Cinta adalah bahaya yang lekas jadi pudar (Chairil Anwar) Aku meletakkan sendok dan garpu. Bunyi dentingan kedua benda itu saat beradu dengan pring membuat Mama Fani terkejut dan menatap ke arahku. “Ada apa, Bara?” tanyanya membuat Papa Wildan dan Ranti sontak juga segera menatapku. “Aku akan mengecek Laura.” Demi Tuhan aku tidak lapar dan mana mungkin aku bisa makan jika otakku tidak pernah berhenti memikirkan Renata dan kemungkinan terburuk yang mungkin terjadi padanya jika aku membiarkan dia berlama-lama di dalam kamar bersama Rafli. Maka, aku beranjak dari kursi. “Makanlah dulu. Ada Rafli yang membantu Laura.” Kali ini Papa Wildan yang bersuara. “Aku sudah kenyang,” sahutku singkat sambil berjalan menjauhi meja deng

