pemilik elemen air dan cahaya masih harus ditentukan. Sangat berbeda jika yang tadi muncul adalah peri putih. Peri putih melambangkan kesucian, dia pemilik semua cahaya. Seseorang yang mendapatkan peri putih adalah Sang Terpilih tunggal.”
Semua yang ada di sana mengangguk. Kini mereka paham bagaimana sistem Sang Terpilih ini bekerja.
“Oke oke! Ayo kita lanjutkan apakah aku termasuk salah satu dari Sang Terpilih atau tidak!” sela Lizzy bersemangat.
Proses penentuan pun dimulai lagi.
Kini hanya tinggal menunggu, apakah keempat anak dari tempat lain itu, semuanya merupakan Sang Terpilih atau tidak.
.
.
.
TBC
28 Januari 2015(w*****d)
30 Mei 2020(Dreame)