LANGKAH ALIKA

1020 Kata
Gelagat aneh yang baru saja diperlihatkan Arjuna membuat Alika merasa curiga, pasalnya Alika tidak pernah melihat Arjuna seperti itu. Alika berniat mengetuk pintu kamar Arjuna namun ia mengurungkanya, ia merasa tindakanya juga tidak tepat jika mengganggu Arjuna yang nantinya akan merusak suasana hatinya dan itu akan berakibat buruk pada hubungan pertemanan mereka. Alika pun pergi meninggalkan kamar Arjuna dan segera menuju kamarnya untuk tidur.        Arjuna membanting baki berisi makanan di meja, mangkuk yang berisi kuah pun tumpah di lantai. Rasa gelisah itu semakin menjadi, inilah masalah Arjuna ia tidak bisa melepaskan barang haram itu. Arjuna menoleh kanan kiri mencari kertas yang berisi serbuk putih kristal yang ia lempar begitu saja ketika mendengar suara Alika. Arjuna membuangi bantal yang tertata di atas tempat tidur tapi tidak juga ia temukan barang yang sedang ia cari.        “Dimana? Dimana?” Arjuna menggeram melemparkan selimut ke lantai.        Barang yang dicari Arjuna jatuh di lantai ternyata terselinap di balik selimut. Buru-buru Arjuna mengambilnya dan memakainya, ketenangan Arjuna ada dalam barang haram itu, ia mulai ketergantungan dan tidak tahu apa ia bisa terlepas dari barang terlaknat itu. Ponsel Arjuna berbunyi namun Arjuna sama sekali tidak menghiraukan, dibiarkan saja ia masih sibuk menghisap obat ketenanganya. Tapi lama-lama suara ponsel itu sangat mengganggu karena tidak berhenti dari tadi, Arjuna yang duduk di lantai bersandar meja meraih ponsel yang ada di atas tempat tidurnya.        “Cari dia dan tangkap jangan sampai lolos!” perintah Arjuna pada anak buahnya.        Arjuna menutup panggilan dan membuang ponsel di atas ranjang.        Alika terus membalikan badanya ke kanan dan ke kiri di atas ranjang. Alika memikirkan sikap Arjuna yang tidak biasa, Arjuna terlihat tegang dan aneh ia tidak bisa menebak apa yang sebenarnya terjadi pada temanya itu, tapi yang pasti ada sesuatu yang sedang Arjuna sembunyikan. Alika bertekad besok pagi akan mencari tahu dan sekarang sebaiknya dia tidur besok adalah hari minggu dan seperti biasa saat pagi Arjuna akan pergi keluar rumah untuk joging dan saat itulah Alika akan masuk ke dalam kamar Arjuna.   ********          “Pak Min, Arjuna kemana kok gak ada di rumah?” Alika pura-pura bertanya pada Pak Min untuk memastikan keberadaan Arjuna.        “Nak Arjuna sedang jogging memutari komplek ini,” jawab Pak Min.        “Ohh...”        “Nak Alika butuh sesuatu?” tanya Pak Min pada Alika.        “Oh tidak Pak, terimakasih!” jawab Alika.        “Baiklah, Pak Min pergi dulu mengantar Bi Yati ke pasar untuk belanja mingguan!” pamit Pak Min pada Alika.        “Iyaa Pak, silakan!” balas Alika ramah.        Bi Yati dan Pak Min masuk ke dalam mobil untuk pergi berbelanja, ini kesempatan bagus untuk Alika mencari tahu tentang Arjuna. Alika pun bergegas masuk ke dalam rumah dan naik ke kamar Arjuna sebelum nanti bosnya itu pulang.        Alika sudah berada di dalam kamar Arjuna matanya terbelalak melihat kamar Arjuna yang berantakan selimut, guling dan kedua bantal ada di lantai berserakan.        “Astaga! Ini kamar tidur atau gudang sih?” Alika yang tampak heran melihat kamar bosnya itu lalu mengambili bantal, guling dan selimut yang ada di lantai lalu merapikanya kembali ke atas ranjang.        Alika lupa seharusnya ia tidak perlu merapikan semua itu, tugasnya adalah mencari tahu tentang Arjuna yang bersikap aneh semalam yang ia sendiri pun yakin kalau bosnya itu menyembunyikan sesuatu. Alika mulai membuka lemari dan mengorek isi lemari. Ia tidak menemukan apapun hanya tumpukan baju, ada laci dalam lemari yang ia tidak bisa membukanya karena kunci laci di simpan oleh Arjuna.        “Duh kok gak nemu apa-apa ya.. Susah banget mau ngorek ni orang!” keluh Alika putus asa. Ceklek!        Pintu terbuka dari luar, Arjuna sudah kembali untung saja Alika dengan cepat masuk di bawah ranjang untuk sembunyi. Arjuna melihat sekitar ruangan saat ia pergi kamar tidurnya berantakan aneh sekali saat ia kembali ranjangnya sudah rapi sedangkan seperti biasa minggu pagi Bi Yati pergi berbelanja, Arjuna berfikir mungkin tadi Bi Yati membereskan kamarnya sebelum pergi ke pasar. Arjuna membuka ponsel mencoba menghubungi seseorang.        “Jaga dia setelah ini aku akan ke sana, dia harus membayar penghianatanya padaku!” seru Arjuna berbicara pada seseorang di telfon.        “Aku tidak perduli, entah dia pakai untuk biaya operasi anaknya atau yang lain dia harus mengembalikan uangku jika tidak, maka aku yang akan menghabisi nyawanya karena sudah berani menghianatiku!” ucap Arjuna penuh amarah lalu menyudahi pembicaraan dan mematikan telfon.        Arjuna jongkok mengambil pistol dalam lemari kecil dekat ranjang tepat dengan posisi persembunyian Alika. Arjuna memasukkan peluru ke dalam pistolnya, Alika melihatnya ia menelan ludah bagaimana mungkin Arjuna setega itu samapai ingin menghabisi nyawa seseorang, Alika bertekad akan menghentikan ini bagaimanapun caranya. Bos sekaligus temanya itu tidak boleh menjadi seorang pembunuh.        Arjuna masuk ke dalam kamar mandi, Alika pun keluar dari persembunyianya gerak cepat ia mengambil ponsel Arjuna yang tergeletak di atas ranjang ia membuka daftar panggilan yang baru saja Arjuna hubungi.  ‘Lepaskan saja dia!’        Alika menulis pesan kepada anak buah Arjuna. ‘Tapi Bos, kenapa Bos menyuruh melepaskanya? Bukanya Bos sendiri yamg menyuruh kami menangkapnya sampai dapat’        Balasan dari anak buah Arjuna. ‘Tidak usah banyak bicara, lepaskan saja aku sudah mengampuninya.’        Alika membalas lagi seolah-olah ia adalah Arjuna. ‘Baik Bos!’        Alika pun langsung menghapus semua pesan yang baru saja ia ketik dan pesan dari anak buah Arjuna untuk menghilangkan jejak. Alika menaruh ponsel seperti tadi kemudian pergi meninggalkan kamar Arjuna dan pergi ke kamarnya.        Tidak lama kemudian Arjuna mendatangi kamar Alika. Tok! Tok!        Alika langsung membuka pintu kamar ia tahu pasti Arjuna datang ingin mengajaknya atau paling tidak berpamitan padanya.        “Bi Yati dan Pak Min pergi ke pasar, aku keluar dulu karena ada urusan, kamu di rumah saja!” perintah Arjuna sekaligus berpamitan pada Alika.        “Hati-hati sayang!” goda Alika.        Arjuna yang baru akan melangkah pergi menoleh ke arah Alika dan tersenyum lalu pergi meninggalkan Alika yang masih berdiri di pintu, memang terasa berbeda saat Alika dan Reina mengatakan kata sayang. Alika tidak menyangka kalau reaksi Arjuna akan seperti itu yang biasanya suka marah dan bersikap dingin ternyata sekarang bisa tersenyum saat digoda. Tapi itu sekarang entah apa yang terjadi nanti saat Arjuna tahu kalau tahananya dilepaskan atas perintah Alika bukan perintahnya.         Alika harus bersiap-siap setelah ini, sudah pasti Arjuna kembali dengan penuh amarah. Alika sudah mengambil langkah yang terlalu jauh tapi apa yang dilakukan Alika kebenaranya adalah ia melakukan semua ini untuk kebaikan Arjuna walau mungkin nanti sulit diterima atau mungkin Arjuna tidak mau menerima alasan Alika melakukan semua ini.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN