"Nadia! Nadia! Bangun, Nad!" seru seseorang membuatku terpaksa membuka mataku. Dan saat aku sadari, semalaman aku tidur di sofa ruang TV ini karena habis bertengkar dengan Delima semalam. Konyol memang ini bukan pertama kalinya aku tidur di ruang TV karena aku bertengkar dengan Delima.
Semalaman kami bertengkar hebat. Alasan kami bertengkar sebenarnya sangat sepele. Delima memaksaku menemaninya pergi ke hotel yang di sewa temanya semalam karena temannya ada pesta ulang tahun. Dan aku menolaknya mentah-mentah karena sejak hari Jumat kemarin Papa sakit. Sebagai anak tertua dari keluarga ini, tentu aku lebih mementingkan kondis Papa daripada aku harus
"Mama?" tanyaku heran, "Kenapa, Ma?"
"Papa, Nad. Papa...." ujar Mama parau. Aku mencoba mengumpulkan nyawaku pagi ini dengan susah payah karena kedua mataku terasa sangat kantuk.
“Papa kenapa?"
"Papa bilang... Papa... Papa sesak napas, Nad." Air mata Mama mulai mengalir dari sudut kedua matanya. "Nadia! Kita harus gimana Nad? Mama bingung, Mama—”
"Bawa kerumah sakit sekarang juga!" kataku spontan, "Papa benar-benar butuh pertolongan, Ma! Papa butuh oksingen dan kita nggak punya itu! Mama ayolah, Ma!"
Aku langsung berlari kedalam kamar Papa, terihat Papa sudah terbaring lemah. Delima yang duduk di samping tempat tidur Papa sembari membawakan bubur berusah untuk menahan air matanya dan terus membujuk Papa untuk makan.
"Papa," panggilku.
"Nadia," sahut papa lemah, "Kesini sayang. Ayo, kesini di samping Papa."
Aku langsung berlari dan naik ke atas tempat tidur Papa. Kedua mataku terasa perih karena aku menahan air mataku yang berada disudut-sudut kedua mataku. Rasanya hatiku tersayat perih melihat keadaan papa saat ini. Ya Tuhan, kenapa tiba-tiba Papa seperti ini?
"Apa yang sakit, Pa?" tanyaku parau.
"Pijit Papa, Nad." pinta Papa, "Pijit punggung papa coba. Mungkin kalau kamu pijit Papa akan lebih enakan"
Sembari menahan tangisanku aku mencoba menurutin permintaan Papa. Dadaku terasa sangat sesak melihat pria yang sangat amat berharga di hidupku harus terbaring lemah dan tar berdaya. Ya Tuhan, tolong bantu papa sembuhkan lah papa, ya Tuhan. Aku rela melakukan apa pun asalkan papa sembuh dan bisa sehat seperti dulu.
"Udah enakan, Pa?" tanyaku.
"Makasih ya, Sayang," ujar Papa lemah, “Coba tolong kamu panggilin Mama."
Aku langsung berlari keluar kamar. Terlihat Mama sedang memengang ponselnya dan berbicara seseorang. Kedua mata Mama terlihat merah dan nampak sekali seperti orang yang menangis. Aku bergegas menghampiri Mama dan Mama menutup telfonya. Ternyata Mama berusaha menghubungi Tante Evelyne dan Tante Evelyne menolak untuk datang ke rumah kami karena alasan sibuk.
Dengan insiatifku aku mencoba kembali menelfon Tante Evelyne sembari menangis dan memohon kepadanya untuk datang karena keadaan Papa benar-benar sangat buruk Papa mengeluh sesak napas dan dadanya sakit. Pikiranku mulai kacau aku tak bisa berbuat banyak. Aku juga tidak bisa memberi pertolongan yang berati karena di rumah ini tidak ada oksingen dan peralatan penunjang lainnya seperti di rumah sakit. Dan akhirnya Tante Evelyne luluh dan mau datang ke rumah untuk melihat kondisi Papa.
Tante Evelyne datang ke rumah bersama Om Martin suaminya juga Narisa anak bungsunnya, Papa sempat marah dan tidak mau pergi ke rumah sakit. akhirnya aku berusaha keras untuk membujuk Papa pergi ke rumah sakit untungnya, Papa mau. Saat Papa ingin dibawa ke rumah sakit, Delima tiba-tiba pingsan karena ia benar-benar shock melihat keadaan Papa dan akhirnya aku terpaksa tidak ikut mengatarkan Papa pergi ke rumah sakit dan mengurus Delima bersama Nenek di rumah.
