“Papa mau ke mana?”
Kudengar tangis Rara memanggil Mas Sigit. Nada yang masih sibuk merapikan baju-baju kami yang tadi sempat berhamburan menatapku penuh tanya.
“Papa! Papa jangan tinggalin kita! Kata Mama, kita mau pergi! Kak Nada, dan Dek Bima juga ikut. Papa jangan tinggalin kita, Pa!!” Panggilan Rara makin kencang.
“Nada liat dek Rara dulu, ya, Ma!” kata Nada segera bangkit lalu berjalan keluar kamar. Namu, belum juga tubuhnya hilang di balik pintu, Mbak Ambar sudah muncul di hadapan kami. Rara terseret di tangannya.
“Nih anakmu! Kamu ya, yang ngajari dia berbuat lancang?” ketusnya menatapku dengan tatapan nyalang. “Dia pikir mobil bagus si Yosa itu adalah mobil yang akan kau gunakan untuk minggat! Dasar, ibu sama anak sama to lolnya!” cacinya seraya mencampakkan tubuh mungil Rara ke arahku.
“Ma, papa pergi naik mobil bagus. Kita ditinggal! Tadi Mama bilang kita semua mau pergi, kenapa Papa malah ninggalin kita?” tanya Rara mulai sesegukan di dadaku. Kupeluk dengan tangan kiri, karena tangan kanan masih kugunakan untuk menyangga tubuh Bima di pangkuanku.
“Papamu enggak pergi! Dia hanya mengantar Tante Yosa pulang. Udah malam, jadi Tante Yosa enggak berani nyetir sendiri! Nanti juga Papamu balik lagi. Pulangnya bawa motor! Tante Yosa menghadiahi dia motor baru! Udah …! Jangan nangis! Berisik aja!” bentak Mbak Ambar lalu pergi.
Aku tercekat. Jadi Mas Sigit mengantar Yosa pulang? Di mana rumahnya? Kenapa Mas Sigit tidak bilang padaku dulu? Astaga! Kenapa aku masih berharap dia pamit padaku?
Tidak, aku tak perlu berharap seperti itu lagi mulai sekarang. Tapi, kenapa hatiku sangat sakit? Apa yang akan mereka lakukan di sepanjang perjalanan di dalam mobil itu kalau hanya berduaan?
Apakah Mas Sigit langsung pulang begitu sampai di tujuan, atau masuk dulu, ngopi-ngopi dulu, ngobrol dulu. Lalu setelah itu mereka …. Tadi saja di depan mataku perempuan itu sudah berani bergelayut di bahu suamiku. Bagaimana pula bila mereka hanya berduaan.
Parahnya lagi, sepertinya Mas Sigit tidak keberatan saat Yosa menempel di bahunya. Dia bahkan seperti sangat menikmati momen itu
Aaah, aku tidak boleh cemburu! Tidak! Mas Sigit menyukaii Yosa! Dia tidak menolak Yosa! Artinya dia juga suka! Wajar … sangat wajar. Tubuh seksi, harum, cantik, begitu menggoda, tiba-tiba menempel di badannya. Wajar kalau dia tak menolak. Laki-laki manapun tidak akan menolak kalau dia itu memang laki-laki bina tang!
Apalah artinya aku yang hanya berdaster lusuh, penuh tambalan di sana sini, bau asap dapur, kadang bau pesing bekas pipis bayiku. Rambut pun jarang kena sisir karena mengejar cucian menumpuk, setrikaan banyak, masak, ngepel lantai.
Pantas Mas Sigit tak menolak Yosa.
Tapi, kenapa dia mau dilendoti di depan mataku? Kenapa harus di depanku?
Tidak! Aku tidak sanggup kalau seperti ini. Belum menikah saja mereka sudah begitu menyakiti hatiku! Apalagi setelah menikah nanti! Bisa saja di depan mataku mereka bergumul. Oh, Tuhan, aku tidak bisa! Aku enggak bisa! Aku harus pergi! Aku enggak mau melihat itu! Aku harus pergi!!
“Ra, udah, Dek! Jangan nangis, kasihan Mama jadi sedih, kan?”
Nada menghentak lamunanku. Dia menggamit tangan Rara dan membawanya bangkit dari pangkuanku.
“Ma, Tante Yosa itu siapa?” Rara menghentikan tangisnya, kedua bola mata jernih dan masih basah itu menantapku penuh tanya.
“Ssst, jangan banyak tanya dulu. Sini bantuin kakak, lipat baju yang kecil-kecil, ayo!” Nada seperti berusaha mengalihkan perhatian adiknya.
