Malam Pengantin

1286 Kata
Beberapa hari kemudian, aku melihat sembilan roh itu kembali berdiri di depan rumah dengan wajah yang mengerikan dengan seringai menatapku tajam. Selain itu, saat aku tertidur sesosok hantu wanita datang dan hampir mengambil alih tubuhku. Aku sendiri bingung, padahal sudah ada penangkal yang ditanam, namun masih saja mereka bisa menerobosnya. Sontak saja aku ketakutan dan berlari mencari Bulik untuk meminta kakak laki-laki yang beliau janjikan untuk melindungiku. Hingga menunggu fajar tiba, sedikit pun aku tidak berani menjauh dari Bulik karena teringat dengan wajah mereka yang membuat bulu kudukku bergidik. Keesokan harinya, Bulik mengajakku ke pasar dan membelikan aku pakaian pengantin dan beberapa perlengkapan lainnya. Baju pengantin adat jawa berwarna hitam begitu pas di tubuhku, hingga membuatku sering bertanya-tanya siapakah Kakak Laki-laki yang akan menjadi pengantinku, yang aku ingat nama pria itu adalah ‘Soca Ludira.’ Segala persyaratan yang diminta oleh Wentira telah disiapkan oleh Bulik. Rumah kecil yang berada di seberang rumah yang kami tempati pun telah dihias dan ditata begitu rapinya oleh Bulik untuk melangsungkan perjamuan pernikahan. Semua dekorasi berwarna putih, baik kursi dan meja tertata rapi dengan balutan kain yang sama berwarna putih dan masih baru. Siang harinya, aku hanya berdiri menggunakan jarik dengan roncean bunga melati yang masih kuncup sebagai penutup d**a yang aku kenakan di tubuhku. Bulik tak banyak bicara beliau masih sibuk menyajikan makanan yang tadi pagi kita beli beli di pasar. Sembari melihat Bulik yang sedang menata makanan di meja, aku mendekati ubo rampe yang telah disiapkan di panggung kecil, tempat yang akan aku gunakan sebagai ritual pernikahan nantinya. Kopi hitam, bunga setaman, bunga telon, telur ayam kampung, dupa, dan aneka sajian yang tak seperti pernikahan pada umumnya tersaji begitu lengkap di hadapanku. Sementara di meja besar tersaji berbagai makanan seperti kupat opor, sambel goreng, ingkung ayam dan makanan lain. Sejak pagi Bulik menyiapkan acara pernikahanku ini sendirian, karena beliau tidak memiliki saudara yang lain kecuali ayahku yang telah lama pergi merantau. Piring yang terbuat dari daun pisang tertata di meja. Serta kursi yang ditutupi kain putih pun, Bulik taburkan bunga mawar merah di atasnya, semua itu disiapkan di halaman rumah. Selain itu panggung kecil yang dihias dengan kain putih hanya berhiaskan taburan bunga mawar merah dan putih yang begitu banyak. Entah apa maksud dan maknanya, aku hanya bisa terdiam melihat Bulik yang sedang sibuk, mungkin saja karena memang di belakang rumahku adalah perkebunan bunga mawar yang begitu luas, pikirku. Makanan itu disajikan untuk para tamu undangan. Kata Bulik, tamu yang diundang bukanlah manusia, melainkan para hantu yang berkeliaran di desa dan sesosok Danyang yang selama ini menjaga Desa Cangkiran. Dengan harapan agar mereka tidak lagi mengganggu para warga dan para tamu yang berkunjung ke desa. Sementara di dekat pintu gerbang, Wentira yang datang tiba-tiba, menyalakan beberapa dupa yang dia tancapkkan di sisi kanan dan kiri pintu gerbang. Lalu, ia masuk dan mendekati pohon ringin yang berada di dekat pintu. Dia menutup pohon ringin kecil itu dengan kain putih yang mungkin dia bawa sendiri dari rumahnya, kemudian keliling dengan menyebar garam kasar ke segala penjuru. Setelah persiapan selesai, tiba-tiba saja awan hitam berarak membuat langit yang tadinya terang menjadi mendung. Hanya angin yang bertiup terdengar jelas di indera pendengaran hingga Wentira dan Bulik memanggil dan memintaku untuk duduk di kursi kecil dengan rambut yang tergerai. Sebuah kwali yang terbuat dari tembaga emas terdapat air di dalamnya yang penuh dengan bunga mawar berada di samping kursi. Bulik memegang kepalaku sembari membaca sebuah mantra, ibu jari tangan kanannya pun menekan kuat di antara kedua alis. Sakit! Hanya itu yang aku rasakan, hingga akhirnya beliau membasuh mukaku dan menyiramkan air dari ujung rambut secara perlahan beberapa kali. Dingin dan menggigil hanya itu yang aku rasakan. Bulik mengajakku masuk ke dalam rumah dan mengenakan aku pakaian pengantin Jawa lengkap dengan sanggul dan pentul tujuh di rambutku. “Apa pun yang terjadi kamu tidak boleh lari dari tempat ini. Kamu harus siap untuk melihat semua tamu yang datang, hingga upacara selesai,” ucap Bulik