#####
Sekitar jam tiga sore, aku mendapat sebuah pesan singkat dari Tante Evelyne. Isi pesan itu, adalah papa menyuruhku dan Delima sekarang pergi ke rumah sakit. Perasaanku mulai tak karuan. Lalu, aku pergi bersama Delima yang sedikit masih lemas setelah siuman karena Nenek tidak bisa ikut akhirnya aku terpaksa meminta bantuan tetangga di sekitar rumah kami untuk menemani nenek selama kami berdua pergi. Selama di dalam taksi Delima masih saja menangis aku benar-benar tak kuasa melihat adikku satu-satunya ini menangis aku berusah keras untuk tidak menangis dan hasilnya pun nihil aku juga ikut menangis bersama adikku.
Saat aku dan Delima sampai di rumah sakit, kami langsung berlari dan menuju ruang kamar inap Papa. Tante Evelyne kembali mengirimkan pesan singkat denganku ia memberi tahukan dimana tempat Papa di rawat dan saat aku membacanya, seketika lututku lunglang saat membaca pesan singkat dari Tante Evelyne yang mengatakan Papa di rawat di ruang HCU. Saat kami sampai di depan ruang rawat inap Papa, terlihat Mama terduduk lemas di depan ruang tunggu. Aku langsung berlari dan meluk Mama sembari menangis tersedu-sedu. Delima juga memeluk Mama dan ia menangis bersama. Kami berdua tak kuasa menahan tangisan kami karna melihat keadaan Papa.
Akhirnya tante Evelyne keluar dari ruang HCU. ia menyuruku masuk kedalam, aku berusaha untuk menahan tangisanku agar tidak pecah di depan Papa. Karena, aku tahu Papa tidak pernah bisa melihat aku menangis. Bahkan saat usiaku sepuluh tahun, aku pernah sakit dan di rawat di rumah sakit dan keadaanku sangat lemah tak berdaya dan pertama kalinya di dalam hidupku aku melihat Papa menangis. Ia rela ingin memberikan darahnya untukku namun golongan darah kami berbeda aku memiliki golongan darah B sedangkan Papa AB. Tapi, syukurlah saat itu ada seseorang yang baik hati mau mendororkan darahnya untukku yang sekarat waktu itu.
Aku masuk kedalam ruangan HCU, terlihat Papa terbaring tak berdaya. Hatiku menjerit saat aku melihat papa menggunakan oksingen sebagai alat bantu napasnya, selang infus yang ada di kedua pergelangan tanganya, dan patient monitor.
"Papa," panggilku.
Papa tersenyum seperti biasa denganku, terlihat ia berusaha menyembunyikan rasa sakitnya dariku. Tapi sayang, usahanya itu gagal karena aku bisa melihat sorot kedua mata cokelatnya yang lemah dan sendu. "Kesini, Sayang!"
Aku menghampiri papa dan memeluk papa. "Papa... Papa cepet sembuh ya!"
"Iya. Pasti Papa cepet sembuh kok, Bu Dokter," sahut papa sembari membelai rambutku yang benatakan dan tak berupa lagi, "Kamu udah makan belum? Mana Delima? Papa mau ketemu sama Delima."
"PAPA!" teriak Delima saat ia memasuki ruangan ini. Delima berlari kearahku dan papa. Aku melepaskan pelukanku dengan papa untuk memberi ruang antara Delima dan papa.
"Delima," ujar Papa.
Delima memeluk Papa dengan erat sembari terisak. "Papa jahat! Papa kenapa bandel si, Pa? Coba Papa kemarin nurutin kataku sama kakak Papa kan nggak sakit kaya begini!"
"Papa udah sehat kok, Sayang," ujar Papa, "Kan ada Dokter yang menangani Papa di sini."
"Papa!" erang Delima, "Papa kenapa nggak pernah mau nurut sama aku si? Kenapa papa nggak pernah mau nurut sama Mama sama Nenek? Kenapa juga papa nggak pernah mau nurutin kata Kak Nadia? Kak Nadia kan udah sering ngomong sama Papa papa harus berhenti merokok! Papa, pokoknya kalo sembuh harus berhenti merokok!"
Papa tertawa lemah. "Iya. Iya anak cerewetnya Papa, kalo Papa sembuh Papa bakalan berhenti merokok. Suwer deh!"
"Janji?" tanyaku, "Awas bohong!"
"Iya, Bu Dokter... Panu," ujar Papa sembari meledek.
"PAPA!" erangku, "Kenapa papa masih meledeku dengan sebutan Dokter Panu? Aku ini bakal jadi Dokter beneran bukan Dokter Panu atau Dokter Abal-abal yang sering Papa katakan!"
"Papa cuman bercanda, Sayang," elak Papa, "Jangan ngambek dong, Nadia."
"Ya ya ya," jawabku acuh.
"Besok kalian kuliah?" tanya papa.
"Aku besok nggak ada UAS, Pa." sahut Delima, "Jadi besok aku bakalan nungguin Papa seharian!"
"Besok aku kuliah," sambungku, "UAS pula. Ah, tapi UAS-nya gak penting juga si."
"Nadia, Delima," panggil Papa.
"Ya, Pa?" sahut kami berbarengan, "Kenapa?"
"Boleh Papa minta satu hal sama kalian?" tanya Papa dengan pandangan sayu. Aku saling melemparkan pandangan kebingungan dengan Delima.
"Apa, Pa?" tanyaku.
"Nadia gadis manja Papa, kamu harus terus kuliah ya! Jangan sampai kamu berhenti kuliah biar bagaimana pun caranya kamu harus jadi seorang Dokter yang baik! Buktikan dengan Papa kamu bisa." Papa melemparkan senyuman kepadaku lalu mengalihkan pandangnya kini kearah Delima, "Delima gadis cerewet Papa, kamu pun juga begitu. Kamu harus tetap kuliah. Kamu harus lulus lalu kamu jadi seorang pengacara yang baik untuk menegakan keadilan, mengerti?"
"Papa..." ujarku parau. Ya Tuhan kenapa hal-hal yang di bicarakan papa semakin lama papa semakin aneh?
"Udah, kalian pulanglah!" perintah Papa, "Papa baik-baik saja, jangan khawatir sama papa ya! Udah ada Dokter yang merawat Papa kok."
Delima memeluk papa erat. "Papa harus cepat sembuh ya! Pokoknya besok pagi Delima datang Papa harus udah sehat!"
"Iya, Sayang," ujar Papa lemah.
Delima melepaskan pelukanya dan ia tersenyum sekilas dengan papa. lalu ia berlari keluar dari ruangan ini. Tinggalah aku dan papa di dalam ruangan ini.
"Kamu nggak pulang, Sayang?" tanya Papa sembari menatap wajahku, aku berusah menahan tangisanku. Semoga papa tidak mengatahuinya kalau aku...
"Iya. aku mau pulang kok Pa," ujarku "Di luar sepertinya hujan."
"Kamu pulang gih!" perintah papa.,"Besok kamu ujian kan? Jangan lupa Belajar ya! Oh iya, Mama mana?"
"Mama di luar," Sahutku. "Mau aku panggilin?"
Papa mengangguk khidmat. "Boleh sayang."
"Papa," panggilku, "Papa cepat sembuh ya! Besok aku habis UAS aku langsung kesini! Pokoknya Papa harus sembuh!" Dan aku keluar dari ruangan ini dan memanggil Mama.
#####
Setelah menjenguk Papa di rumah sakit aku dan Delima pulang ke rumah, terlihat nenek begitu khwatir dengan keadaan papa. Maklum, Mamaku adalah anak satu-satunya dan Nenekku sudah lama di tinggal oleh Kakekku saat Mama masih berusia delapan belas tahun, maka dari itu Nenekku menanggap Papaku bukan hanya menantu tetapi anak sendiri.
Lalu, Nenek mengintrogasi aku dan Delima aku hanya bisa menjawab keadaan Papa mulai membaik. padahal, menurut ilmu kedokteran yang selama ini aku pelajari jika pasien masuk keruangan HCU keadaannya adalah bagaikan buah si malakama. Dan tetangga yang menemani Nenek saat kami pergi pun memutuskan pulang setiba kami di rumah.
Sekitar jam 11 malam, aku memutuskan untuk pergi tidur. Terlihat Delima sudah tertidur karena ia kelelah terus menangis dalam taksi selama perjalan pulang. Kedua mataku begitu sulit di pejamkan. Saat jam setengah dua pagi tiba-tiba telfon rumahku berdering sangat kencang dan ini membuatku terkejut. Kuputuskan untuk keluar dari kamar sembari aku membawa boneka kelinci yang di berikan Papa saat aku berusia enam tahun dan berlari. Namun, begitu aku ingin mengakat telfon itu telfon itu mati. Aku terduduk di ruang tamu dan menunggu panggilan telfon lagi.
Selang lima menit kemudian telfon rumahku kembali berdering. Dan tefon itu dari Mama. Terdengar sekali dari telfon suara isak tangis Mama. Perasaanku mulai gunda dan tak karuan mendengar sudar isak tangisan Mama dari telfon. Lalu, mama memberi tahuku malam ini papa terpaksa masuk ke ruang ICU dan aku bagikan tersambar petir saat mendengar Papa harus masuk ICU karena baru beberapa jam tadi Papa nampak sudah lebih baik.
Dan aku langsung menutup telfon air mataku benar-benar tak tertahankan lagi. Kedua lututku sangat lemas hingga aku tak sanggup untuk berdiri lagi. Aku terduduk di atas lantai sambil menangis dan memeluk erat boneka kelinciku terus memanggil-manggil Papa. Rasanya aku benar-benar kalut.
Tiba-tiba Nenek menghampiriku yang sedang menangis. Aku langsung memberitahu bagaimana keadaan papa dengan nenek, dan nenek memelukku erat sembari menahan isak tangisnya. Aku benar-benar merasa sangat takut kehilangan aku belum siap... hidup tanpa Papa saat ini. Bagiku, Papa itu segalanya. Dia sumber semangatku dan cintaku. Di dalam otakku aku hanya ingin Papa selamat tapi, saat berada di ruang ICU mungkin harapan papa hanya setipis sehelai benang saja. Lalu, Delima keluar dari kamar dan menghampiri kami berdua yang sama-sama sedang menangis Delima nampak bingung dengan keadaan kami dan Nenek memberitahu keadaan Papa yang sebenarnya dan tangisan Delima pecah.
Delima memaksaku untuk pergi ke rumah sakit malam ini juga dan dengan bermodal kenekatan saja aku pergi bersama Delima ke rumah sakit dengan mengunakan taksi di tengah malam.
Sesampainya aku di rumah sakit terlihat beberapa keluarga dari papa pun hadir. Dan tak lupa tante Evelyne, om Martin, Narisa dan Raina anak tertua dari tante Evelyne ada di ruang tunggu ICU ini. Raina jauh-jauh terbang dari Jerman setelah aku memberi kabar denganya bawah Papaku sakit hari Jum’at. Narisa langsung memeluk Delima. Dan akhirnya mereka berdua menangis. Raina mengahampiriku dan juga memelukku ia berusaha memberi support. Raina adalah kakak sepupuku satu-satunya, karena aku tak memiliki seorang kakak maka, ia sudah aku anggap seperti kakak kandungku sendiri. Terlihat Mama sudah benar-benar sangat lemas dan kedua mata mama begitu merah karena mama tidak berhenti menangis. tiba-tiba, dokter memanggilku mama dan Delima untuk melihat keadaan Papa di ruang ICU.
Saat aku memasuki ruangan ICU tangisan Delima seketika pecah. Aku benar-benar tak kuasa melihat adikku satu-satu menangis di samping tempat tidur papa. Alat-alat mengerikan menghiasi tubuh papa. Ventilator, monitor detak jantung, selang infus, dan berbagai macam alat-alat yang mengerikan itu menghiasi tubuh papa. Aku benar-benar tak kuasa melihat papa terbaring lemat tak berdaya dengan alat-alat mengerikan ini.
Aku sering menoton drama Korea bersama Delima yang berbau tentang kedokteran, dan aku pernah melihat alat-alat ini yang sangat mengerikan juga saat aku praktek langsung ke rumah sakit semester lalu. Sungguh, aku benar-benar tidak pernah membanyangkan sekarang alat ini benar-benar sedang menghiasi tubuh pria yang sangat aku cintai.
Dokter jaga yang bertugas di ruang ICU menghampiri aku dan Mama. Ia mengantakan bahwa harapan papa sembuh hanya 5%, hatiku benar-benar teras seperti di sambar petir. Dokter itu mengatakan fungsi paru-paru papa sudah benar-benar drop karena sel kanker sudah menguasainya dan sudah menyebar keseluruh tubuh Papa. Apa? kanker? Jadi... selama ini Papa... oh, ya Tuhan jadi selama ini Papa mengidam kanker paru-paru? Dan ia tak pernah memberi tahu kami semua? Dan... aku sebagai anak kandungnya pun tak tahu tentang ini? sungguh... aku seperti anak yang sangat kurang ajar.
Mendengar hal itu emosiku mulai naik, aku langsung memaki dokter itu dan mengatakan ia tidak becus sama sekali. Dan dokter itu sempat marah denganku kami beradu mulut sedikit. mama berusaha meredahkan emosiku, setelah keadaan tenang lalu ia memberikan infom consen dengan mama untuk di tanda tangani. Ya tuhan, aku mohon selamatkan papa. Jangan ambil papa dari sisiku sekarang... aku masih membutuhkanya.
******