“Tapi, kata Tante Ambar, Papa nanti pulang bawa motor baru. Besok Papa kerja enggak nebeng lagi, sama Wak Tono, iyakan, Ma?” celoteh Rara lagi.
“Sssst!”
Rara akhirnya diam, Nada menempelkan telunjuk di bibinya. Keduanya kemudian mulai serius merapikan pakaian ke rak sederhana yang dibuatkan oleh Mas Sigit di dinding kamar. Tak ada lemari sama sekali. Sedangkan pembantu saja tetap disediakan oleh si empu rumah tempat dan fasilitas yang layak. Sedang aku?
Lalu, buat apa aku masih bertahan? Baik. Tekatku sudah bulat. Aku akan pergi dari rumah ini malam ini juga. Tapi, aku tak sanggup meninggalkan anak-anak. Aku enggak bisa hidup tanpa mereka. Aku enggak akan bisa bernapas bila tidak di dekat mereka. Aku tidak bisa.
Bagaimana ini? Kalau aku membawa kabur anak-anak, aku akan dikejar Pak Polisi. Aku akan di penjara. Ya, Tuhan, aku takut …. Tapi aku juga tidak akan sanggup bila bertahan. Tolong beri aku petunjuk! Tidak, aku akan tetap membawa anak-anak kabur. Aku akan sembunyi di kos-an Kak Runi. Semoga Kak Runi bisa memberiku petunjuk.
Kuhentikan perseteruan di dalam otakku. Aku sudah sampai pada satu tekat. Tak perlu banyak pertimbangan lagi.
“Nad, jangan taruh di rak itu, Nak! Masukkan kembali ke dalam koper!” titahku menghentikan Nada.
“Ke dalam koper?” tanyanya menatapku dengan kedua mata membola.
“Hem.”
“Kita … jadi pergi?”
“Sssst!” Kutempelkan telunjuk di bibir sebagai kode agar diam-diam saja dulu.
“Baik, Ma!” ucapnya paham.
“Kita jadi pergi, ya, Ma? Kita nyusul Papa? Tapi, naik apa? Papa udah pergi bawa mobil bagusnya? Kita terlambat, Ma!” sergah Rara seolah ingin mengingatkanku.
“Sssst!” Nada menarik bahu Rara, lalu berbisik di telinganya. Entah apa yang dia bisikkan. Kulihat Rara manggut-manggut setelahnya. Keduanya kini memasukkan semua pakaian kami ke dalam koper kembali dengan penuh semangat. Tanpa berkata sepatah katapun lagi.
Nada sangat bisa kuandalkan. Pakaian kami berempat memang tak banyak. Masing-masing hanya beberapa potong saja. Nada bisa menyusunnya dengan baik, sehingga koper bisa tertutup rapat dengan sempurna.
“Bawa adek, makan, Nad! Kalian belum makan malam, kan?” titahku setelah tugasnya selesai. Perut mereka harus dalam keadaan terisi saat aku membawanya kabur tengah malam nanti.
“Belum, Ma. Tadi, kami mau ikutan makan, tapi dilarang oleh Tante Sekar. Katanya kami belakangan aja, bareng sama Mama.”
“Ya, sudah! Kalian duluan, sana. Dek Bima belum kelar nyusunya.”
“Iya, Ma. Ayo Ra!”
Kedua putriku berjalan keluar kamar. Beberapa menit kemudian kuletakkan Bima yang sudah kenyang menghisap ASI-ku di dalam ayunan. Lalu aku melangkah ke dapur. Kudapati Nada dan Rara makan sepiring berdua. Hanya nasi putih dan taburan gama di atasnya. Kenapa? Bukankah tadi sore aku sudah masak banyak. Sayur lodeh dan ikan peda sambal ijo juga sudah kelar aku siapkan. Tapi, kenapa anak-anakku makan hanya dengan taburan garam?
Kubuka tudung saji.
Nyes … perih yang tak terperi menyerang ulu hati. Sepiring tulang ayam penyet tersisa di sana. Hanya tulang. Aku tahu Yosa tadi membawa oleh-oleh ayam penyet. Bukan maksudku agar mereka menyisakan sedikit untuk anakku, tidak sama sekali. Aku juga tak mau memberi anak-anakku makanan pemberian perempuan itu.
Tetapi, apa maksud mereka menyisihkan tulang-tulang ini? Agar anak-anakku ngences melihatnya? Atau agar anakku menjilati sisa-sisa makanan mereka?
****