“Hoek, aduh kenapa mual banget dari tadi. Perasaan pendingin ruangan aku matikan semalaman, kenapa sampai pagi masih mual.” Suasana menjadi lebih baik di saat dia sudah memutuskan untuk menjauh dari semua orang yang ada di dekatnya. Meninggalkan kedua orang tua, bahkan seseorang yang dia cintai. Naya hanya ingin semua orang kembali bahagia tanpa kehadirannya, tetapi saat ini tubuhnya semakin melemah, sering merasakan mual dan tetap ingin menyembunyikan diri di tempat yang jauh dari keramaian. Suara pintu diketuk berulang kali, membuatnya terkejut, buru-buru membuka pintu dan melotot lah kedua matanya, tepat di hadapannya, laki-laki yang sudah tega menghancurkan hidupnya datang dan ternyata sudah mengetahui keberadaannya. “Ngapain kamu ke sini hah? Ngapain!” “Nay, Naya ... dengarkan say

