PART 6 [HUKUMAN]

1535 Kata
*** PLAK! “Kau menjijikan!” Evelyn menatap Ethan dengan tatapan yang begitu marah dan jijik. Wanita itu membersihkan area bibirnya dengan menggunakan tisu yang ada di sana. Seolah menunjukkan pada semua orang bahwa bosnya adalah orang yang sangat menjijikan yang tak patut untuk menyentuh dirinya. Semua orang tercengang. Semua orang terdiam. “Heh,” Ethan memandang Evelyn dengan sangat tajam. Ia mendekati wanita itu yang terus mengomeli dirinya. “Menjauh b*****h!” teriak Evelyn. Ethan tak menggubris yang Evelyn ucapkan. Ia terus berjalan maju dan terus maju. Hingga Evelyn terpojokkan, dan tanpa sadar ia telah terduduk di atas meja. Deg... Deg... Deg... Bukan hanya Evelyn yang berubah gugup, bahkan semua karyawan yang ada di sana menjadi sangat gugup dan tidak bisa berkata-kata untuk membela Evelyn. Menurut mereka, Evelyn salah karena telah membentak Ethan, dan sebagian berpendapat bahwa Ethan yang salah karena telah mencium Evelyn. Tapi, entahlah semua di takdir Tuhan sekarang. Nasib Evelyn kini tergantung pada Ethan. “Kau nakal,” desis Ethan tepat di samping telinga kanan Evelyn. “Ka-kau! Menjauh dariku!” ucap Evelyn yang kini sadar bahwa bosnya telah mencapai ambang batas kesabaran. “Berbalik dan jangan lihat ke arahku!” ucap Ethan lantang memenuhi kantin yang sunyi. Dengan serempak, semua orang berbalik dan memalingkan wajahnya agar tak melihat Ethan. “Minta maaf sekarang,” ucap Ethan dengan pelan. Ia menatap tajam mata Evelyn yang menatapnya sengit. “Sampai kapan pun, aku tak akan pernah meminta maaf padamu!” bentak Evelyn. “Satu...” Evelyn mengernyit bingung. Wajah Ethan semakin mendekat ke arahnya. “Dua...” Bau mint yang keluar dari sela bibir Ethan memberikan sebuah sensasi berbeda pada tubuh Evelyn. Tubuh Evelyn bergetar. ‘Ada apa dengan tubuhku?’ batin Evelyn tak menyangka. “Eve...” Ethan berujar tepat di depan bibir Evelyn. Akibatnya, bibir tebal Ethan menyentuh bibir tipis Evelyn. Evelyn berusaha memalingkan wajahnya namun Ethan menahan tengkuknya. Kepala Evelyn mendongak mengarah pada Ethan. Posisi mereka sungguh tidak elit untuk dilihat. Evelyn yang terduduk di meja dan Ethan yang menghimpit tubuh Evelyn. “Katakan permintaan maaf mu, atau ku buat kau mendesah untukku.” peringat Ethan. Evelyn beranggapan bahwa Ethan hanya menggertak. Toh, di sini banyak orang dan tidak mungkin Ethan berani melakukan hal itu, kan? “Kau pikir aku takut, tuan Ethan terhormat?!” Evelyn membalas tatapan elang sang bos dengan tatapan sengit miliknya. “Kau meremehkan ku?” Ethan menekan pinggang Evelyn semakin mendekat pada tubuhnya. “Kau sungguh berani,” ucap Ethan dengan seringaian. Dengan serentak, Ethan menarik tengkuk serta pinggang Evelyn menujunya. “Mmfffhhh-” ronta Evelyn dalam tautan bibir mereka. Evelyn berusaha keras mendorong d**a Ethan, namun semua hal percuma ia lakukan. Ethan begitu kuat hingga tak mampu berpindah seinci pun dari posisinya itu. Bibir Ethan yang sedikit tebal membelai lembut bibir Evelyn yang tipis. Evelyn yang kehabisan energi karena terus meronta akhirnya hanya mampu diam saja. Dari ekor matanya, ia sedikit bersyukur saat semua orang tak menatap padanya, ralat- pada Ethan maksudnya. Semakin lama, Evelyn semakin terbuai akan permainan Ethan terhadap bibirnya. Ethan menyeringai saat menyadari Evelyn mulai menikmati ciuman yang ia berikan. ‘Wanita munafik!’ batin Ethan berdecih. Ethan melepaskan tautannya dan terus memandang wajah Evelyn yang memerah. Seringaiannya muncul saat Evelyn menampilkan ekspresi kecewa. “Apa kau masih ingin?” tanya Ethan. Dengan sekejap mata, Evelyn segera tersadar dari apa yang telah ia perbuat. Bisa-bisanya ia menikmati permainan bosnya itu. Sungguh di luar nalar! “MENJAUH!” Evelyn mendorong d**a Ethan hingga jarak mereka terbentang cukup luas. Evelyn segera berdiri dari duduknya dan berjalan pergi tak mempedulikan orang-orang yang membicarakannya. Setelah kepergian Evelyn, Ethan yang menyeringai kembali berubah datar. Wajah datarnya memandang semua orang dengan sangat tajam. “Lupakan apa yang terjadi barusan. Jangan sampai aku mendengar gosip yang tidak-tidak di luar sana. Jika sampai terdengar ke telingaku, siap-siap kalian yang berada di dalam sini untuk segera angkat kaki dari perusahaan ku. Paham?!” “Paham, pak.” sahut semua orang kompak sembari menunduk. Setelah Ethan beranjak pergi, suasana kantin berubah sedikit bising. Bisikan terdengar di mana-mana. Dan tatapan beralih pada Olive yang merupakan orang yang baru saja dekat dengan Evelyn. Mereka menatap Olive sengit dan terselip iri. “Kumohon jangan sangkut-pautkan aku dalam hal ini,” gumam Olive yang hanya mampu di dengar oleh dirinya sendiri. *** Evelyn menggerutu kesal dan tak segan menendang pintu ruangan Ethan saat melewatinya. “Dasar manusia tak beradab! Pria m***m—” “Tapi kau menikmatinya,” suara berat Ethan terdengar memotong u*****n Evelyn. Pandangan mereka bertemu. Yang satu datar dan yang satunya lagi kesal. Ethan segera memasuki ruangannya tanpa bicara lagi. “Huh, setelah melakukan kesalahan malah bertingkah bodoh!” gerutu Evelyn terus menerus hingga ia lupa bahwa bosnya mampu melihat pergerakan serta celotehnya dari seberang sana. Tring... “APA?!” bentak Evelyn spontan. “Masuk ruanganku sekarang,” Evelyn beralih menatap dinding ruang Ethan. Ia yakin saat ini Ethan tengah melihatnya dari dalam sana. ‘Huh! Terkutuk lah mereka yang merancang ruangan itu!’ batin Evelyn tak sudah-sudah mengumpat. “Baik,” sahut Evelyn sedikit ketus. Ia mengatur napasnya agar kembali normal seperti semula. Baru saja Evelyn hendak mengetuk, namun suara dari dalam lebih dulu terdengar. Dengan tak berlama-lama, Evelyn segera membuka pintu itu dengan cepat. “Ada apa?” tanya Evelyn segera setelahnya. “Kemari dan lihat ini,” Evelyn mengernyitkan dahinya. Ia mendekat pada Ethan namun masih memasang posisi waspada. “Cepat kemari!” bentak Ethan. Pria itu menatap Evelyn dengan sangat datar sehingga membuat tubuh Evelyn kaku. “Ya,” Evelyn menepis rasa kesalnya dan segera mendekati Ethan. “Apa ini? Ini juga! Apa yang kau buat, hah?! Ini saja kau tak becus!‘ bentak Ethan sembari melempar kertas dokumen yang Evelyn kerjakan pagi tadi. Kertas-kertas itu berjatuhan ke lantai. Evelyn memandang Ethan dengan pandangan tak percaya. Serendah itukah ia sampai-sampai kertasnya harus dilempar ke mukanya? ‘Apa dia marah karena aku tampar?’ batin Evelyn bertanya-tanya. “Kau serius ingin bergabung di sini, bukan? Tapi kenapa hal sepele seperti ini kau tak mampu mengurusnya?!” tak henti-hentinya Ethan membentak Evelyn. Pria itu bahkan telah berdiri di depan Evelyn yang menunduk. Sepatu mengkilatnya itu sengaja menginjak dokumen-dokumen yang Evelyn kerjakan dari pagi tadi. “Aku tak mau tau, kau ambil kertas tak berguna itu dan buat ulang!” Evelyn terus menunduk tanpa ada niatan untuk membantah atau menyela ucapan Ethan. “Hanya itu?” suara Evelyn yang terkesan tak kalah dingin, membuat Ethan mengernyit. “Hm,” deham Ethan. “Baik,” Evelyn segera memungut kertas-kertas yang baru saja Ethan injak, namun tak mengambil satu kertas yang berada tepat di bawah pijakan Ethan. “Kau ketinggalan satu! Ambil!” seru Ethan. Evelyn berbalik dan membalas dengan dingin, “Aku sekretarismu, bukan budakmu.” Ethan terheran-heran dengan Evelyn yang ikut berubah dingin sepertinya. Apa-apaan itu! Seharusnya Ethan yang marah, lalu kenapa Evelyn juga ikut marah? Ethan terus memperhatikan Evelyn yang menjadi diam dan dengan serius mengamati berkas dokumen yang ia lempar barusan. Apa ia keterlaluan? Tapi menurutnya, itu sudah benar. Jadi tak ada yang salah pada tindakannya. Ethan berusaha mengabaikan Evelyn, namun matanya tak berhenti melirik pada wanita itu. Ethan melenguh jengah. Ia lalu menghentikan kegiatannya dan lebih memilih duduk diam mengamati Evelyn yang serius pada layar laptopnya. “Jika saja kau tidak terlalu bar-bar, mungkin kau akan jadi wanitaku.” ucap Ethan bermonolog. Ethan tak bosan-bosan memperhatikan Evelyn, hingga kernyitan dahinya muncul saat Evelyn mengangkat panggilan dari ponselnya dan tercetak jelas senyuman tulus pada bibirnya itu. ‘Siapa itu?’ batin Ethan geram. Ia menelpon Evelyn namun yang ia lihat Evelyn malah mengabaikan panggilannya. Dan kedua kalinya, Evelyn tetap tak mengangkat. Ethan berdecak kesal. Ia lalu berhenti untuk menelpon Evelyn. Terlihat di seberang sana, Evelyn baru saja menutup panggilan pada ponselnya. Namun, Ethan semakin kesal saat gadis itu tak menelponnya. “Kau ingin dihukum ternyata,” desis Ethan menyeramkan. Tring... Dering telpon khusus CEO berbunyi nyaring merusak konsentrasi Evelyn. Dengan rasa malasnya, Evelyn mengangkat panggilan itu malas. “Ya, pak?” tanya Evelyn. “Kenapa tidak menelpon ku balik?” “Apa sepenting itu hingga aku harus menelponmu?” tanya Evelyn dengan wajah datar namun dengan jari yang sibuk mengetik di layar labtop nya. Tut... Panggilan dari seberang sana diputuskan dengan sepihak. Evelyn tak ambil pusing dan lebih memilih untuk segera merevisi berkas-berkas dokumen yang menurut bosnya itu salah. ‘Aku memang wanita, tapi bukan berarti kau bisa menginjak harga diriku. Harga diri, harga mati!’ batin Evelyn. *** “Hoah! Akhirnya selesai!” Evelyn meregangkan otot-ototnya. Ia melirik jam dan ternyata pukul sembilan malam. Ah, ia malas lembur tapi ia juga malas menunda-nunda pekerjaan. Evelyn segera membereskan barang-barangnya dan segera pergi. Untungnya, perusahaan bosnya itu ditutup pada pukul sebelas malam. Jadi ia tidak perlu takut jika akan terjebak dalam kantor sendirian. Toh, bukan hanya dia yang lembur. Buktinya, sepanjang ia menuju lantai 1, ia berpapasan dengan beberapa karyawan yang juga ikut lembur. Evelyn bersyukur dengan kemampuan otaknya mampu menyelesaikan tugasnya hanya dalam beberapa jam tanpa pusing, hanya sedikit lelah saja. Evelyn berbelok menuju toilet kantor karena ia tak tahan lagi untuk menahan buang air kecilnya. Evelyn memasuki toilet dan segera menyelesaikan tugasnya. Setelah selesai, Evelyn membasuh mukanya lebih dulu agar terlihat segar. Namun, sesuatu terdengar dari toilet ujung. Sebuah isakan yang teramat lirih itu terdengar jelas di telinga Evelyn. Bukannya kabur karena takut, Evelyn malah beranjak mendekati asal suara. Tok... Tok... Ketuk Evelyn pada toilet ujung. Isakan terhenti dan semakin membuat Evelyn penasaran. “Apa ada orang?” tanya Evelyn sekali lagi. Namun tidak juga mendapat jawaban dari dalam sana. Dan akhirnya, Evelyn memberanikan diri untuk membuka pintu toilet itu dan ia sangat terkejut saat melihat seorang wanita yang terduduk tak berdaya dengan rambut serta pakaian yang berantakan. “YA TUHAN, OLIVE?!” ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN