“Merhaba, aku ....” “Masuk.” Semalam mungkin memang benar Humaira lah pemenangnya, pandai dalam membalikkan fakta, lalu meyakinkan dirinya bahwa semuanya akan menjadi miliknya selama dia masih mampu untuk bersaing. “Ada beberapa dokumen yang harus Bapak tanda tangani, silakan.” Zaki hanya melakukan apa yang memang menjadi tugasnya, tanpa ada pembahasan pribadi dalam urusan pekerjaannya pada pagi kali ini. Hanya saja, ada sedikit perbedaan dan jauh berbeda dengan Zaki yang biasanya. Kedua matanya memerah, menatap pun selalu kosong, itu yang Humaira rasakan pada saat ini, setiap pagi hari biasanya laki-laki itu ceria meskipun sedang ada badai petir dalam hidupnya. Mungkinkah memang kali ini, Zaki benar-benar sudah sangat kecewa pada semuanya? Bertanya pun rasanya tak mampu, karena diri

