“Turun!” titah Julius dengan emosi yang meluap-luap. Erika mantap Julius dengan tatapan tak percaya, emosinya benar-benar terpancing ketika Erika berteriak padanya, untuk pertama kalinya, Erika berteriak di hadapannya begitupun ini juga untuk pertama kalinya Julius membentak Erika. Walaupun sempat terpancing emosi, seper sekian detik, Erika sadar, ia tidak boleh seperti ini. “Maafkan aku, Julius,” ucap Erika, ia langsung menunduk dan berpura-pura takut pada Julius. Padahal sebenarnya tidak. Julius menghela nafas, kemudian menghembuskannya, ia pun kembali menyalakan mobilnya. Saat menjalankan mobilnya kembali, rahang Julius masih mengeras. Emosi masih berkobar hebat di dadanya. Bagaimana tidak, lelaki itu benar-benar emosi ketika wanita yang dianggap remeh, wanita yang telah Ia usir, d