yang terlihat beberapa kali menyeka wajahnya yang menangis. Aku kembali berdiri di panggung kecil yang telah disiapkan berbagai macam ubo rampe di lantai panggung. Ritual pernikahan akan dimulai, Wentira duduk bersila sembari melakukan ritual hingga beberapa menit kemudian dia beringsut mundur secara perlahan dan diikuti oleh Bulik untuk masuk ke dalam rumah. Tak ada suara apa pun, hanya suara angin bertiup membuat pepohonan bergerak karena terpaan. Kain-kain putih yang Bulik pasang di gerbang pun ikut beterbangan, berserakan di tanah dan langit pun semakin gelap seperti menjelang malam. Aku terdiam terpaku menyaksikan segala macam yang dipertontonkan hari ini, banyak hantu yang datang berkeliaran di halaman rumah dan mereka seakan menikmati perjamuan yang telah disiapkan. Aku bergeming dan hanya bisa menelan ludah beberapa kali sembari melihat Matahari yang tepat berada di atas kepala membuat cincin berwarna merah. Aku hanya terpaku sambil menahan tangis teringat sebuah cerita yang aku baca di buku, bahwa matahari ditelan oleh Betara Kala. Tubuhku menggigil kedinginan ketika mereka mulai mengitari panggung yang dibuat Bulik untuk tempat pertemuan antara aku dengan suamiku. Upacara selesai, aku tidak pernah melihat sama sekali wujud seorang manusia dan yang aku lihat semuanya adalah hantu dan makhluk gaib yang lainnya. Waktu pun berjalan begitu cepat. Rajah yang dibuat oleh Wentira tidak boleh aku kenakan malam itu, karena itulah kenapa aku bisa melihat semua hantu yang menghadiri pernikahan. Namun, anehnya aku tidak bertemu dengan suamiku hingga upacara pernikahan pun selesai. Terlihat wajah Wentira yang kecewa mungkin karena hingga pernikahan selesai, beliau tidak melihat kakak penyelamatku datang. “Sepertinya Soca Ludira tidak datang! Padahal aku sudah setuju dan menyiapkan segalanya dengan rapi,” keluh Bulik dengan penuh kekecewaan. “Kenapa kakak penyelamatku tidak datang?” tanyaku pada Wentira dan Bulik. Sejak saat itulah mereka mengatakan bahwa suamiku bukanlah manusia biasa. Namun, sesosok setengah manusia yang telah moksa dan tinggal di alam yang lain. Aku terdiam terpaku, tidak bisa menerima pernyataan mereka semua saat itu. Hingga aku di bawa masuk ke rumah, sedangkan Bulik membersihkan semua kekacauan yang terjadi di halaman. Aku masih mengenakan pakaian pengantinku dan dilarang ke luar rumah hingga fajar tiba, karena hanya malam itulah sebagai pertanda, jika Soca Ludira datang tandanya ini berhasil. Bulik mengganti semua pakaianku dengan menggunakan piyama yang baru dibeli di pasar tadi pagi. Setelah itu mereka semua berpamitan dan menutup pintu rumah, Bulik dan Wentira meninggalkanku sendirian tepat sebelum tengah malam. Sejak kejadian beberapa hari yang lalu aku masih merasa ketakutan jika saja mereka akan menganggu ketika aku tidur. Hanya duduk di tepian ranjang yang bisa aku lakukan sembari menatap sekeliling kamar yang telah dihias layaknya kamar pengantin tanpa tahu harus berbuat apa-apa. Pernikahan yang sejatinya aku tidak tahu apa-apa saat itu, tetap aku jalani karena hanya itu satu-satunya cara agar bisa bertahan hidup. Mendengar perkataan Wentira yang mengatakan umurku tidak panjang, setidaknya aku berusaha bertahan hidup demi Bulikku yang merawat aku selama ini. Perputaran jam tidak seperti tadi, saat melangsungkan pernikahan yang terasa begitu cepat. Namun, untuk malam ini terasa begitu lambat. Rasa lelah dan kantuk aku tepiskan semua sembari menunggu sang fajar tiba. Desiran angin kembali terdengar riuh, suara binatang malam kembali terdengar setelah seharian mereka tak tahu di mana rimbanya. Aku mencoba keluar kamar untuk menutup jendela yang tiba-tiba terbuka, padahal sebelumnya jendela itu sudah Bulik kunci rapat-rapat. Ketakutanku semakin menjadi ketika aku hendak menutup jendela tiba-tiba saja pintu kamar yang baru saja aku tutup terbuka dengan sendirinya. Berbagai macam doa aku ucapkan, sembari cepat-cepat menutup jendela. “Bulik, Lintang takut sendirian, Bulik!” ucapku dengan menangis kala itu. Sebuah kilatan bayangan hitam tiba-tiba saja masuk ke dalam kamar yang terbuka dan membuatku berhenti sejenak. Ingin aku membalikkan badan dan berlari ke rumah Bulik yang berada di depan rumah ini. Namun, lagi-lagi aku teringat dengan pesan Bulik yang telah melarangku meninggalkan rumah walau apa pun yang terjadi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN